Sajak Delapan Rasa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sajak Delapan Rasa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:02 Rating: 4,5

Sajak Delapan Rasa

Sajak Delapan Rasa

1
Kamu bilang neraka bocor
Maka udara panas dan kotor
Matahari menggelinding di aspal dan beton
Kilaunya berkaca di gedung-gedung
Sengatnya mendarat di atap mobil
Jutaan bayang tersungkur di bawah pohon
Para pengendara menghembuskan karbon

“Oh, di mana kamu tukang solder?“

Bebatuan berkilat di batang sungai
Air mengalir keluh dan cemas
Angin bertikai dengan daun
Capung dan burung-burung lepaskan sayap
Semua ingin berendam
Tapi logam seperti bohlam
Menyala di setiap lubang

Ah. Kesejukan kini berada dalam kemasan
Gunung dan mata air dibawa ke kota-kota
Kenyamanan dikenai banderol dan pajak
kemewahan
Rakyat hanya boleh menikmati keringat rasa
penat

“Matahari tak ada di
pohon, karena tak ada pohon“
Matahari tak ada di danau, karena tak ada
danau“

Bocah-bocah tak bercelana berkerumun di
dalam mal
“Ngadem,“ katanya. Mereka lalu berlari
ke “Matahari“: coba-coba pakai celana!

2
Senang melihatmu berkipas menanti hujan
Tubuhmu melekatkan keringat dengan baju
Bagai siluet di bawah pancuran
Sexy bagai kartu undangan perkawinan

“Panggilkan pawang, atau lemparkan
Sate cabe dan bawang merah ke atas
genteng!“

Bukan sulap, bukan sihir
Langit pun naik birahi
Genteng segera basah air tumpah
Meluncur di setiap lekukan
Mengucur menghanyutkan sampah ke
selokan

“Doamu manjur, Cinta!“
“Jadi, apa dong upahnya?“

“Ikan bawal diasinin!“

Ah, hujan selalu indah
Dengan banjir sebagai hadiah!

3
Banjir lagi?
Ya, ya, ya, banjir lagi
Cuma bandang yang ke luar batasan
Karena sungai menciut
Karena sampah ketinggalan truk
Karena rumah-rumah mengerami penduduk

“Yang bisa banjir ya cuma air
Emang mau jadi apa lagi?“

Segala yang kotor girang berenang
Mereka berenang di ruang tamu
Mereka masuk ke kamar gadis-gadis
Mereka mencuri makanan di dapur-dapur
Mereka juga naik ke atap-atap
Seperti tikus got beli apartemen!

Emang mau main layang-layang juga?
So what? Sudah tradisi, mas bro!“

4
Sudahlah, sayangku
Tak usah bersedih
Semua yang hanyut tak akan kembali
Malah harus disyukuri
Mereka akan reuni di laut Lalu membahas duka-cita kita
Tentang rasa kehilangan Atas semua yang dicinta
Atas semua yang kita lupa

“Kamu ingat kado hari jadi kita?“
“Barongsai Imlek?“
“Bukan! Komik Donal Bebek“
“O, hanyut? Bebek bisa hanyut?“

Sudahlah, sayangku
Yang bersedih cuma dua:
Kalau sudah tak cinta
Kalau sudah tak benci

Kalau sudah nasib, mau bilang apa?
Kemarin tukang siomay cerita
Di Bekasi ada drakula naik kuda
Hausnya tidak terkira
Dia menggigit leher Tumirah
Disangkanya istri Pak Lurah!

5
Kalau memilih hidup susah
Untuk apa minta abadi?
Supaya keluhmu sampai ke akhir zaman?
Kamu tidak belajar dari drakula
Takut matahari tapi tidak takut peti mati

Makanya, pilih saja hidup senang & bahagia
Tiap hari ulang tahun, tiap hari potong kue
Tak usah nyalakan dan tiup lilin
Api tidak bersahabat dengan paru-paru
Kalau mau kado, bungkus saja sendiri!

Setel musiknya, menari & menyanyilah
“Hidup cuma sekali, masak tak mau nyanyi?“
“Nyanyi cuma sekali, masak tak mau hidup?“

Dengar, pianonya main di genteng
Di belakang, ada flute yang ragu
Dawai biola digesek maju mundur
Seperti simponi kehidupan di halaman depan
Lo, lihat saja!: Dirigennya makan rambutan?!
Keren!

6
Nah, begitu dong, tersenyum
Biar Tuhan kerja bantu Presiden Jokowi
Bikin tol laut dan poros maritim dunia
Muliakan hidup kita dengan membantu
sesama
Buka bibir, picingkan mata, jadilah senyum!

Gigimu besar dan bergingsul
Tak usah buka mulut lebar
Simbolis juga oke:
Taruh tanganmu menutup bibir
Ya, ya, sambil selfie juga oke!

Gampang kan beramal itu?
Kita bahagia, bikin orang lain bahagia
Seperti obral di toko: buy one get one 
Pasti tak ada yang rugi!

Pak Jokowi saja bisa jadi presiden
Masak kamu tidak bisa bahagia?
Meskipun masih agak norak, okelah dia
Jangan menilai orang dari sampul bukunya
Tak semua orang suka membaca buku!

7
Aku serius: bacalah!
Itu perintah Tuhan Tanpa buku, kita cuma akan jadi hantu
Itu sebabnya, di perpustakaan tak ada hantu!
Hantu takut pada buku dan debu
Mereka tahu, kita dan buku terbuat dari debu!
(Eh, sekurang-kurangnya, kita dan buku tak suka debu!)

Buku itu jendela dunia, sebelum ada windows 
Buku itu gudangnya ilmu, sebelum Google
Buku itu, ah ya, menulis tentang kita
Saat belajar membaca “Sajak Delapan Rasa“

Bab ketujuh tentang rasa sunyi
Meleleh dari halaman-halaman buku
Menangisi kurcaci dan Putri Salju Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Bertukar waktu di Tangkuban Perahu

Tragedi mengasingkan buku
Lebih sunyi dari puncak bersalju!

8
Dengarlah, nyanyian pucuk-pucuk gunung
Mereka merindu di hutan-hutan bambu
Melubangi seruling sehingga merdu
Mematuk burung sehingga berlagu

Bagai para kembara tak bisa pulang
Mereka melukiskan warna kelam
Hingga langit menutup tilam
Dengan awan berarak pelan

“Tinggi mengiris...
Rendah mendesah..."

Itu lagu menyayat lembah
Terdengar sampai ke luka!

Bekasi, Maret 2015 




Yudhistira ANM Massardi, sastrawan, lahir di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954.Selain aktif menulis puisi dan prosa, dia juga mengelola sebuah sekolah gratis untuk duafa di Bekasi.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhistira ANM Massardi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 26 April 2015

0 Response to "Sajak Delapan Rasa"