Pemegang Kebahagiaan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pemegang Kebahagiaan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:41 Rating: 4,5

Pemegang Kebahagiaan

WAKTU dan kondisi berusaha mengikis kebahagiaan keluarga kami. Sekarang, ayah sering jarang pulang dan ibu mulai sakit-sakitan. Sementara aku tidak bisa melakukan apapun, kecuali menemani ibu yang sedang sakit. Usiaku yang masih belasan tahun tidak bisa membantu banyak di tengahkondisi keluarga kami sekarang. Jika aku memaksakan bekerja, hasil dari pekerjaanku tidak berpengaruh banyak. Sekarang yang aku kerjakan hanya menjaga ibu.

HARI ini, ibu berkata bahwa ayah akan datang. Itu sebabnya aku menunggunya di samping ibu. Tanpa ibu memberi tahu, aku selalu menunggu ayah datang. Tidak jarang aku menunggunya hingga tertidur sampai ibu membangunkanku. Akan tetapi, di setiap bangunku, tidak ada ayah memeluk kami.

Semenjak menyewa sebuah rumah kecil di pinggiran kota besar, kami mulai kehilangan Ayah. Rumah kami memang kecil, tetapi pengeluaran dari rumah ini lebih besar. Ibu pernah mengatakan, ayah tidak pulang karena bekerja sangat keras. Akan tetapi, aku kira, ayah tidak begitu rajin bekerja. Soalnya, jika ayah bekerja sangat gigih, aku tidak mungkin kehilangan ibu.

Ibu yang biasanya menemaniku di rumah harus bekerja di rumah besar dekat rumah kecil kami sebagai pembantu. Itu dilakukan untuk menutupi kebutuhan keluarga dan biaya aku sekolah. Biasanya, sepulang sekolah, aku akan menemukan ibu di rumah. Ia akan menanyakan apa saja yang terjadi di sekolah sambil menikmati makan siang seadanya. Setelah ibu memilih bekerja, aku menghabiskan waktu dalam kesepian tanpa perhatian.

"OZON" karya Patuh Aminin
Aku bosan menghabiskan waktu sendirian di rumah. Ditambah sebagai pendatang baru, aku tidak punya teman yang bisa diajak menemani kekosngan. Hingga akhirnya aku memutuskan membantu ibu dan kondisi keluarga.

Pernah sekali aku bekerja sebagai penyemir sepatu sepulang sekolah. Ketika ibu pulang, aku memberikan hasil usahaku kepadanya. Ia melihat uang receh di tanganku, lalu menangis. Di sela-sela tangisan, ibu berkata, "Jangan ulangi lagi." Mendengar itu, aku menjadi yakin bahwa anggapanku salah. Aku tidak pernah kehilangan ibu.

Waktu itu, ibu menangis sampai larut dan meminta memeluk aku. Aku mendekat ke pelukan ibu yang biasanya hangat. Tangis ibu sedikit tertahan ketika mendengar suara ketukan pintu. Setelah menyimpan mendengar suara ketukan pintu. Setelah menyimpan air mata, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ayah telah pulang. Ia membawa es campur kesukaan kami.

Kedatangan ayah selalu melegakan hati kami dan membuat kami percaya bahwa kami tidak pernah kehilangan ayah. Kami tahu, kami akan bahagia ketika ayah datang sebab di tiap kepulangan, tangannya tidak pernah kosong.

**
KAMI pernah lebih bahagia dari ini. Dulu, saat pertama menginjakkan kaki di kota besar, kami lebih bahagia. Soalnya, kami mampu membeli sebuah rumah sederhana hasil dari perjualan sawah dan kebun ayah yang ukurannya lebih besar daripada kontrakan kami. Waktu itu, ayah masih sering pulang dan tangannya tidak pernah tidak kosong. Selain itu, ayah sering mengajak kami ke luar rumah untuk sekadar berkeliling atau makan malam.

Ayah memang sering melakukan kebiasaannya itu dari dulu. Sebelum kami memutuskan pindah dari desa kecil yang indah dan sejuk ke kota besar. Setiap selesai bekerja di sawah dan kebun, ayah selalu membawa buah dan sayur dari kebun yang selanjutnya kami olah dan nikmati bersama. Kami lebih bahagia daripada pertama kali pindah ke kota besar.

Sebenarnya kami tidak pernah ingin menjual rumah dan kebun untuk pindah ke kota besar. Kami dipaksa memilih pindah dari desa itu. Beberapa orang datang ke rumah dan menawarkan uang yang tidak bisa kuhitung berapa jumlahnya wakt itu. Bebeapa kali ayah menolak. Namun, ia tidak bisa lagi menolak ketika sawah dan kebunnya saja yang belum terjual. Ayah mengambil uang itu dan kami pun pindah dari desa kecil ke kota besar.

Setelah kami pindah kekota, ayah bekerja sebagai pedagang di salah satu pasar di tengah kota. Ayah berdagang buah dan sayur-sayuran. Ia pandai memilih buah dan sayur terbaik untuk dijual kepada pedagang karena dulu ayah seorang petani sekaigus pekebun. Itu membuat warunganya laku.

Ya, kami bahagia waktu itu. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena pasar tempat ayah berjualah hangus dilahap api. Pemerintah sempat menyalakan harapan keluarga kami dan para pedagang lain. Pemerintah berencana untuk terus membangun pasar itu kembali dengan lebih modern.

