Persekutuan Cahaya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Persekutuan Cahaya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:54 Rating: 4,5

Persekutuan Cahaya

CAHAYA adalah kendaraan dan rahasia jiwa. Cahaya adalah tentara kalbu dan kegelapan adalah prajurit nafsu.1 Tak ada yang pernah menemukan sebuah rahasia yang berasal dari jiwa-jiwa yang bercahaya, meski semua begitu terang dan benderang.

Aku terpaku, di depanku langit bergerak perlahan, mendekat dan merapat padaku. Ia seperti hendak mengambilku dengan segenap dirinya. Aku terhenyak. Ada yang menyuruhku berlari agar menghindari dari terkaman langit. Entah dia siapa, tapi suaranya begitu dekat di telingaku.

"Lari..." bisiknya.

"Lari! Lari!" serunya.

Aku tak percaya pada apa yang aku dengar. Mengapa aku harus menurutinya dan mengapa ia menyuruhku berlari. Aku berusaha menepisnya berulang kali. Tapi suara itu masih terdengar. Bahkan lebih kuat, lebih keras dan tegas, memaksaku untuk berdiam dan patuh. Siapa dia dan mengapa?Sudah sekian lama aku menginginkan hal ini. Langit datang padaku dan mengambilku dari kehidupan yang koyak dan hancur. Bagaimana tidak? Aku melihat manusia berubah menjadi hewan. Wajah-wajah mereka dipenuhi dengan darah yang mengalir dari kedua matanya, hingga menghitam. Aku tak bisa membedakan lagi, apakah dia karibku, saudaraku ataukah musuhku. Tetapi ketakutan yang paling besar adalah diriku sendiri.

Bagaimana jika aku adalah hewan, sama seperti mereka. Meski aku masih merasa seperti manusia. Jangan-jangan mereka pun sejatinya manusia. Jadi apa yang salah pada diriku? Apakah penglihatanku yang mengubah mereka di mataku. Ataukah pikiranku yang menjelmakan mereka dalam pandanganku. Ada yang salah dengan diriku, ada yang salah dalam pikiranku. Tapi apa? Pertanyaan itu berulang hadir sampai aku menemukan keberanian untuk menyendiri di atas atap rumahku, yang aku ubah menjadi sebuah ladang doa dan menanaminya setiap waktu dengan kecintaan dan hasrat yang tidak pernah habis untuk mengenali diriku sendiri. Untuk melihat apakah jiwaku sudah tergadai di dalam penglihatan dan pikiran yang membuatku melihat segala hal di kehidupan nyata menjadi berbeda. Tidak sama dengan yang dulu lagi. Bagaimana mungkin hal itu tidak membuatku terkejut, aku menyakiskan satu- persatu sahabat dan teman-temanku berubah wujud di hadapanku. Tidak menjadi tanaman. Tidak menjadi televisi atau mobil, tetapi menjadi sesuatu yang aku takuti.

Aku tidak menyadari sudah berapa lama, aku berada di atas rumahku sendiri. Hidup sendirian membuatku tidak memerlukan makhluk apa pun untuk membantuku. Kecuali yang memang diperintahkan ada dan ikut bersamaku. Aku tak perlu tersenyum pada orang lain. Yang aku lakukan hanya tersenyum kepada langit, menyapanya dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang lahir tanpa dipaksakan. Setiap hari aku hanya memandang langit, memandang langit dan kutemukan cahaya yang berpendar dan terang benderang, hadir silih berganti dalam perjamuan doa yang aku suguhkan di setiap malam dan fajar. Cahaya yang memukauku yang membuatku tak ingin berkedip sepanjang hidupku. Cahaya yang kuinginkan meraupku hingga aku berada di dalam keabadiannya. Maka aku sering memanggilnya, setiap menunggunya hingga ia tiba.

Sekarang. bukan cahaya yang tiba, tapi langit itu sendiri, yang hadir merapat, mendekap dan hendak mengambilku dengan cepat. Deguban di dadaku berlipat denyutnya. Kakiku menjadi batu yang membuat segala yang terlihat menjadikannya semakin berat. Bila saat ini gempa terjadi dan letusan gunung menggelegar, mereka tak akan mampu menyeretku untuk berlari. Apa yang aku hadapi seperti membuka dadaku. Langit datang kepadaku, dengan perlahan, merendah dan membelah di hadapanku. Pada lapis pertama, cahaya datang dari segala arah. Berkelebat dengan lambat seperti penari yang melenggokkan tubuhnya di hadapanku, menggodaku, mengerdipkan mata dan senyumnya. Lalu semakin dalam langit membuka, cahaya bergerak lebih cepat.

