Ramuan Mimpi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ramuan Mimpi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:51 Rating: 4,5

Ramuan Mimpi

”SYARIF belum meninggal, Bu. Dia hanya tidur,” aku berusaha menjelaskan. Tapi Sriana, ibu Syarif tidak percaya bahwa anak semata wayangnya itu hanya tidur.

“Tidak mungkin! Bagaimana bisa dia tidur selama satu hari? Itu mustahil!”

Suara Sriana serak. Matanya sembab. Sedari tadi merintih tak henti. Kerudungnya sudah mawut, beberapa rambut nyelonong dari depan, menutup beberapa bagian wajahnya. Dia memandangi anaknya terbujur kaku di tempat tidur. “Semoga dia hanya tidur,” serunya lirih dipenuhi harap.

“Ini dari Syarif.” Kujulurkan selembar kertas yang ditulis Syarif sebelum tidur. Buru-buru kertas itu dia ambil. Perlahan surat dari Syarif dibaca dalam hati. Isak tangisannya mereda. Menyisa sedu kecil, sisa ketakutan dan ketidakberdayaannya. Tangannya yang basah meremas kuat-kuat kertas wasiat itu
seperti meremas penyesalan. Peyesalan karena selama ini dia lebih sibuk bekerja daripada bertatap muka dengan anaknya.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Syarif terbujur kaku. Beberapa minggu terakhir, Syarif tidur dalam jangka waktu tak wajar. Kali pertama kali mendapatinya tidur saat dia menginap di rumah. Tubuhku gemetar dibuatnya. Keringat mengalir tak henti-henti. Bagaimana tidak, dari jam sepuluh malam hingga empat sore, dia tidak bangun-bangun. Kugoncang tubuhnya berkali-kali. Meneteskan air ke matanya sampai kuletakkan kaus kaki yang tidak dicuci itu ke hidung Syarif, tetap saja tak mampu membangunkannya. 

Bagiku bukan hal aneh lagi setelah terjadi berkali-kali. Tapi Sriana, tentu saja kaget dan tidak percaya. Ini kali pertama menemui anaknya kaku. Jadi, wajar kalau dia lemas dengan wajah tampak
cemas. Aku merasakan betul dingin dan panas tubuhnya.

***
SEJAK kecil Syarif senang dengan tokoh-tokoh mitos seperti Bramakumbara dan Anglingdarma. Dia juga sangat senang dengan cerita-cerita para nabi yang diceritakan ibunya sebagai pengantar tidur. Dari sekian cerita nabi, yang paling dia suka, kisah Nabi Yusuf saat bermimpi melihat bintang
sebagai tanda kenabiannya. Tapi cerita tentang Anglingdarma yang mampu menjaga kestabilan wilayahnya menjadi favorit Syarif kemudian.

“Jika aku bisa terbang seperti Anglingdarma, akan aku libas segala kejahatan dengan kesaktianku,” kata Syarif sambil memperagakan gerakan seperti mengeluarkan tenaga dalam.

Suatu hari dia bermimpi menjadi orang sakti mandraguna yang memimpin ribuan pasukan melawan musuh. Di dalam mimpi, dia bisa mengeluarkan tenaga dalam yang secara otomatis diperintah oleh pikirannya. 

“Mereka tunduk dan rakyatku terhindar dari marabarahaya,” Syarif menggebu.

“Itu hanya mimpi, Rif.”

“Bisa saja mimpi menjadi kenyataan. Contohnya Nabi Yusuf,” sangkal Syarif. 

Waktu itu kami baru masuk SMP dan kuanggap angin lalu saja pembicaraan itu. Tapi tidak bagi Syarif, mimpi itu selalu membayang di dalam pikirannya. Untuk mewujudkan mimpinya, diamdiam
dia belajar silat setiap malam pada tetangga sebelah. Hampir setiap hari dia mengerak-gerakkan tangannya dengan kuda-kuda seperti mempraktikkan kembangan pencak silat.

“Apakah mungkin manusia bisa terbang? Loncat dari batu ke batu lainnya, menyeberangi sungai dan menikmati angin di langit?” Suatu sore di beranda rumah Syarif risau setelah menyadari mimpinya untuk menjadi tokoh dalam pikirannya tidak semudah yang dia inginkan.

