Lelaki Pembenci Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Pembenci Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:55 Rating: 4,5

Lelaki Pembenci Hujan

LELAKI itu berdri di pos ronda kampung dengan kaki gemetaran. Kedua tangannya bersedekap erat, menahan gigil. Sesekali tampias air hujan menyapu wajahnya. Membuat matanya berkerejap-kerejap.

Lelaki itu merutuk karena lupa membawa payung atau jas hujan walau tahu hari mendung. Tadi ia memang tak sempat berpikir panjang, karena toh ia hanya berlari beberapa puluh meter saja untuk sampai ke warung Lik Kirun.

Tablet penurun panas yang baru saja ia beli dari warung masih di saku. Angin kembali bertiup membawa rasa beku. Suasana bertambah gelap, namun ia tak tahu jam berapa saat itu, karena neon di emperan tak menyala. Bayangan Sumi, istrinya terlintas di kepalanya.

Terbayang istrinya meringkuk di balik selimut sembari menahan demam. Tadi sebelum pergi, ia sentuh dahi dan lehernya terasa panas. Saat ia pergi tadi, ia tahu anaknya yang masih dua tahun tertidur pulas di ayunan.

Dan kini, ia masih berdiri di gardu ronda itu sendirian.

Ilustrasi karya Joko Santoso
Hari semakin gelap dan hujan semakin deras. Angin datang berputar, membuat pepohonan terombang-ambing dengan hebatnya. Lelaki itu tak bisa melihat dengan jernih, selain karena tak ada lampu, jarak pandangnya terhalang tirai hujan yang menebal. Lelaki itu berpikir, apa ia akan menembus hebatnya hujan? Atau ia harus menunggu sendirian di tempat itu?

"Ke mana orang-orang?" keluhnya dalam hati.

Ia jelas-jelas ingat, gardu ronda tempat ia berdiri berada tak jauh dari rumah-rumah penduduk, yang tak lain tetangganya sendiri. Ia juga tahu, neon yang terpasang di emperan gardu itu stromnya diambilkan dari rumah Pakdhe Joyo, tepat di belakang gardu ronda itu.

"Tapi ke mana orang-orang? Kok tak ada satu pun yang kehujanan di jalan dan berteduh di gardu ronda ini?" teriak lelaki itu, yang tiba-tiba merasa begitu kesepian.

Dalam diamnya, pikiran lelaki itu mengembara. Lalu ia teringat istrinya, ya, terutama dirinya yang selama ini tersiksa oleh sikap wanita itu. Kalau saja istrinya tidak sakit seperti ini, tentu lelaki itu yang akan merasa sakit hati oleh sikapnya.

Membayangkan sikap istrinya, membuat lelaki itu lebih suka sendiri dalam hujan seperti ini. Yah, kesendirian seperti ini, ia merasa seperti terbebas dari tekanan. Semua itu berawal dari PHK dari pabrik tekstil tempat lelaki itu bekerja dulu.

Pisau PHK membuat lelaki itu limbung kehilangan pegangan. Tanpa keahlian dan modal, lelaki itu bekerja serabutan. Terkadang menawarkan motor, mobil, tanah, atau apa pun yang dapat dijual. Komisi yang ia peroleh tak tentu besarnya, tapi lebih sering tak cukup untuk mengepulkan asap dapur.

Saat itulah istrinya turun tangan, bekerja apa saja asal halal. Mulai dari mencuci hingga memasak untuk tetangga kiri-kanan. Untung banyak yang suka dengan masakan Sumi. Hingga suatu ketika juragan Karso yang seorang duda meminjaminya modal tanpa bunga untuk membuka warung.

Lelaki di gardu ronda itu tak berdaya meski sebenarnya hatinya dibakar api cemburu. Rupanya, tangan dingin Sumi dan suntikan modal dari sang duda membuahkan hasil. Warung makannya berkembang pesat. Dan lelaki itu tetap saja terpuruk sebagai suami pecundang. Kehidupan ekonomi keluarga lelaki itu memang membaik, tapi tidak untuk kehidupan batinnya. Ia merasa sebagai lelaki paling menderita di bawah bayang-bayang istrinya.

***
Hujan masih turun dengan lebat, dan lelaki itu terkurung sendirian di dalam gardu ronda. Namun diam-diam, dalam kesendirian lelaki itu merasakan sebuah kebebasan. Ia tahu saat ini istrinya berharap dirinya segera pulang membawa obat untuknya. Dada lelaki itu mengembang, merasa puas membayangkan istrinya berharap-harap padanya.

Karena itu ia berharap hujan turun lebih lama dan semakin deras, karena hanya dengan cara itulah ia punya alasan untuk tidak pulang. Dalam hitungan menit, lelaki itu merasa demikian mencintai hujan. Lalu ia merentangkan kedua tangannya, kedua matanya terpejam. Ia menyerahkan diri sepenuhnya pada hujan. Tubuhnya terasa terayun-ayun berputar dan ia menikmatinya, teringat sewaktu kecil naik ombak banyu di arena pasar malam.

Lalu seperti mimpi, lamat-lamat didengarnya suara bertalu-talu. Semakin lama semakin jelas. Seperti suara kentongan ditabuh bertalu-talu. Suara itu lambat-laun membuatnya tersadar dan matanya terbuka. Kedua mata itu berkerejap-kerejap menahan pedih oleh air hujan. Dan suara kentongan itu semakin riuh terdengar.

"Tanah longsor! Tanah longsor!"

Saat lelaki itu benar-benar terjaga, tiba-tiba ia teringat istri dan anak-anaknya. Seperti punya kekuatan berlipat, lelaki itu melesat menembus lebatnya hujan. Hanya satu yang ia tuju, rumah. Kerinduan akan istri dan anaknya memuncak. Sampai di depan halaman ia tertegun.

Rumahnya dan beebrapa rumah tetangganya telah berubah menjadi timbunan tanah. Orang-orang berlarian ke sana kemari dalam kebingungan sembari berteriak, memanggil dan meratap. Lelaki itu terpaku dengan lutut gemetar, lalu jatuh tersimpuh. Air hujan telah bercampur air mata. Perasaan lelaki itu berubah seketika: ia sangat membenci hujan. [] -k

Solo, 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamdani MW
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 12 April 2015

0 Response to "Lelaki Pembenci Hujan"