Rahasia Dinar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rahasia Dinar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:14 Rating: 4,5

Rahasia Dinar

MATAHARI belum terbit sempurna ketika suara ibu lewat telpon terdengar serupa lagu sayonara yang membuat air mataku menetes tanpa kusadari. Berita kematian ayah menjadi kabar pembuka pagi ini. Tapi ada yang terasa janggal, berita kematian ayah disampaikan ibu dengan suara datar, bahkan terlampau datar untuk sebuah kabar kehilangan. 

Tak perlu waktu lama hingga kuputuskan pulang ke kota ini dengan pesawat paling pagi dari Jakarta. Dan di sinilah aku sekarang, rumah dengan seribu kenangan yang tiba-tiba berkejaran di ingatan.

Berbeda dengan kepulanganku sebelum-sebelumnya yang disambut senyuman ayah, kali ini aku disambut oleh bendera kuning yang melambai tenang di pagar rumah. Beberapa orang terlihat menata kursi dan menyilakan para pelayat untuk duduk dan memberikan doa.

Di tengah para pelayat yang sedang melantunkan ayat suci, kutemukan ibu duduk bersimpuh di samping jenazah ayah yang berada di tengah ruang keluarga. Ibu menoleh padaku dan tersenyum, sebuah senyuman yang tuus seperti biasanya, bukan senyum palsu untuk sembunyikan duka, bahkan tak kutemukan bekas air mata di pipinya. 


Kupikir, ibu akan meraung, menjerit, dan memohon roh ayah agar kembali ke tubuhnya, sperti halnya drama sinetron yang sering disaksikan ibu setiap hari. Tapi, acara televisi tetaplah kebohongan, dan inilah kenyataan yang di hadapanku. Ibu tak menangis, tak menjerit ataupun meraung, justru ia tersenyum, senyum yang sama ketika menyaksikanku dalam balutan baju toga saat aku diwisuda. 

***

ENAM hari telah berlalu sejak pemakaman ayah, namun tamu-tamu yang datang menyampaikan belasungkawa seolah tak pernah surut. Aku mengenal beberapa di antaranya, tapi lebih banyak yang tak kukenal. Lima tahun terakhir, aku memang memutuskan bekerja dan menetap di Jakarta setelah lulus dari kuliah. Hanya sesekali saja aku pulang, memenuhi kewajiban anak untuk sungkem kala Lebaran.

Sebenarnya ayah tak pernah menyetujuiku melanjutkan hidup di Jakarta, tapi aku bersikeras, bukan hanya karena aku ingin mandiri, tapi karena aku juga ingin menjauhi ayah karena diam-diam aku merawat kebencian terhadapnya.

Tak ada yang tahu tentang kebencian yang diam-diam kumiliki ini, tidak ibu, juga tidak dua orang kakakku. Tapi yang pasti ayah akhirnya tau aku membencinya, dan itulah yang menyebabkannya mengizinkanku tinggal di Jakarta.

"Yang sabar, ya, Bu. Pak Haris itu orang baik, pasti dia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya." Seorang perempuan paruh baya memeluk tubuh ibu yang duduk di sisiku.

Perempuan itu kemudian menyalamiku, mengatakan hal yang serupa. Aku hanya tersenyum masygul seraya mengucapkan 'amin'.

Pak Haris itu orang baik, ya, kalimat itulah yang kudengar selama ini, tak hanya ketika ayahku masih hidup, bahkan ketika ia sudah meninggal enam hari yag lalu, dan mungkin saja kaliamat itu akan terus didengungkan orang-orang hingga lima puluh tahun lagi.

Begitulah ayahku selama ini dikenal sebagai orang baik, pahlawan, penyelamat, dan sebagainya. Jika kebaikannya dituliskan, mungkin butuh kertas sepanjang puluhan kilometer. Ayahku seorang pengusaha bahan bangunan yang sukses, ia juga dermawan. Sudah ada ratusan anak disekolahkannya, puluhan janda disantuni, dan entah berapa anak yatim yang sudah dihidupi setiap bulan.

Ayah tak pernah membedakan orang-orang yang meminta bantuan kepadanya, entah ayah mengenal orang itu atau tidak. Bahkan tak jarang banyak orang yang meminjam uang dan tak pernah kembali, namun ayah tak pernah merisaukannya atau menagihnya. "Rezki tak akan pernah tertukar." Begitulah alasan ayah.

Mungkin karena itulah pelayat yang datang ke rumah ini untuk berbelasungkawa seperti tak ada habisya, bahkan dari wajah-wajah mereka lebih terlihat kesedihan dibandingkan wajah ibu yang tetap tenang seolah ayah hanya pergi ke luar kota hingga tak ada yang perlu ditangisi. 

"Orang baik memang lebih disayang Tuhan, ya. Makanya Pak Haris dipanggil Tuhan lebih cepat, padahal ia tak sakit apa-apa. Ia tidur dan tak pernah bangun lagi keesokan harinya," ucap laki-laki berkemeja putih dengan suara bergetar, tanda jika kesedihan memenuhi rongga dadanya.

Langkah kakiku yang hendak ke dapur terhenti sejenak ketika mendengar percakapan dua orang lelaki di ruang tengah. Tubuhku kusembunyikan di balik dinding, ingin kudengar lebih banyak percakapan antara mereka. 

"Pak Haris memang seperti malaikat, hanya saja ia tak punya sayap," ujar lelaki satunya.

Kusandarkan tubuhku ke dinding dan kuraupkan kedua telapak tanganku menutupi wajah. Ayah begitu sempurna di mata mereka, itulah kesimpulanku.

