Percintaan Senja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Percintaan Senja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:21 Rating: 4,5

Percintaan Senja

"KALAU Ngah setuju tigapuluh, sekarang juga akan Na lunasi," kata perempuan itu dengan suara lembut dan gugup pada Saleh. Tangannya kemudian memainkan ujung tepi jilbabnya.

Saleh tersenyum. Senyum bukan pada harga yang ditawarkan Rumana tapi senyum pada nasib mereka. Dulu, ketika masih di Sekolah Dasar (SD), orang-orang kampung mengolok-olok mereka sebagai sepasang tunangan. Rumana memang cantik dan mungil. Berkulit putih, bermata jernih dan berlesung pipi. Dan Saleh sendiri imut. Kulit hitam manis, rambut lurus hitam mengilat. Sekolah pintar, anak Kepala Sekolah Dasar pula. 

Sepulang sekolah, sehabis makan siang mereka bermain pondok-pondokan lalu dilanjutkan dengan pengantin-pengantinan. Mereka berdua diarak teman-teman sebaya mereka keliling kampung sampai penat. Hai, alangkah senangnya hidup, sepanjang jalan dikipas dengan daun pisang oleh sepasang gading-gading. Dan di sepanjang jalan, penduduk yang menyaksikan mereka pun tersenyum senang, sebagian mendoakan agar suatu hari nanti apa yang mereka lihat benar-benar terjadi.

Setelah tamat SD, Saleh berangkat ke kota B melanjutkan pendidikan sementara Rumana hanya di kampung karena ia yatim dan ibunya seorang janda kampung yang miskin. Sementara Saleh, setamat kuliah langsung dapat kerja di kota, dan Rumana pun menikah dengan orang kampung sebelah, tinggal di kota K. Rumana menikah disebabkan tak mungkin menunggu Saleh karena emak Saleh tak setuju, dan apa mungkin seorang yang hanya tamat SD menikah dengan sarjana satu-satunya dari kampung itu? Setamat kuliah, dan tahu kalau Rumana telah disunting orang lain, Saleh kecewa berat. Setelah sekian lama membujang, Saleh pun menikahi seorang gadis di kota P.   

Perkawinan Rumana rupanya tak berlangsung lama. Suaminya pergi tanpa berita. Setelah tiga tahun menunggu tak datang juga, Rumana pun menikah dengan seorang pemuda dari kota M. Mereka masih tinggal di Kota K. Suami kedua Rumana ini rupanya ahli dagang dan akhirnya mampu memiliki ruko di kota K.  Kehidupan Rumana dan suaminya menjadi berkecukupan dan akhirnya boleh dibilang kaya.

Sementara Saleh, karena idealis, maka sebagai pegawai, karirnya biasa-biasa saja walau ia berotak cemerlang dan memiliki segudang keahlian. Saleh tak mau menjilat, mengambil muka apalagi menyogok atasan untuk suatu jabatan. 

Saleh membiarkan hidupnya mengalir seperti air. Ia biarkan takdir berjalan sesuai ukurannya. Ibarat buah, ia biarkan jatuh sendiri karena masak di tangkai. Ia tak mau memaksakan masak padahal masih mentah. Akibatnya, sampai saat ini ia hanya menjadi staf dan hanya punya sepeda motor, dan itu pun plat merah. Namun Saleh memiliki harta peninggalan ayahnya di kampung. Ia memiliki berbidang-bidang tanah yang terpencar di sebelah barat, utara dan selatan di kampungnya. Setelah ayahnya meninggal, ibunya berkehendak menjual tanah-tanah itu karena ingin naik haji. 

"Andai pun disimpan, untuk apa?" kata emaknya. "Engkau pun tak juga akan balik ke sini. Apalagi Engkau tak punya anak perempuan. Buat apa punya tanah banyak-banyak?" kata emaknya lagi.

Sebenarnya Saleh keberatan menjual harta peninggalan ayahnya apalagi kalau mengingat betapa susah ayahnya yang pensiunan guru di zaman orde baru itu mendapatkan tanah-tanah tersebut. Tapi? 

Untuk ayah tak mungkin lagi. Maka untuk emak merupakan yang terbaik. Kalau berharap dariku dan adik-adikku untuk menghajikan emak, tampaknya tak ada harapan. Pikir Saleh akhirnya. Maka Saleh mengalah pada emaknya, dan Rumana merupakan satu-satunya orang yang mau membeli salah-satu bidang tanah itu.

"Bagaimana, Ngah?"

Saleh menarik napas panjang.

"Uang itu rencananya mau dibuat ongkos Emak naik haji, Na."

