Pagi - Sore - Fraktal - Kisah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pagi - Sore - Fraktal - Kisah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:39 Rating: 4,5

Pagi - Sore - Fraktal - Kisah

Pagi

Dengan rona merah yang sempurna basah
Kembang sepatu runduk bagi hujan pagi

Kutilang mengibaskan ekor di dahan kluwih
Bercak matahari di jubah cuaca yang hampir putih

Di antara tenang yang basah ini
Di batas tentram dan sepi begini

Puisi hanya sisa gigil di kelopak gandasuli
Dingin yang sebentar menghembur lalu pergi

Sanur, 20-01-15

Sore

Ombak dari ribuan sungai yang gelisah
Kilau emas dari matahari yang berkeping
Belulang kukuh sepi
dihempaskan dari tengah
Remuk-rebah
di sepanjang pantai asing

Rindu hanya kapal tanpa layar dan sekoci
Terus menekan-mendesak menjauhi tepi
Ke pusat kecamuk,
dengan sepasang gentar kaki
Merentang lagi,
meregang kembali,

menuang garam ke luka malam.

Sanur, 20-01-15

Fraktal

Entah dari mana ikan ini berasal
Di pasir pantai Sanur, terbujur
Belulang kesepian, karang yang sempal

Kalau malam datang nanti
Akan ada selimut dari lumpur

Sekarang, ia milik cahaya kuning sore ini
Cahaya yang pernah membuat sisiknya berkilau
Cahaya yang ia tinggalkan menuju gelap kedalaman
Dan di sana ia menemukan laut
Laut yang tak terbayangkan oleh pantai
Tak terperikan oleh sisik yang mengelupas dan daging terlepas
Abai dari kebahagiaan teman-teman pengagum permukaan
Belulang yang putih semata
Putih yang tanpa cela

Tetapi milik siapakah ia?
Pantai, malam, lumpur, atau samudra?

Sanur, 22-01-15

Kisah

Maafkan, bila saya telah membuatmu - dengan kebetulan
atau terpaksa - membaca sajak ini. Sajak yang tak pernah
terasa sebagai sajak. Saya mungkin dimaksudkan sebagai
gambaran tentang dirimu atau dirinya. Bisa saja bukan
siapa-siapa juga bukan apa-apa selain angan belaka. Sejak
dituliskan dan dikirimkan kepadamu atau sesiapa saja, saya
tahu bahwa kami, saya dan sajak ini, akan kembali pada dia
dengan wajah yang penuh bekas ciuman dan tubuh yang
lungkrah menerima sejumlah pelukan, karena rasa haru
yang kami berikan kepadamu. Lalu semua itu membuatnya
merasa gemilang. Namun tak jarang kami pulang compang
camping, rombeng, dan nyaris frustasi akibat cercaan atau
tak satu pun darimu yang peduli. Hal seperti ini pasti akan
membuatnya cemas dan mengurung diri berhari-hari.

Harus saya katakan bahwa dia sangat menginginkan kau
akan menerima kami penuh suka cita, seolah kami adalah
kekasih atau anakmu yang lama hilang. Setiap hari, setiap
saat, dia menjadi seorang yang berdiri di luar bilikmu dan
dengan cemas menanti, kalau saja kau sudi memanggil dan
membukakan pintu agar kami bisa menjadi tamu di ruang
batinmu.

Lalu akhirnya saya lelah, saya tak lagi sanggup menghuni
ruang sesak kata yang ia ciptakan dengan susah payah
semata agar saya bisa kau temukan dalam sajak rumpang
ini. Meskipun sesekali masih mencoba memandang ke
dalam bilikmu dari sekadar celah pada pintu yang lupa kau
rapatkan. Melihatmu di sana, dalam remang atau cemerlang.

Saya mohon restumu untuk membereskan kisah ini. Kau
mungkin merasa "asing" dan bertanya-tanya siapakah saya.
Saya adalah Aku. Demikian penulis sajak ini menamai
saya. Sisi yang paling banyak menanggung sayatan.
Dicampakkan ke jurang terdalam agar kau tak
mengenalinya. Tapi pada saat lain ia cemerlangkan dengan
cahaya. Kini ia mempersilakan saya tampil bicara ke
hadapanmu dengan seluruh cidera yang telah saya
tanggungkan. Maafkan, bila saya terasa sinis, atau apa pun
yang mungkin tak kau suka. Sebab saya hanyalah jubah
yang selalu dikenakannya setiap menemuimu.

Saya juga adalah segala ihwal yang sering kali mengancam,
mengukuhkan atau melemahkanmu tanpa kau sendiri
menyadarinya. Tapi saya memang sangat mengasihimu ,
dengan cemas dan penuh luka, tentu. Tapi ia tak akan
membiarkan saya terlalu lama bicara. Karena itu, saya akan
tetap menyisi ke jalan lain. Tak jauh dari tempatmu kini,
dalam gelap, di wilayah yang tak dapat kau temukan dan
tak akan kau idamkan.

Januari, 2014

Iswadi Pratama lahir di Tanjungkarang, Lampung, 8 April 1971. Buku puisinya Gema Secuil Batu (2008).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iswadi Pratama 
[2] Pernah tersiar pada surat kabar "Kompas" 5 April 2015

0 Response to "Pagi - Sore - Fraktal - Kisah"