Patung Pristy | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Patung Pristy Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:55 Rating: 4,5

Patung Pristy

PRESIDEN Pristy Krozchac merasakan tubuhnya sangat ringan, melayang, setelah jantung dan otaknya dipompa berbotol-botol alkohol. Siaran breaking news di layar televisi tentang pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak terdengar sayup-sayup. Pandangan mata Presiden yang mendadak kabur pun tak lagi sanggup menyaksikan wajah-wajah luka orang miskin yang sedang diekspose kamera.

Langkah presiden terhuyung mendekati wastafel. Beberapa saat kemudian terdengar suara orang muntah. Para pembantu presiden mencoba mendekati dan memberikan pertolongan, namun presiden menolak.

”Kepalaku sudah mulai ringan... Aku tadi habis berapa botol?” ujar presiden.

”Hampir tujuh,” jawab seorang pembantu berkepala botak. Presiden pun tersenyum. ”Kalian tak tahu, aku habis dua belas botol...”

***
Ilustrasi karya Joko Santoso
Hampir tak ada wajah tak terbakar . Hampir tak ada mata tak menyala merah. Hampir tak ada. Orang-orang berbondong-bondong bagai ribuan laron keluar dari liang-liang kota dan desa. Dengan senjata apa saja. Pacul. Parang. Kapak. Pedang. Linggis. Atau potongan besi. Mereka bergerak menuju pusat kota Hoax. Tepatnya di Taman Kebebasan. Suara mereka membahana. Bergelombang. Sulit dicerna isinya. Tapi, mereka marah. Ribuan tanda seru tumbuh di kepala mereka. Niat mereka sama: menghancurkan patung Pristy Krozchack, presiden Republik Blauwuzth.

Sampai di Taman Kebebasan mereka di hadang ratusan polisi dan tentara lengkap dengan senapan dan bayonet. Beberapa tank pun sudah siap. Juga pasukan berkuda dan anjing-anjing ganas dan buas. Kontan ratusan bahkan ribuan demonstran menghentikan langkah, tapi kemarahan masih menyala di wajah-wajah terbakar. Mereka merapatkan barisan, saling berpegang tangan. Lalu membentuk komposisi lingkaran. Mereka bergerak. Merangsek. Menekan ratusan polisi yang berdiri membentuk pagar betis.

”Hoolloowbeesss koontuuulll bbarriiieesss.... Hoolloowbeesss koontuuulll bbarriiieesss....  Hoolloowbeesss koontuuulll bbarriiieesss!!!.” teriak demonstran kompak.

”Hackke... uuulllhaaa baannyoooo... Hackke... uuulllhaaa baannyoooo... Hackke... uuulllhaaa baannyoooo... Hackke... uuulllhaaa baannyoooo... Dzalland ghedheeee woooottte luuunnyooooo!!!” jawab ratusan polisi dan tentara, menahan tekanan massa. Senapan-senapan menyalak. Bom air mata meledak. Asap putih menguasai Taman Kebebasan. Di balik kabut tebal yang memerihkan mata itu,
para demonstran merangsek. Mereka tahan terhadap berbagai pukulan. Banyak demonstran yang bocor kepalanya atau punggungnya robek disayat bayonet. Ada pula yang tumbang bermandi darah. 

”Hoolloowbeesss koontuuulll barriiieesss.... Hoolloowbeesss koontuuulll bbarriiieesss.... Hoolloowbeesss koontuuulll bbarriiieesss!!!.” teriak demonstran kompak.

Para polisi dan tentara ketakutan melihat ‘ketabahan’ para demonstran yang tak menyerah atau keder dipukul mundur , meskipun pukulan dan tikaman bahkan tembakan telah berulangkali dilakukan hingga mereka capek. Takjub. Para polisi dan tentara menganggap para demonstran memiliki nyawa rangkap. Bahkan ada yang menduga orang-orang yang sedang dipukuli itu adalah para simulan atau
orang-orang dari negeri gaib.

”Maju!!! Maju!!!” teriak komandan lapangan penghalau kerusuhan.

”Mau maju ke mana komandan! Sudah pol.!” Teriak seorang polisi.

”Ya maju! Pokoknya maju! Tunjukkan, kita tak bisa dikalahkan!”

”Sebaiknya komandan saja yang maju sendiri. Kami takut!”

”Oooo dasar mental kerupuk!” Sang komandan berusaha maju. Namun mundur lagi,”Ya...kurasa mereka itu bukan manusia. Sudah kita mundur saja. Munduuurrrr!!!”teriaknya. Pasukan pun mundur dengan langkah kalang kabut.