Selagi menunggu pasar modern itu selesai dibangun, keluarga kami berusaha bertahan dari uang sisa tabungan. Ayah masih berjualan sayur dan buah, tetapi kali ini dengan menggunakan gerobak. Tentu, penghasilan ayah berjualan di gerobak sayur dan pasar sangatlah berbeda. Ketika uang tabungan semakin berkurang, tetapi pengeluaran tetap, ayah akhirnya menjual rumah kami. Ia lalu menyewa kontrakan yang kami tinggali sekarang.

Setelah pasar modern selesai diresmikan, ayah tidak menyewa kios di sana. Pemerintah mematok harga sewa tiap bulan yang mahal. Ditambah keluarga kami tidak memiliki biaya untuk membayang uang sewa pertama. Ayah kemudian tidak lagi bekerja dengan sayur dan buah. Ayah memutuskan bekerja di pabrik.

Di kehidupan kami yang ini, ayah mulai jarang pulang. Terakhir aku melihat ayah pulang sebelum ibu sakit. Waktu itu, sepulang sekolah, aku tidak menyangka bahwa ibu ada di rumah. Aku mengecup tangan ibu. Betapa senang aku melihat ibu di rumah. Akan tetapi, aku melihat raut wajah ibu begitu datar.

"Kenapa, Bu?"

"Ibu sedang menunggu ayah."

"Bukankah biasanya ayah pulang malam hati?"

"Ayah akan pulang sebentar lagi."

Mendengar ucapan ibu, Aku begitu senang karena jarang sekali aku menghabiskan sore hari bersama ibu dan ayah. Aku menebak apa yang ayah bawa di tangannya. Tiba-tiba, aku mendengar suara ketukan pintu. Aku membuka pintu dan mendapati matnaya semerah nyala api. Pandanganku kemuian menuju tangan ayah, tetapi tidak menemukan apa pun yang membuat aku atau ibu akan bahagia. Aku mendapati botol minuman keras di tangannya.

Hari itu menjadi hari paling buruk dalam hidupku. Aku tidak menemukan kebahagiaan dari kedatangan ayah. Hari itu ayah dan ibu bertengkar sampai malam. Setelah itu, ayah membawa beberapa pakaian lalu menuju pintu dan pergi tanpa pamit, meninggalkan aku dan ibu tanpa kebahagiaan.

Setelah itu, ibu bekerja sangat keras. Setelah menjadi pembantu rumah tangga, ibu menerima jasa mencuci pakaian para tetangga. Begitu lama ibu bekerja sangat gigih sampai akhirnya mulai sakit-sakitan. Karena setiap hari harus bekerja, ibu sering memaksakan bekerja meskipun dalam keadaan sakit. 

**
AKU didatangi seseorang berjas putih. Di genggamannya, ada alat pendengar detak jantung. Setelah memeriksa ibu, laki-laki itu berbicara kepadaku.

"Ibu harus segera dioperasi. Selain itu, biaya rawat inap ibumu harus segera dilunasi."

Aku hanya bisa diam mendengar perkataan laki-laki itu. Setelah mengatakan itu, lelaki itu pergi. Aku masuk ke ruangan dan menuju tirai yang memisahkan tiap pasien.

"Apa yang dokter itu katakan?"

"Ibu harus segera dioperasi."

"Apa ayah datang?" sambil terus berusaha bangun dari tempat tidurnya.

"Belum, Bu," jawabku sambil memberikan air putih untuk ibu.

Aku tidak tahu apa ayah akan datang. Tiga hari kemarin, ketika menanyakan kondisi ibu dan aku menjawab ibu harus segera dioperasi, wajah ayah datar saja. Jika ayah harus datang sekarang membaa kebahagiaan di tangannya, yang harus dia bawa hanyalah uang dengan jumlah yang lebih banyak dari uang yang didapat dari penjualan rumah kami di desa.

"Tenang, Bu, semuanya akan baik-baik saja. Dalam waktu dekat, ibu akan segera dioperasi. Ibu tidak perlu memikirkan ayah dan biaya operasi."

Ibu tersenyum dan kembali tertidur. Mungkin, obat yang diberikan lelaki tadi telah membuat ibu tidur.

Beberapah hari kemudian, ibu telah menjalani operasi. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya ibu siuman. Ruangan sejenak hening, lalu kemudian tatapan ibu mengarah kepadaku.

"Apa ayah yang membiayai operasi ibu?"

Aku diam sejenak sambil menahan rasa sakit.

"Sepertinya ayah tak akan datang lagi. Tapi, tenang saja, kita bisa memulai hidup baru dan umurku sudah cukup untuk membantu ibu bekerja."

Ibu hanya diam. Kulihat air mata mengalir di tengah pipinya, seperti sungai kecil di tengah padang tandus.

"Kau baik-baik saja? Kenapa kau terus memegang ginjalmu?" tanya ibu.

Aku hanya tersenyum, tidak ingin membuat ibu khawatir.***

2015

*) Muhammad Ma'ruf, lahir di Bandung 22 Mei 1993. Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI sebagai ketua.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Ma'ruf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" pada 26 April 2015


0 Response to "Pemegang Kebahagiaan"