***
KECINTAANNYA pada tokohtokoh terkemuka tidak berhenti begitu saja. Saat SMA, Syarif semakin tergilagila dengan beberapa tokoh. Kali ini dia tidak lagi mengidolakan tokoh mitos seperti waktu kecil. Awalnya dia mengidolakan guru bahasa Indonesia yang suka sekali bercerita tentang tokoh-tokoh besar berikut karya juga keahliannya. Dari situ dia mulai membaca buku biografi tokoh-tokoh besar. Dalam sekejap dia sudah menguasai pola pikir dan arah idiologinya. Kekagumannya berlanjut pada tokoh-tokoh pemerintahan, baik tokoh Orde Lama maupun Orde Baru,  dan beberapa tokoh yang pada saat itu bermunculan.

Saking cintanya, beberapa tokoh idolanya dilukis, lalu ditempel di dinding kamarnya. Syarif selalu berharap bisa bertemu dengan mereka. Tapi keinginannya segera pupus setelah banyak pemberitaan
miring tentang tokoh yang dia damba-dambakan itu.

“Media massa membuat yang benar menjadi salah kaprah, yang tidak ada menjadi ada,” kilahnya mendumel. 

Kekecewaan semakin tampak di wajah Syarif setelah mengetahui beberapa tokoh idolanya tertangkap basah melakukan kecurangan di luar dugaannya. Sejak saat itu dia jarang berbicara tentang tokoh idolanya. Dia juga tidak mau melukis lagi. Hari-harinya dihabiskan dengan diam, tidur, menyendiri lalu sulit dihubungi.

Sejak peristiwa itu kami jarang bertemu. Terlebih saat kami aktif sebagai mahasiswa, apalagi kami berbeda jurusan. Syarif di jurusan farmasi, aku jurusan sastra. Tidak ada yang menyangka bahwa dia akan mengambil jurusan yang jauh dari kesukaannya. Saat SMA, bukan rahasia lagi jika Syarif suka sekali dengan sastra dan tokoh-tokoh besar revolusioner.Tentu saja langkah yang dia ambil membuat kami yang mengenalnya hanya geleng-geleng kepala.

“Kamu mengidolakan tokoh pengolah obat-obatan, Rif?” aku menerka suatu sore, setelah sekian lama tidak bertemu. Syarif hanya menggelengkan kepala diikuti senyum dan lirikan mengejek. Pelan-pelan dia mengeluarkan semacam serbuk kopi yang terbungkus plastik dari tas ranselnya.

“Ini,” Syarif memberikan serbuk berwarna hijau pekat itu. Kupikir serbuk itu adalah obat kuat khusus dewasa atau semacam obat pembersih muka dari dalam khusus lelaki.

“Ini ramuan yang bisa membuat orang tidur berjam-jam, bahkan bisa dikembangkan agar bisa tidur hingga dua hari.” Syarif terlihat serius.

“Semacam obat tidur atau obat bius?” terkaku.
“Tidak hanya itu, ramuan ini bisa

mewudkan mimpi kita,” Syarif terus menjelaskan dengan istilah-istilah asing yang tak kupahami. Aku hanya mengangguk kagum. Pada hari itu juga dia mempraktikkan untuk meyakinkan penjelasannya. Ramuan itu, entahlah bagaimana dia belajar. Anehnya, ramuan itu seperti membiarkan yang meminum untuk memilih mimpinya sendiri. Entah campuran apa yang ada dalam serbuk yang
dibuat itu. Ah... anak itu memang jenius. Tapi jenius tidak cukup di negeri ini, apalagi mengenai ramuan mimpi yang tak jelas akarnya. Karena itu Syarif memintaku untuk merahasiakan ramuan
itu. 

“Mimpi apa yang ada dalam tidurmu?” tanyaku penasaran setelah Syarif bangun dari tidur berjam-jam.

“Bertemu Anglingdarma dan bertemu dengan tokoh-tokoh pejuang zaman dulu.”

“Mereka benar-benar sakti. Ternyata, kesaktiannya berasal dari ucapan, sikap, dan loyalitasnya untuk berjuang,” Syarif menggebu menceritakan tokoh-tokoh yang dia temui.

