Naviri 1 - Naviri 2 - Mayat Sepi - Kita Punya Musim Lain | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Naviri 1 - Naviri 2 - Mayat Sepi - Kita Punya Musim Lain Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:55 Rating: 4,5

Naviri 1 - Naviri 2 - Mayat Sepi - Kita Punya Musim Lain

NAVIRI 1

kopi panas di cangkir takkan berhenti di batas hangat
kukus ngengat sebab belum pupus cakap
belum usai dekap, panas ke dingin
dan pikir kita menggigil ingin

di hadapan kopi
kita dedah dunia di antara kepul rokok berasap
dan nanar jiwa yang lunta mencari diksi
kita dedah pikiran yang bercak di rak-bangku perpustakaan
dan pikiran nakal para cendekiawan

atau seperti pesakitan yang sekarat
kita cari obat dari selasa sampai ahad
tapi apotik buka hari senin ketika senja mengajak malam untuk berdebat
tentang lagu-lagu suntuk yang terantuk-antuk
dengung music, sajak-sajak yang tak sabar dibacakan
tentang cerita fiksi dan film kenyataan yang disamarkan

di jeda kita mencari alasan
di jeda lain mencari kenikmatan
menghitung seberapa benci kerinduan
kepada jumlah cinta yang tua
dan kita mudakan kembali di wajah langit pagi

kopi panas di cangkir takkan berhenti di batas hangat
sekukus ngengat sebab belum pupus cakap
belum usai dekap, panas ke dingin
dan pikiran menjadi ingin

NAVIRI 2

seketika gelap menyelinap sorot mata
seandainya senja bukan di bumi kita
juga langit tak lebih tinggi dari cahaya
yang belum rampung kita baca

barangkali seandainya tak lagi seandainya
ketika kita belajar bersama buku-buku terbuka
bukan membaca juga tak mengeja
tetapi kaki menapak
lorong-lorong memori yang jejak
pada batas tahu di bercak otak

mungkin segala yang tak mungkin kita bikin nyata
mungkin segala yang tak nyata kita batasi dalam jeda
ketika lakon keluar dari panggung drama
ada realita meminta makna

tetapi ini senja di bumi, kawan
bagaimanapun pertunjukan hanya rekaan
bila drama telah usa, para penonton
hanya boleh bertepuk tangan

barangkali seandainya tak lagi seandainya
suatu saat nanti kita kan mampu jua
memindah luas ini dunia
ke lubuk sempit kata-kata

MAYAT SEPI

1
aku bukan dia yang mati di dalam pembakaran
tapi aku mayat di dalam sepi
menanggung berat kesunyian
dan pahala pada sebuah diam

jika waktu terlalu silau memandang rembulan
maka bacalah deritaku di antara lubang dada
huruf-huruf tereja bersama
nyanyian jantung rentap

2
aku bukan dia yang mati membawa api
tapi aku mayat di dalam janji
yang disulut matahari
menggantung mimpi
di dalam langit pikiran

jika ruang terlalu sempit buat menumpahkan isi hati
maka keluarlah dari angan
kepada harapan demi harapan
sampai kata-kata akan tersemat kala senja
terlalu berat untuk tenggelam


KITA PUNYA MUSIM LAIN

kita akan punya musim yang lain
yang belum cukup hujan kemarau
belum tentu semi gugur
akan ada jeda
hening
ketika
tiada lagi wangi selain bunga-bunga
yang terhenyak menikmati semerbaknya sendiri
dan daun menghijaukan kering tubuhnya yang sepi

kita akan punya musim yang lain
saat kejenuhan berbaring di kamarnya
dan waktu berbeda kan terjaga
dari usik tidur lelap yang lama
menjadi kehidupan nyata
di alam mimpi-mimpi

PALAKTAON

langit kelabu
seumpama abu-abu tungku merakit lagi tubuh kayu
ranting-reranting berdebu
lupa daun kering di lumbung kesendirian masa lalu

palaktaon berkaki pemburu
mengejar angin bergulung-gulung ke ufuk mencari kembali pancaran biru
dari lembah dari bukit memusar kerontang mendaki perdu lalu benalu
lalu redup namun geraknya seumpama sinar surya
membawa tinta warna restu doa
seucap umpat ibu cecap mulutnya mengutuk batu
mengutuk puyuh dalam seruak serbuk-serbuk tungku

hujan berputar mengirim bala karma dari silam
abu-abu basah jadi lumpur lalu terkatung mematung redup malam
langit kelam, warna angkasa tak bisa dibungkam
mengerutkan dahi kering remuk terhantam
dan rindu terbakar kemarau di langit hitam
dan waktu terhenti dalam pekat dan dendam

2015

*) Raedu Basha, Mahasiswa S2 Ilmu Antropologi Budaya Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Gadjah Mada. Lahir di Sumenep, 3 Juni 1988.
Bukunya: Matapangara (Puisi, 2014) dan The Melting Snow (Novel, 2014).
Penerima ‘Anugerah Sastra UGM 2014’ sebagai pemenang Lomba
Penulisan Puisi Fakultas Ilmu Budaya UGM (2014)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 26 April 2015

0 Response to "Naviri 1 - Naviri 2 - Mayat Sepi - Kita Punya Musim Lain"