Pelajaran Tuhan - Hujan bagi Pejalan - Musim Ujian - Bukit Doa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelajaran Tuhan - Hujan bagi Pejalan - Musim Ujian - Bukit Doa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:18 Rating: 4,5

Pelajaran Tuhan - Hujan bagi Pejalan - Musim Ujian - Bukit Doa

Pelajaran Tuhan

Sudah berkali-kali kucatat pada ingatan
Pelajaran airmata yang memilih menjadi sungai
Yang sama wangi impian

Pun rumus-rumus tak terbaca
Pada pikiran orang-orang
Buku dan semesta
Dan segala yang hidup dari air

Sementara hanya kutumpuk
Pada ingatan yang
Membuat segalanya terkubur
Tanpa nisan

An Najah, 2015

Hujan bagi Pejalan

Hujan tak pernah dinanti kedatangannya.
Sumur-sumur meluber sampai tanah tak terlihat
mata. Beberapa keinginan tak di lakukan ketakutan
berpapasan dengan hujan yang akan
membasah. Orang-orang tak ingin repot mencuci
pakaian berulang-ulang hanya karena hujan.

Jalanan sepi dari orang, hanya beberapa yang
menerjang keadaan. Kadang sakit terasa ketika
terkena hujan, rupiah harus dikeluarkan untuk
menebus sehat dan aktivitas kembali di kerjakan
seperti hari-hari lalu

Entah berapa kaki yang mengeluh karena terantar
gigil dan berapa kedalaman derita pada
kaki pejalan. Beragam, dan aku tak bisa mengukurnya
dengan pertanyaan yang kuberikan

Betapa doa dipanjatkan ketika cuaca terpeluk
kemarau. Dan kini doa-doa bernapaskan pengusiran.
Padahal di luar sana para petani berpesta
pora dengan keluarga menikmati tarian
senyum yang mengudara akan hujan yang
menumbuhkan bibit padi yang menjadi
makanan pula bagi para pejalan

Entah doa mana yang harus dipatahkan Tuhan
ketika semua memiliki alasan. Agar keadilan
tegak di semesta raya.

An Najah, 2015

Musim Ujian

Gadis itu masih membagi-bagi waktu untuk di
sedekahkan pada sekolah, wajah rindu di kampung
halaman dan teman-teman seperjuangan.
Tak ada yang ingin dikorbankan, tak ada yang
ingin dialirkan airmatanya. Karena semua membawa
purnama di malam-malamnya.
Terbesit keinginan memberi lebih kepada sekolah,
karena jalan mimpi akan terang dan memudahkan
menapakinya. Tetapi ketika menengok
ke belakang airmata wajah rindu dan teman-teman
memanggil penuh haru. Suaranya semakin
berlari semakin mengeras dan menjadi
mozaik-mozaik luka
Hari-hari berguguran, tiga muara kasihnya
belum ada yang mengisi samudra kehampaan.
Semua di sungai sunyi terbendung kehati-hatian
yang memakan waktu panjang.

An Najah, 2015

Bukit Doa

Meski tubuhku berjalan ke utara
Dan kau kutinggal di tanah sepi
Ilalang selalu kutebar segala getar tentangmu
Ada yang terikat dan tak pernah terputus oleh
zaman
Adalah tali rindu

Di bukit doa kami menanam dan memanen
Cahaya untuk perbekalan
Menapaki jalan terakhir
Kepadamu

Kedungbanteng, 2015


— Irna Novia Damayanti, lahir di Purbalingga, 14 September, mahasiswi IAIN Purwokerto dan Santri di Pesantren Mahasiswa An Najah, dan aktif di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irna Novia Damayanti 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "uara Merdeka" pada 26 April 2015

0 Response to "Pelajaran Tuhan - Hujan bagi Pejalan - Musim Ujian - Bukit Doa"