"'Kan cukup tu, Ngah. Ongkos naik haji sekarang 'kan hanya tiga puluh dua juta," kata Rumana tersenyum manja seolah masih bicara sekitar tiga puluh tahun yang lalu.

Saleh tersenyum. "Kan kurang dua juta," kata Saleh datar. Kemudian Saleh tertawa kecil sambil melirik nakal ke arah Rumana. Lirikan yang dulu selalu dirindukan Rumana.

"Dua jutanya biar Ngah saja yang nambah," kata Rumana tertawa kecil pula sambil menunduk malu, menyembunyikan debaran jantung dan senyumnya. Rumana lupa kalau ia kini sudah tidak muda lagi.

Belum sempat Saleh melanjutkan ucapannya.

"Tiga dua saja ya, Ngah."

Saleh terdiam, matanya menekuri lantai rumah Rumana. Ia terdiam bukan memikirkan kata-kata Rumana tapi ia teringat semasa kecil dahulu. Saleh kemudian tersenyum hambar. Semua kejadian di masa lalunya bersama Rumana tertayang ulang. Bagaimana mereka dulu duduk bersanding dalam pondok-pondokan yang dibuatkan teman-teman mereka setelah pulang dari sekolah, lalu mereka pun pura-pura tidur bersama, kemudian menamam ubi di belakang pondok yang dibuat di tepi hutan. Lalu mereka bermain masak-masakan. Saleh juga ingat kata-kata Rumana, kalau ia akan menabung supaya suatu hari nanti bisa jadi orang kaya, supaya mereka bisa menikah dan hidup bahagia, supaya bisa beli mobil, beli ini dan itu dan supaya bisa naik haji sambil melukis tanah dengan ranting di bawah rumah panggung emak Rumana yang terletak di bibir laut. Kini, semua itu telah diperoleh Rumana kecuali menikah dengannya.

Ah, kejadian itu rasanya bagai kemarin petang. Desah hati Saleh.

Diam-diam Rumana ternyata juga mengingat masa lalunya. Ia terkenang saat menunggu kepulangan Saleh dari kota B bila libur sekolah. Ia selalu menulis-nulis nama mereka berdua dengan ranting kayu di tanah. Sesekali tersenyum dan menumpahkan senyum mungilnya kepada sepasang elang yang sedang bergandengan sayap di langit atau sesekali menjurakannya atau mempersembahkannya ke laut. Kadang-kadang menangis diam-diam karena Saleh tak juga kunjung tiba. Setelah dipanggil emaknya barulah ia naik ke rumah, menolong emaknya memasak atau melakukan sembarang pekerjaan. Ia ingat kena teguran emaknya gara-gara senyum-senyum sendiri ketika mengacau nasi di periuk.

Ah, mengenang itu, semuanya serasa kemarin petang. Dan jujur, selama mereka berdua saling berunding ini, getaran hati semasa mereka kecil dahulu tetap bergemuruh di dadanya. Ia sungguh menikmati semua itu. Diam-diam, ia ingin Saleh berlama-lama duduk di sampingnya. Apalagi kini ia sendiri lagi karena suaminya setahun lalu telah dipanggil Ilahi.  Ia lupa pada anak tunggalnya yang sudah kuliah semester terakhir. Lupa kalau Saleh punya istri dan anak-anak. 

Sebenarnya berapalah uang empatpuluh juta itu baginya? Ia kini memiliki ruko (rumah toko) lima pintu di kota K, dan tak kurang dua juta rupiah ia hasilkan setiap hari. Tapi kalau ia cepat setuju, bukankah Saleh akan meninggalkannya? Dan setelah itu, apakah mungkin Saleh akan menelponnya lagi? Dan yang lebih penting daripada segalanya, kini ia ingin membalaskan sakit hatinya akibat kata-kata emak Saleh semasa mereka kecil dahulu, kalau ia tak pantas bersanding dengan Saleh. Ia tahu, kata-kata itu keluar dari mulut emak Saleh karena ia miskin dan bukan siapa-siapa. Kini semuanya berbalik. Ia bukan lagi anak janda miskin. Kini ia janda kaya yang memiliki harta melimpah.

"Bagaimana, Ngah?"

Saleh terkejut, buyar dari lamunan.  Kemudian tersenyum sendiri. Senyum yang hanya ia sendiri yang tahu maknanya.

Rumana mengusap kaca meja jatinya. Ia menunggu keputusan Saleh. Hatinya semakin bergetar. Sungguh, perasaan ini hanya ada ketika ia duduk bersama Saleh. Perasaan seperti ini tak pernah ia rasakan ketika bersama suami pertama dan keduanya.

Rumana menunduk. Tersenyum. Pipinya merona.

