Museum - Pamflet - Membunuh Lembu - Mantra Ketiga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Museum - Pamflet - Membunuh Lembu - Mantra Ketiga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:35 Rating: 4,5

Museum - Pamflet - Membunuh Lembu - Mantra Ketiga

Museum

Di sini, perempuan hitam itu masih tertanam
pada umpak putihnya. Perempuan yang mengenal
pohon, batu api, rahang gua dan bayang
bayang sendiri. Perempuan yang bekerja
dalam gelap, membentuk tubuh sendiri
dari lempung dan mengembuskan mantra
di ubun-ubun: "Barang siapa melupakan huruf
dan tanda pada tembikar ini, maka ia akan mati."

Tapi tak ada yang mati di sini.
Tak ada yang bisa diingat dan dilupakan
pada huruf dan tanda pada prasasti.
Tak ada rajah pada lumpang dan kapak
tulang-tulang. Tak ada tulah pada besi
dan kuningan. Hanya musim bertemu musim,
memberkati biji-biji sebagaimana mestinya.

pada hari yang lain, ia temukan unggas, kunci besi,
nisan, tungku, bejana tanah, dan denah kota mati
dengan bukit dan lereng-lereng merahnya.
Lalu rumah-rumah dan jalan setapak.
Hujan di atap rumah-rumah
dan kabut setelah hujan.

Ia temukan juga laki-laki yang tegak
pada menara, wajahnya rontok oleh berkas
cahaya. Lalu anak-anak, dengan tubuh dan wajah
tembikar juga, berkerumun di ruang segi empat,
dalam duduk, berdiri, dan berbaring,
di antara gerak ramping patung-patung
batu dan percakapan lirih boneka perunggu.

Di depan altar ia rasakan ketakutan
prajurit-prajurit kayu itu, mengusap kening
sendiri dan mengucap baris-baris dari halaman
berganda talkin dan primbon.
Kata-kata yang disucikan, pada ratapan diam,
segaris dari segaris, membubung dan terlepas
dari jangkauan waktu.

Tanpa udara, cahaya menyala oleh benda
benda dengan sudut-sudutnya tajam.
Benda dan kata-kata, diam pada saatnya,
seperti cangkang putih di antara cermin
dan kisi-kisi timahnya. Benda dan kata-kata
yang terjangkau mata,sudut runcingnya
melukai ujung jari, pedih dan berdarah.

Di sini, benda dan kata-kata adalah daging waktu.
Darah dan daging waktu. Ketika gerak dan bunyi
telah menggenapi bentuknya sendiri.

2015

Pamflet

50 tahun kemudian, pada tembok hangus itu
masih ada sisa poster dengan kepalan teracung
ke angkasa. Masih terbaca coretan cakar ayam
yang pernah ia bubuhkan dengan tergesa:
"Mereka yang setia pada lapar
adalah kaum revolusioner."

Kata-kata itu kini tampak konyol dan menggelikan,
bahkan berlebih-lebihan. Tapi masih ia saksikan
orang-orang yang berangkat pagi buta, menempuh rel
dan roda, mengusug tubuh kering tulang-tulang
pada deru dinamo dan logam dan balok kaca.

Ia ingat seseorang pernah membuat nujuman:
"Mereka yang ditindas akan bangkit
dengan palu besinya, ketika lonceng pabrik
tak kedengaran lagi."

Tapi, di sini, tak ada lagi kabar orang-orang
yang mencuri bantalan kursi, sepatu bot
dan mantel kusam. Tak ada kisah pekerja
malam yang memuntahkan dahak hitam
saat menghitung recehan terakhir.

Tak terdengar lagi kabar orang-orang
berparas merah yang mengacungkan sabit
di antara antrean sedekah dan deretan nisan
dari galian mayat dan tabel kumuh cacah jiwa.

Di sini, 50 tahun kemudian, masih ia saksikan jam
bergerak lamban. Ia dengar langkahnya sendiri
di lorong itu. Ia rasakan nyeri pada pinggul,
bergeser di bangku dan trotoar basah.

