Lukisan Untuk Tuhan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lukisan Untuk Tuhan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:53 Rating: 4,5

Lukisan Untuk Tuhan

IA goreskan kisah cinta dan kepedihannya sama eloknya. Sebuah lukisan yang kata seorang kurator kondang tampak indah, mengalir bagai irama musik yang merdu dengan pilihan garis serta pilihan tata warna terkesan misterius dan mistis. 

Sebuah lukisan indah dengan garis waktu yang detail dan menawan. Lukisan itu demikian hidup di mata penikmatnya. Tidak hanya itu, ia bisa bercerita banyak hal, mengikuti suasana batin penikmatnya. Tentu, ia memang seorang maestro seni rupa yang mampu memainkan perasaan penikmatnya sesuai suasana hatinya masing-masing. 

”Lukisan yang dibuat dengan sepenuh perasaan hati, memang akan merasuk ke dalam hati!’ ungkapnya lirih, memberi pledoi dan apologi atas kredo seninya. Namun meski lirih, ia mengucapkannya dengan mantap dan pasti sambil jemari tangan kanannya yang lentik, menarikan kuasnya di atas kanvas. Sesekali tangan kirinya menarik sebatang rokok putih yang menyala di atas asbak, kemudian menghisapnya dalam-dalam. Seakan asap putih yang masuk ke kerongkongannya membuat jajaran garis-garis imaji liar di atas kanvasnya. 

Bibirnya yang tipis menghitam serta rambutnya jarang terkena sisir, kian menegaskan identitas kesenimannya. Cuek, acuh tak acuh! Tampaknya sejak remaja memang genit serta sedikit ugal-ugalan. Itu pulalah yang membuat tidak sedikit lelaki yang malas-malasan untuk mengajaknya naik ke pelaminan. Meski sesungguhnya ia memiliki daya tarik seksual luar biasa! 
Ilustrasi oleh Joko Santoso

Konon, banyak lelaki bilang, perempuan tipe demikian, hanya layak dan enak untuk diajak bercinta. Tetapi tidak untuk dicintai! Atau katanya diajak naik pelaminan. Dan tampaknya ia juga mengerti dan sadar betul akan hal itu. Maka pilihan untuk melajang, hanya bergulat dengan kuas, cat dan kanvas telah ia tetapkan. ”Keturunanku atau anak-anakku adalah karya-karyaku. Itulah yang akan dikenang semua orang dan akan memanjangkan memori akan namaku!’ Katanya di suatu kesempatan, saat memberi sambutan pada pameran tunggalnya, renyah dan terkesan ringan, dingin dan cengengesan. 

Yang paling menggetartakjubkan setiap kali memandang lukisan-lukisan dari perempuan tua yang hidup sebatang kara sepanjang hidupnya itu, adalah kekuatan ekspresinya yang paling mendalam. Semua kritikus seni berujar , bahwa ia memang seorang ekspresionis sejati, yang dimatangkan oleh pengalaman dan kepedihan hidupnya. 

Tetapi bagi Laksmi, demikian nama pelukis itu biasa disapa dan senantiasa memberi inisial ‘eleksm’ dalam setiap lukisan-lukisannya, tak pernah terusik, risau dan peduli dengan apa yang dibilang kritikus. Karena ia memang tidak pernah memikirkan terlebih dahulu setiap apa yang akan dilukisnya. ”Demi hatiku mulai berdzikir mengagungkan asma dan cinta ilahi dan demi ada aliran hawa hangat merasuk ke sekujur tubuh dan perlahan mulai menggerakkan jari jemari tangannya, di situlah aku mulai melukis’ Tukasnya, dalam satu wawancara dengan seorang wartawan koran lokal yang memaksanya untuk mengutarakan alasannya melukis. Meski ia sendiri kurang suka dengan aktivitas wawancara dan sejenisnya. 

”Jadi...?’ 

”Betul, saya selalu telah menyiapkan kanvas, kuas, cat dan uba rampe melukis lainnya di sanggar kerja sekaligus kamar pribadiku. Di tempat ini pula hampir seluruh aktivitas hidupku berlangsung. Salat, berbuka, berzikir , bahkan sampai ketiduran. Ya, kecuali mandi, wudlu dan ke kamar kecil’

”Berbuka? Jadi ibu selama ini selalau berpuasa?’ 

”Tidak selalu. Tetapi aku menjalankan puasa Daud. Sehari puasa sehari tidak. Karena ajaran agama melarang orang puasa abadi. Meski begitu, ketika hari mengharuskan aku tidak berpuasa, aku hanya menyediakan air putih dan beberapa camilan kecil dan baru makan besar, selepas magrib tiba!’. 

