Seberkas Hikayat - Bidadari dari Tulang Sulbi - Seberang Pecenongan - Padepokan Sunyi - Cerita di Tanah Mandiraja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Seberkas Hikayat - Bidadari dari Tulang Sulbi - Seberang Pecenongan - Padepokan Sunyi - Cerita di Tanah Mandiraja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:18 Rating: 4,5

Seberkas Hikayat - Bidadari dari Tulang Sulbi - Seberang Pecenongan - Padepokan Sunyi - Cerita di Tanah Mandiraja

Seberkas Hikayat

Sepasang kita yang sejatinya tak mendapat puja-puji
menjadi mata dalam gulita pagi hingga petang karena
kabar angkara terprika. Lalu ababil dimandatkan batu
api yang dijanjikan adiraja semesta untuk membenam
hakikat segala dicipta adalah ada ketika butala begitu
kelam dari cahaya-cahaya. Angin, awan, sampai belalang
lelap di antara padang ilalang. Namun tidak dengan mata
kita, semestinya tak alpa dari persaksian Al-Masih
mengusap kebutaan sunyi yang kaprah oleh pengakuan
keliru para hamba atas jalan-jalan syuhada. Para petani
gandum tampak dari ladang mereka, terlenakan senja
untuk pulang selaksa kaum Luth kepayang anggur yang
tertenggak dari tempayan. Setelah api, setelah buta
memamai, apa lagi yang mereka nanti dari langit
memuntahkan sepi kepada mezbah yang luput
akan pujian?


Bidadari dari Tulang Sulbi

Suaramu yang parau seperti rintihan doa-doa pemegang
pedang setelah peperangan tertaklukkan. Tuhan adalah
hikayat perang yang disampaikan hujan melalui rintik-rintik
kelabu, darinya kau terjerembab dalam rintik lain, di ruang
sepi hingga angin tak kuasa menusuk tulang, namun
masih sebagai bagian dari cerita. Aku tergelinding denting
suara sesakmu, yang pasrah dan memilukan, di sebuah
kekosongan dinding-dinding mengembun, sisakan abu
kian tersapu gerimis, lantas hilang tanpa atsar. Kita dicipta
dari sekian ribu pekan, bulan bahkan abad yang dahulu,
kini menitikkan air sunyi yang pecah dalam rindu ter-
nafikan lelap, papa dari sumpah serapah menjadi persak-
sian bisu malaikat memberi catatan tanpa isyarat, untuk
mengakar benak menaruh patahan parau dalam hikayat
yang tak benar-benar ada. Tapi tidak bagi pemilik
dongeng, Tuhan berada dalam sarung pedang, yang diam
dari keadaan parau suara, tak berdaya dari carut-marut
perang yang bisu, mengubah menjadi senandung di balik
tirai putih sampai jelita tersedu masih parau kepada Adam,
"tidak denganku, kau tak tercipta dari sulbi".


Seberang Pecenongan

Nyanyian serupa liturgi
Disenandungkan olehnya,
perempuan tak berikat pinggang
Di seberang trotoar Haji Slamet; warung makan.

Ada dentuman yang amat besar
Mendera jantungnya yang kupu-kupu
Tapi air hujan tetap saja menderas
seakan ikut mengamini runtuh napasnya

Akan selalu seperti ini;
malam dengan kegulitaan merajam putih putiknya sampai
pagi tergopoh, ia tega lupakan senja demi kepulan uap
nasi hangat di meja makan.

Padepokan Sunyi

Zaman hilang terhempaskan ramai, di antara semak
belukar merapat. Sebuah hikayat yang tersisih dari butir
pasir nampaknya lupa diri, ketika sayap-sayap malaikat
beterbangan membawa risalah kepada Adam, Mariam ikut
menengadah atas lahirnya Al-Masih. Mengusap
kebutaan mata dari gelap semesta mematikan, lantaran
menyambangi kota diketahui berteman sunyi.

Saksi Bisu Lembah Nirbaya
Tiba-tiba saja angin bersepoi di muka pucat pasi mereka,
korban nahas atas lalimnya.
Mungkin inginkan harakiri, karena jeritnya tak lagi
didengar, manusia
Hanya sebagian kecil semesta yang mau mendengar,
daun-daun layu.
"O, inikah revolusi seperti Prancis, Abang?" Sorak-sorai
hujan di genting retak malam ini, mengalir bersama darah
mereka, yakni anjing yang tak bisa mengendus bau anyir.
Sampai tertangkap dan kali ini mereka benar-benar
berharap harakiri sebelum jam nol, di suatu dinihari.

Cerita di Tanah Mandiraja

Panas yang mengelupaskan kulit pepohonan di Mandiraja
laiknya bara yang dihadapkan ke muka; meleleh terbakar
Lalu lalang angkutan desa ke kota, di tepian kota, sampai
kota ke desa kembali seperti cacing yang menjulur amat
panjang, dan tetap demikian sampai tak bertemu jeda,
lubang untuk dimasuki; mereka mendahaga
dari tetesan embun.
Di keramaian dalam pasar, ada sebongkah harapan bagi
mereka, penjual sembako yang mengering
sayur-mayurnya untuk tetap berjualan
sampai kering keringat.
Siang ini begitu panjang, seperti panjangnya cacing tadi,
sampai-sampai debu lekat tebal di pipiku yang hitam,
lantas aku mandi dengan hujan air mata
di pinggiran jalan raya.
Mataku memerah karena konsentrasi yang amat pada
matanya yang lelah; menjejal rindu pada masa tuanya
yang rapuh bagai sayap kupu-kupu, rindu pada pelukan
angin di saat rembulan tengah purnama, di sajadah
bertabur air mata.

*Muhammad Badrun: lahir di Banyumas, 4 Juni 1994, tinggal di Darmakradenan RT 02/02 Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas 53163. Mahasiswa IAIN Purwokerto. Aktif di komunitas sastra Gubug Kecil.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Badrun
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 April 2015

0 Response to "Seberkas Hikayat - Bidadari dari Tulang Sulbi - Seberang Pecenongan - Padepokan Sunyi - Cerita di Tanah Mandiraja"