***
Patung Presiden Pristy Krozchac yang semua berdiri gagah, kini telah tumbang. Pada demonstran menghajarnya dengan berbagai senjata hingga patung itu remuk, luluh lantak, menjadi kepingan, serpihan dan remah-remah cor logam.

”Selamat tinggal pemimpin bohong!” teriak seorang demonstran dengan wajah terbakar. Orang-orang
bersorak-sorai. Menggenggam kemenangan.

***
Di ruang kerjanya, Presiden Pristy Krozchack melihat semua adegan itu melalui televisi. Napasnya tertahan. Dadanya terasa sesak. Berulang kali ia mengusap keringat di kening dan wajahnya. Dia tersenyum. Pahit. 

”Tuan Presiden tidak marah? Ini sangat keterlaluan. Bagaimana pun presiden adalah simbol negara yang harus dihormati.... Kita harus tangkap para demonstran itu...”ujar Menteri Keamanan dan Pertahanan jenderal Blagadhaz galau.

”Untuk apa marah? Rakyat lapar. Dan kita tak bisa kasih apa-apa selain retorika. Biarkan saja. Biarkan mereka puas,” ujar sang presiden kalem.

”Tapi mereka itu anarkhis, Tuan...”

”Anarkhi dibutuhkan demi katarsis. Biarkan rakyat lega. Paham?”

”Tapi patung itu...simbol itu...”

”Ongkos bikin patung jauh lebih murah daripada menembaki atau memenjara para demonstran. Yang
praktis-praktis saja, jenderal!”

”Tapi ini soal harga diri. Martabat, Tuan...” Tangan presiden memencet remote tv. Off. Senyum sinis tergores di wajahnya.

***
Wajah presiden tampak tegang. Ada bergumpal-gumpal kata yang hendak dimuntahkan dari mulutnya, namun tertahan. Berulangkali tangannya menggebrak meja. Para penasihat dan para bebotoh presiden pun kaget. ”Kalian telah menjebak aku di lubang hitam! Black hole sialan! Neraka!”ucap presiden, lirih namun dengan intonasi yang mendalam.

Para politisi, akademisi, rohaniwan, konglomerat, petinggi-petinggi militer dan bos-bos parpol yang telah sukses menjadikan Pristy Krozchack menjadi presiden, tersengat. Namun tak ada yang bersuara.

”Kalian hanya butuh simbol, karena negeri ini tak lagi ada pemimpin jujur. Dan kalian mendorongku jadi presiden, dengan uang kalian yang tak terhitung jumlahnya. Tapi di balik itu, kalian menyimpan siasat busuk. Kalian merampok negeri ini. Kalian kuasai aset-aset negara, hingga rakyat tidak kebagian apa-apa...” ujar presiden. Seorang rohaniwan memberanikan untuk bicara. ”Maaf, barangkali ucapan presiden berlebihan, terutama untuk saya.”

”Tuan presiden... Kami ini telah keluarkan uang bertriliun-triliun. Wajar dong jika kami minta jatah. Dan apa artinya seratus tambang minyak, emas dan lainnya itu bagi pengorbanan kami,”ucap seorang konglomerat bertubuh penuh gelambir lemak.

”Aku telah menyiapkan surat pengunduran sebagai presiden. Aku akan katakan semuanya. Pidato kenegaraan telah disiapkan,” ucap presiden.

”Jangan nekat!”ujar seorang jendral. ” Please, batalkan semua itu! Batalkan!” Tangan sang jenderal menodongkan pistol di kening presiden.

”Aku tak bisa digertak. Pengunduran diri tetap kulakukan. Ayo tembak aku! Ayo tembak!” teriak presiden. Orang-orang tampak cemas. Seorang pembantu presiden mencoba melakukan penyelamatan. Tapi naas, dadanya tertembus timah panas. 

”Ayo siapa lagi yang berani maju!” sang jenderal menarik pelatuk. Tak ada suara. Tak ada orang yang berani bergerak.

”Mulai detik ini, kekuasaan kuambil alih demi menyelamatkan nasib rakyat. Krozchack, silakan kamu mundur. Akan kusiapkan jumpa pers. Soal isinya terserahkan aku. Aku bisa membuat berbagai alasan yang rasional,” ujar sang jenderal sambil memberikan isyarat para beberapa orang untuk menangkap Krozchack. Krozchack meronta. Tapi lima lelaki yang meringkusnya itu, terlalu kuat. Beberapa saat kemudian, terdengar pistol menyalak. Tubuh Krozchack tumbang. Dadanya mengucurkan darah. Orang-orang tak berani menyerit. q- g

Yogyakarta 2012

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indra Tranggono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 5 April 2015

0 Response to "Patung Pristy"