”Benarkah rumor yang menyatakan bahwa sewaktu muda, untuk memulai satu karya ibu, memulainya dengan menjalani ritual khusus-- maaf, sekali lagi maaf - seks bebas?’ 

”Apakah perlu aku jawab!?’ 

”Maaf, jika tidak keberatan!’ Kata wartawan yang justru tersipu gelagapan. 

”Jangan suka memancing!’ Katanya genit menggoda ”Setiap orang punya jalan dan cara hidup sendiri. Demikian juga aku, apa yang aku lakukan di masa muda sebelum mendapatkan pencerahan. Rasanya tidak ada yang istimewa dan sah-sah saja. Semua orang mengalami dan memiliki pengalaman pribadinya masing-masing’ 

”Tetapi maaf bu, sekali lagi maaf! Dahulu sebelum aku menjadi wartawan seni budaya, aku mendengar rumor santer mengenai hubungan ibu dengan pejabat teras negeri ini yang jadi gunjingan menghebohkan!?’ 

”Ah, masa lalu itu? Mengapa harus bertanya masa lalu?! Jawabnya datar dan tenang. ”Masa lalu adalah nostalgia dan buah rindu. Janganlah bertanya masa lalu jika hanya akan teringat penyesalan dan tak punya harapan. Rentangkan langit imajimu sejauh engkau mau, di sana cakrawala pandang terbentang dan kepicikan hilang!’ 

”Jadi...?’ 

”Sudahlah...!’ Laksmi, perempuan pelukis yang usia kian menanjak renta itu memotong pertanyaan wartawan dengan sigap, tapi tenang. Seraya ia mengajaknya masuk ke ruang pribadinya, yang memajang koleksi karya- karya pribadinya yang tak pernah ia pamerkan ke khalayak. Dan betapa terkejutnya sang wartawan. Ia terpana, terbengong kamitenggengen. Bukannya ia mengarahkan kamera un - tuk memotretnya, seperti biasanya kerja kuli tinta. Tetapi mendadak ia disergap gairah cinta yang menyala- nyala dan meluap-luap. Mendadak ada kekuatan magis dan mistis yang mendorong siapapun yang memandangi lukisan potret diri sang pelukisnya sendiri sewaktu masih muda yang maaf tanpa sehelai benang itu untuk memeluk, mencium, melepaskan hasrat-hasrat purbawi kemanusiaan hingga terlena dan tak sadarkan diri dalam beberapa waktu lamanya. 

Laksmi, mengetahui betul apa yang terjadi pada diri orang-orang yang melihat koleksinya di ruang pribadinya itu. Demikian semua orang yang melihatnya akan mengalami hal yang sama. 

Laksmi, tidak tega membiarkan wartawan itu berlama-lama meraung, meratap dan nglumpruk tak berdaya dalam keringat dingin yang basah mengkuyubi tubuhnya di ruang pribadinya itu. Seraya ia menuntunnya ke luar . Setelah menyodorkan air putih dan menenangkan jiwa dan perasaan sang wartawan, seraya ia berujar ”Sepuluh tahun lalu, lukisan itu pernah ditawar 1,5 Miliar!’ 

”Satu setengah mil....?’ Reaksi wartawan bengong laksana sapi tercokok hidungnya ”Harga lukisan sekalu menjungkirbalikkan akal sehat, apalagi bagi kelas menengah ke bawah seperti diriku?!’ pikirnya wartawan dalam hati. 

”Mengapa terdiam dik?’ Sela Laksmi datar ”Anda pasti terpikir, mengapa tidak dilepas?’ 

”He eh....!’ kata wartawan terbata 

”Lukisan itu khusus kupersembahkan untuk Tuhan!’ Jawab Laksmi enteng dan tenang. 

Wartawan itu kian terbengong omong! Yang membuatnya ia tak habis mengerti, sepanjang karier jurnalistiknya, sekali pun ia tidak pernah mampu membuat laporan tentang lukisan koleksi pribadi Laksmi, meskipun ia telah berkali-kali mencobanya, hingga terdengar berita duka akan kematiannya. Yang juga membuatnya tak habis mengerti, ia juga tidak tahu siapa yang mengoleksinya. Rumor menyatakan lukisan itu raib sepeninggal pelukisnya. [] - o 

Yogyakarta, 2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Otto Sukatno CR
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 19 April 2015

0 Response to "Lukisan Untuk Tuhan"