Aku memang bangga menjadi anak ayah,bangga dengan segala kebaikan yang diajarkannya dengan aksi nyata, bukan hanya sekadar teori. Aku pun bersedih dan berduka ata kepergian ayah, tapi entah mengapa duka yang kumiliki tak bisa mencerabut akar kebencianku padanya.

***

ACARA tahlilah tujuh hari kematian ayah telah usai semalam. Rumah ini kembali sunyi, hanya tersisa aku dan ibu. Dua orang kakak laki-lakiku beserta istri mereka sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.

"Kapan kamu pulang lagi ke Jakarta, Din?" tanya ibu padaku. Aku yang hendak mengambil segelas air di dapur pun mengurungkan langkah. Aku menoleh ke arah ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu,

Kudekati ibu dan duduk di sampingnya, "Entahlah, Bu."

Ibu menatapku. "Ibu tak apa-apa di sini sendiri, Dinar. Masih ada kakak-kakakmu yang akan mengurus ibu," ucap ibu lembut. Rumah kedua kakak lelakiku memang tak jauh dari rumah ibu, masih berada dalam satu rukun warga.

Aku terdiam, alasanku ke Jakarta lima tahun lalu bukanlah untuk mengejar karier setinggi-tingginya seperti orang-orang yang memandang Jakarta adalah tambang harta. Kepergianku untuk menghindari ayah, dan sekarang tak ada ayah lagi di rumah ini, lalu untuk apa lagi aku harus pergi ke Jakarta?

"Bu, apakah ibu mencintai Ayah?" Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, ibu justru tertawa.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Karena ibu seperti tak menyimpan kesedihan ketika Ayah meninggal."

Mata ibu menerawang, menatap satu titik di udara, "Seperti yang sering kau dengar dari orang-orang. Ayahmu orang baik, Ayahmu juga meninggal dalam keadaan baik, tak ada sakit, luka, dan tak menyusahkan orang lain. Bahkan ia sendiripun tak sadar jika tidurnya malam itu adalah tidur terakhirnya di dunia ini. Tak ada yang perlu disedihkan."

"Sebegitu sempurnakah Ayah di mata Ibu?" Ibu hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaanku, kami terdiam dan berenang dalam pikiran kami masing-masing hingga sebuah salam dan ketuka di pintu membawa kami kembali ke alam nyata.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu, dalam dekapannya seorang anak laki-laki tertidur pulas.

Ibu memandangku dengan tatapan. "Kamu kenal perempuan itu?"

"Dia Ratna, Bu. Ayah dulu membiayai kuliahnya di sebuah akademi kebidanan di Jakarta," jawabku seraya menyimpan pertanyaan di kepala tentang Ratnayang datang tiba-tiba.

Ibu mengangguk mafhum, seolah aku baru saja mengatakan jika ayah baru saja membelikan permen untuk anak tetangga, kebaikan ayah memang sudah dipahami banyak orang hingga tak perlu dipertanyakan lagi.

Ibu mempersilakan Ratna untuk duduk di sofa ruang tamu dan mereka pun terlibat dalam perbincangan yang cukup akrab, sedang anaknya yang berusia sekitar empat tahun itu tertidur pulas di sofa dengan kepala bersandar di pangkuan ibunya.

Seperti halnya tamu-tamu sebelumnya, ibu dan Ratna lebih banyak berbincang tentang kebaikan ayah. Namun, kali ini aku enggan mendengarkan perbincangan tentang ayah, aku lebih memilih untuk duduk diam di samping ibu. Sesekali kudengar isak tangis Ratna ketika mengenang kebaikan ayah, tapi aku tetap enggan untuk menanggapi.

Dalam pikiranku, ada kecemasan dan pikiran buruk yang terus menggumpal sejak kedatangan Ratna satu jam lalu, seolah ia adalah residivis yang patut diwaspadai. Mataku terus mengawasinya tajam, hingga membuatnya sedikit kikuk. Aku mencoba menerka maksud kedatangan Ratna ke rumah ini, sekadar berbelasungkawa, ataukah ada maksud terselubung lainnya?

Setelah hampir satu jam berbincang dengan ibu, Ratna pamit pulang, anaknya yang telah terjaga pun digandeng tangannya di sisi kirinya. Aku lega karena kedatangan Ratna hanyalah untuk menyampaikan rasa duka semata. Aku dan ibu mengantar Ratna dan anaknya hingga ambang pintu, menatap mereka yang berjalan menjauh dan semakin jauh tanpa menoleh lagi.

"Ayah adalah lelaki sempurna, Dinar." Kami masih berdiri di ambang pintu ketika ibu mengucapkan kalimat itu, sebuah jawaban atas pertanyaanku tadi.

Aku mengangguk, ibu telah mengakui kesempurnaan ayah sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya. Tak mungkin aku merusak kesempurnaan ayah di mata ibu dengan mengatakan jika perempuan yang baru saja pergi adalah sumber kebencianku pada ayah.

Entah sampai kapan aku mampu menyimpan rahasia bahwa Ratna adalah perempuan simpanan ayah, dan anak yang sejak tadi didekapnya adalah adik tiriku, hasil hubungan gelap ayah dan Ratna.

Ayah memang lelaki sempurna, bahkan ia pun pergi dengan membawa kesempurnaan dunia pada ibu dan orang-orang yang selalu memujanya. Aku harus rela menanggung rahasia besar yang ayah wariskan, rahasia yang kini menjadi milikku, rahasia seorang Dina. []



Richa Miskiyya lahir di Grobogan, 08 November 1989. Tinggal di Jalan Ahmad Yani No 139 RT 01/RW 02 Gubug Grobogan 58164


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Richa Miskiyya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 April 2015

0 Response to "Rahasia Dinar "