Dengan rasa getir yang sama, ia hapus coretan itu
lalu menuliskan: "Tabik pada mereka yang bertahan
pada risalah merah. Mereka yang mengenal komune
hingga tak pernah mati oleh dusta kitab suci."

2015

Membunuh Lembu

Sebelum fajar terakhir, ia rampungkan lembu
betina. Pada punggung logam dan luka menahun
cambuk sendiri, ia bangkitkan tulang-tulang
dari hari-hari terang dan hari-hari gelap.
Pada tubuhnya ia tanam tiang dan roda
dan bayang-bayang prajurit juga.

Orang-orang pernah menamainya Andini,
mungkin Nandini, dengan merah dan hitam
secukupnya.

Sepuluh musim ia mengabdi pada tuannya,
hingga matanya jadi buta. Sepanjang malam
ia tempuh padang dan duri, karang dan api.
Ia bawa juga jantung si tuan yang hangus
oleh dendam dan kutukan.

Tapi, pada saatnya, ia akan kembali pada tanah
dan rongga-rongganya. Ia terima birahi sendiri,
sebagaimana padri yang mereguk air
sucinya sendiri.

Pada saatnya, ia pangkas tali pusarnya juga,
lalu berpacu pada angin dan wabah, memburu isyarat
dan sisa gema dari segala yang tumbang, nikmat rajam
dan anyir darah ranjang masa silam.

Tapi ia telah gagal membunuh sang tuan.

Ia tak ke mana-mana. Ia telah terikat di rumah jagal ini.

Maka, ia bersihkan juga luka lembing di lambung
sembari membayangkan seseorang akan datang
menyempurnakan cacat wajahnya,
membubuhkan paras keemasan
pada sihir kegelapan

Ia tak berani meminta padang, atau kandang
seluas dunia. Karena ia tak sanggup memasuki
ketakutannya sendiri. Karena fajar telah usai
oleh kebutaan abadi.

2014

Mantra Ketiga

Sebagaimana mestinya, malam itu, pada jasad
yang meminta, aku embuskan mantra hitam
masa silam. Belukar pun rebah dan api susut
dalam relung-relungnya. Pada langkah ketiga,
benteng itu melesak ke dalam tanah.

Aku pun naik ranjang kekasih
yang bersiap pada cermin
dan nanah di rahimnya.
Mungkin untuk saling mencinta,
atau meminta, birahi pada kematian.

Sebagaimana mestinya, seseorang akan datang.
Seseorang yang mengaku kembaranku,
meniupkan kata-kata juga, pada wajah putih
kanak-kanak yang memandang kejatuhannya
sendiri. Bola matanya sendiri.

"Jangan rindukan lagi orang tua
yang menghisap tubuhmu hingga tumpas."

"Aku tahu, jantungnya telah luruh di genggaman,
hingga kurasakan denyut nadi sendiri."

"Tapi segalanya akan hangus oleh tatapanku."

Aku pun tak lagi sembunyi pada tiang dan tembaga.
Aku masuki anting-anting dan tusuk konde kekasihku.

"Sesaplah susuku dan rasakan mautmu."

"Aku telah menunggu seumur hidupku."

Aku masuki tubuh itu. Aku rasakan harum leher itu.
Aku rasakan kesetiaan itu, dusta itu. Keabadian itu.

"Embuskan kembali sajak-sajak dalam rabuku,
hingga rajah gelap itu lenyap dari dahi kanak-kanakku."

"Hingga bayangan kita susut oleh lampu ari-ari."

"Hingga kita nyalakan debu ini."

"Dan kita kekalkan kafan ini."

"Dan kita tanam rambut dan jarum-jarum matahari."

Maka, sebagaimana mestinya, malam itu,
kita berkati segala gerak pada sendiri.
Kita masuki tubuh sendiri, maut kita sendiri.
Juga sunsum dan harum daging sendiri.
Tak ada birahi. Tak ada ngungun di sini.

2013


Wicaksono Adi lahir 18 September 1966. Ia menulis ulasan seni rupa, sastra, dan seni pertunjukan, serta menyunting beberapa buku seni. Ia tinggal di Jakarta.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wicaksono Adi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 26 April 2015

0 Response to "Museum - Pamflet - Membunuh Lembu - Mantra Ketiga"