Semua ingatanku berhenti pada cahaya yang melenggang dengan anggunnya. Hatiku terangkat, dadaku berdegub lebih kuat. Ada yang menarik-narik tubuhku hingga aku merasakan ada yang hendak keluar dariku. Aku berusaha mengendalikannya. Tetapi apakah aku punya kuasa? Semakin banyak cahaya berdatangan, mereka menyerbuku dari segala arah, dari segala penjuru. Aku gemetar. Tubuhku bergetar. Bila cahaya itu memakanku, apakah bisa kutemukan lagi, langit yang elok kepandang dari kejauhan? Apakah bisa kusapa lagi tiap fajar dengan harapan dan kebahagiaan?

Berpikir pada saat sekarang seperti memunculkan pisau tajam. Ia hanya menjadi pengganggu saat hanya dibawa-bawa tanpa digunakan. Tetapi ini adalah doa-doaku. Sepanjang hidup aku hanya menginginkan berkumpul dan berada di dalam cahaya. Ia bisa berasal dari mana saja. Dari segala arah, dari barat, timur, utara dan selatan. Ia akan menjadi teman bagiku untuk selalu menikmati perjamuan cinta dan doa yang terhidang bersama. Aku mendengar seruling langit, yang tertiup dari suara Dawud. Aku mendengar rebana ditabuh, seluruh batu di kakiku runtuh. Siapa yang bisa menolak jika telingaku, mengajak mabuk dalam irama yang terdengar seperti belahan jiwa yang paling dalam, yang memanggil-manggilku untuk bersamanya berada dalam alunan yang bukan hanya mengharu-biru tetapi menjelajah setiap pori, denyut nadi bahkan di setiap hela napas itu sendiri. Airmataku tumpah, setiap irama yang menghiba, dari mataku bercucuran air bening yang menjelma kristal yang melayang di depanku, hingga ia menjadi berkilau diterpa cahaya yang bergerak di sekitarku. Aku tertegun dan heran pada hasratku untuk mau menikmati apa yang disuguhkan kepadaku. Tubuhku menjadi ringan. Aku tidak biasa mengendalikan diriku sendiri. Ingatan dan pikiranku berhetni. Aku terbang.

Cahaya. Cahaya. Aku berada di dalamnya. Aku bersama cahaya-cahaya yang berpendar dari segala arah. Semakin dalam langit membelah, aku terangkat semakin tinggi. Aku merasakan ada yang merobek dadaku, tepat pada saat itu, langit membuka lagi, cahaya jatuh di dalamnya. Aku seperti berada dalam gelombang yang tidak pernah ada di imajiku. Ia membuat jantungku berdegub lebih lambat. Aku kehilangan suara Dawud, rebana dan seruling. Kucari-cari, suara mereka semakin jauh.

"Lari." Suara yang sama mendekat di telingaku.

"Lari," bisiknya lagi.

Aku tidak peduli.Cahaya-cahaya itu menarikku dengan cepat, mereka melemparkan aku ke atas, tapi aku terjatuh. Mereka menangkapku, lalu melemparkan aku ke atas lagi, aku pun terjatuh lagi. Mereka serentak mengepungku. Menyerbu ke arahku. Menggulungku, dan meremuk dan menghancukan tubuhku. Kemudian mereka membawaku melesat dengan cepat, dan melepaskan aku sendirian.

"Jatuhlah jika ingin jatuh, terbanglah, jika ingin terbang. Bergabunglah bersama kami."

Lirih suara itu menyapa, sayup suara itu terdengar. Aku mengenalnya. Iya, aku mengenal suara itu, suara yang sering menjumpaiku dalam perjamuan kudus yang kusiapkan setiap hari agar kumiliki, persekutuan yang sama dengannya. Persekutuan cahaya. Ia menghampiriku, ia menjemputku, ia datang kepadaku. Haruskah aku berlari?

Tidak! Aku tidak akan berlari. Aku akan memilih bersama mereka. Biar tak kulihat lagi, apa yang aku takuti. Agar bisa kupandang wajah siapa pun dengan getaran cahaya yang sama seperti mereka. Agar bisa kuakrabi, cahaya yang lebih kuat hingga aku hilang dan tenggelam bersamanya. Yang terlihat tak ada. Yang terdengar tak ada. Yang terasa tak ada. Aku menjadi tak ada. Hanya cahaya. Hanya cahaya. Persekutuan cahaya. (k) []

Imogiri Bantul, Ramadan 2014

1 Al-Hikam Ibnu Atha'illah

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Evi Idawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 April 2015

1 Response to "Persekutuan Cahaya"

najwa-fikran said...

Maaf, mau nanya nih, rasanya cerpen ini sudah pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat pada 25 Januari 2015. Apakah boleh memuat cerpen yang sama pada media yang berbeda? Atau penah dimuat lalu dimuat lagi pada koran lain? Mohon ada yang menjawabnya ya....