"Maaf, Na, kalau tigapuluh dua juta itu, Ngah belum bisa melepaskannya padamu. Soalnya emak perlu juga untuk belanjanya selama di Mekkah dan persiapan bersedekah di kampung sebelum berangkat dan sesudah pulang haji nanti."

"Baiklah, Na setuju, Ngah," kata Rumana seolah berbisik.

Saleh merasa senang sekali. Ia tegakkan badan dan memperhatikan wajah Rumana lekat-lekat. Namun perempuan yang sudah berumur di atas limapuluh tahun itu kembali menunduk. Saleh heran. Apa yang terjadi?

Saleh melihat air pelan-pelan mengalir di pipi Rumana. Melihat itu, Saleh teringat lagi pada petang sebelum ia berangkat meninggalkan kampung untuk sekolah di kota B dulu. Air mata seperti itu terjadi setiap ia akan berangkat ke kota B. Setiap meninggalkan Rumana di pelabuhan. 

Saleh keluar dari rumah Rumana, ia pura-pura batuk dan membuang dahak yang sebenarnya tak ada. Ia ingin meninggalkan Rumana sendiri, tak ingin menyelami apa yang terjadi di hati perempuan itu. Ia hanya ingin secepatnya mendapatkan uang empatpuluh juta untuk ongkos naik haji emaknya.

Saleh memandangi kuntum-kuntum mawar yang merekah dalam pot yang tersusun rapi di teras rumah Rumana. Saleh pun teringat lagi dan sangat jelas ketika suatu hari saat ia menyelipkan bunga keduduk di bendo rambut Rumana sewaktu pulang dari sekolah dasar. Bunga yang dipetiknya dari hutan kecil di belakang sekolah mereka. 

Saleh mengeluarkan rokok dari saku bajunya. Mengisapnya pelan-pelan. Belum habis sebatang rokok, ia kembali masuk ke rumah Rumana, dan duduk di atas kursi sofa yang jauh lebih baik dan empuk daripada kursi di rumahnya.

Ia cucukkan rokok yang masih separuh ke dalam asbak di atas meja. Pelan-pelan ia letakkan surat tanah di samping asbak.

Rumana menunduk dan memintal-mintal ujung jilbabnya dengan malu-malu seperti remaja kampung berumur 17-an saat pertama kali kencan.

"Tinggalkan nomor rekening Ngah. Nanti Na transfer," kata  Rumana serak. 

Tanpa bersalaman, Saleh meninggalkan Rumana. 

Di tengah jalan, berbagai macam rasa menyelimuti perasaan Saleh. Hatinya senang sekali seperti ketika pertama kali bertemu Rumana saat ia pulang ke kampung pada liburan sekolah di kota B dahulu. Saleh bersiul dan bernyanyi-nyanyi kecil di atas sepeda motor plat merahnya yang sudah butut menuju kota P tempat ia menetap. Dalam hati, rasa ingin kembali ke rumah Rumana menyenak hebat.

Seminggu kemudian ketika ia masih di kantor, Saleh menerima pesan pendek di telpon genggamnya. Ngah, uang sebanyak limapuluh juta sudah Na kirim ke rekening kemarin.. Saleh terkejut, "Limapuluh? Padahal perjanjiannya hanya empatpuluh juta?" ...Maafkan Nah, Ngah. Setelah Ngah pergi, Na merasa saat itu seperti ketika Ngah pergi sekolah dulu. Na bahagia sekali Ngah. Ohya maaf, kemarin tak dapat melayani Ngah dengan baik karena tiba-tiba Na menangis, mengingat apa yang pernah kita lakukan semasa kecil. Nah ingat kembali kata-kata emak kalau pertemuan dan perpisahan telah ditentukan. Ngah, ternyata rasa itu tak pernah pergi hingga saat ini. Maafkan Na, Ngah. Sekali lagi, maafkan.

Saleh terperangah. Hatinya berbunga-bunga seperti ketika menerima surat Rumana sewaktu ia sekolah di kota B dahulu. Saleh senyum-senyum sendiri. Untunglah sms itu datang saat hari petang menjelang senja, sehingga tak ada teman sekantornya yang melihat tingkahnya petang itu.

Saleh kemudian terkenang istrinya di rumah. Ingat pada anak-anaknya yang sedang sekolah. Mungkinkah mereka akan mau menerima Rumana menjadi bagian dari hidup mereka? Dan apa kata emak nanti kalau ia jadi juga menikah dengan Rumana? Tapi bukankah Rumana juga yang akan memberangkatkan emak ke tanah suci?***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Griven H Putera
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Riau Pos" Minggu 12 April 2015

0 Response to "Percintaan Senja"