“Tidak cukup delapan, sepuluh jam berbincang-bincang dengan mereka. Waktu terasa cepat dan kita seperti terhipnosis tak mau mengalihkan pandang jika mendengar mereka bicara.” 

“Aku akan menyempurnakan ramuan ini agar lebih lama dalam bermimpi,” kata Syarif kemudian, penuh semangat.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, antara percaya-tidak percaya. Tapi mendengar setiap penjelasannya yang penuh keyakinan, sulit untuk tidak memercayainya.

***
SORE itu, di pelataran rumah Syarif, sambil memandangi keredupan cahaya, kami saling beradu mulut tentang niat Syarif untuk mencoba ramuan yang akan membuatnya tertidur dua hari, bahkan lebih. Katanya, ramuan yang baru dia buat itu sudah disempurnakan dari sebelumnya.

“Kau jangan gila, Rif. Ibumu akan berpikir kau meninggal nanti,” seruku gelisah. 

“Tenang saja, sudah kutulis surat supaya Ibu tidak gelisah. Juga agar kau tidak dituduh yang bukan-bukan nanti,” bujuknya sambil menyodorkan kertas, lengkap dengan materai berikut tanda tangannya yang sudah tertera.

“Untuk bertemu para idolamu lagi?”

“Tidak hanya itu.”

“Lalu?”

“Aku ingin ke Negeri Impian.”

“Negeri Impian?”

“Ya. Negeri Impian. Negeri yang sering kudengar di dongeng-dongeng,” jelasnya menggebu. Meyakinkan.

Sebenarnya Syarif sudah lama memimpikan sebuah negeri yang harmonis, seperti negeri dalam dongeng yang sering diceritakan ibunya. Tapi sejak ibunya sibuk bekerja, dongeng-dongeng itu tak pernah didengarnya lagi.

“Kan banyak buku-buku dongeng, Rif.”

“Dongeng yang diceritakan Ibu tidak pernah ada dalam buku.” kata Syarif dengan muka kesal. Dia terlihat marah jika berbicara tentang ibunya. Entahlah dia tidak pernah cerita tentang wajahnya yang selalu kesal saat ada kata “ibu” dalam perbincangan kami.

***
“BEGITU awal mulanya kenapa Syarif tidur,” akhirnya kuceritakan untuk meyakinkan ibunya. 

“Apakah Syarif tidak pernah bercerita pada Ibu?”

“Aku sama sekali tidak tahu tentang tokoh, negeri dongeng, dan tentang ramauan yang bisa membuat orang yang meminumnya bermimpi sesukanya, bahkan tentang mimpi-mimpinya, sama sekali aku tidak tahu,” suaranya lirih. Pandangannya tertuju pada anaknya yang kaku.

“Apakah ramuan itu masih ada?” 

“Syarif tidak menyisakan sedikitpun, Bu?” kuperlihatkan plastik kosong yang digunakan untuk membungkus ramuan itu.

“Kamu bisa membuat ramuan itu? Atau ada catatan resep tentang ramuan itu?” aku menggelengkan kepala.

“Mungkin di balik kertas itu Syarif menuliskan resep ramuan itu, Bu.” Sriana membuka kertas yang sudah rusak itu karena remasan dan basah tangannya.

“Ada!” serunya. Tak lama setelah itu dia tertunduk lemas setelah mendapati tulisan di kertas itu tidak jelas dan beberapa bagian sudah sobek oleh tangannya yang basah. Sriana melipat kertas itu dengan rapi. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat. Tubuhnya kaku, diperbudak angannya.

“Apakah dia akan bangun?” tanyanya lirih sambil menciumi tangan Syarif yang kaku.

“Kenapa tubuhnya mulai bau?” serunya kemudian. Tubuhnya gemetar.

“Entahlah, hanya dia yang tahu,” jawabku singkat. Perempuan di hadapanku itu diam. Wajahnya sembap, matanya berkaca-kaca, penuh risau. (62) 

Jejak Imaji Juni 2013-2015

Sule Subaweh adalah nama pena dari Suliman, penulis dari Pamekasan, madura yang saat ini bekerja di UAD dan aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 12 April 2015

0 Response to "Ramuan Mimpi"