Seribu Peri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Seribu Peri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:04 Rating: 4,5

Seribu Peri

SEKARANG kau bilang dirimu dijaga oleh seribu peri. Tentu ini semacam pengakuan khas bocah yang dipenuhi imajinasi putri cantik, pangeran tampan, nenek sihir jahat, dan peri-peri. Jadi tentu semua orang hanya akan tersenyum tanpa perlu percaya, termasuk aku.

Dan ini adalah sebuah kesalahan.

Seharusnya, semua mengingat kejadian setahun lalu. Saat kau, yang kala itu baru berumur sembilan tahun, hilang selama 333 hari.

***
SELAMA ini, kau selalu menjawab dengan tak jelas tentang apa yang terjadi selama 333 hari itu. Ayahmu sampai memanggil seorang psikiater khusus anak. Tapi tetap saja ia tak bisa mengorek cerita lebih dalam lagi. 

Tapi padaku, kau bercerita. Tentu bukan cerita yang runtut seperti halnya cerita dari para tukang cerita. Ceritamu acak dan sedikit membingungkan. Beberapa bagian sangat tak jelas. Beberapa bagian yang lain terus diulangulang. Tapi setidaknya aku punya gambaran tentang apa yang terjadi selama 333 hari itu.

***
KATAMU, semuanya dimulai saat kedatangan hujan cahaya. 

Aku tak terlalu ingat apakah hujan seperti itu pernah terjadi di sini. Aku tak pernah keluar dari rumah. Aku hanya terus berada dalam lemari yang semakin terasa sempit. Tapi menurut ceritamu, hujan itu memang terjadi. Lewat tengah malam, cahaya-cahaya tiba-tiba turun dari langit. Awalnya kau pikir itu adalah bintang-bintang jatuh. Tapi ternyata bukan. Cahaya-cahaya itu hanyalah cahayacahaya kecil yang jatuh secara perlahanlahan. Dari situlah peri-peri itu kemudian muncul. Makhluk-makhluk kecil, sekecil tanganmu dengan empat sayapnya yang terlihat rapuh, seperti layaknya sayap seekor capung. Mereka beterbangan ke segala arah. 

Dan kau yang masih terjaga malam itu, melihat semua itu.

***
PERI-PERI yang bersembunyi di balik cahaya melihat keberadaanmu. Mereka kemudian melayang ke arahmu bagai ribuan kunang-kunang. 

Awalnya, kau tentu sangat ketakutan. Kau sempat menyesal, bagaimana mungkin malam ini tak ada seorang pun yang terjaga? Ke mana penjaga malam? Atau orang-orang mabuk yang biasanya masih terjaga di emperan jalan? 

Seharusnya aku juga dapat melihat semuanya. Tapi hari itu, lemari ditutup dengan rapat, sehingga aku tak bisa melihat apa pun di luar sana. Tapi katamu, peri-peri itu mengitari tubuhmu. Mereka seperti mengajakmu bercakap-cakap. Tapi suaranya telalu lirih dan tak kau pahami. Maka kau pun hanya memandangi periperi itu. Sampai kemudian, secara mengejutkan, peri-peri itu menyebar di tubuhmu. Lalu, perlahan-lahan tubuhmu pun terangkat, melayang ke angkasa. 

Esok paginya, orang tuamu melaporkan hilangnya dirimu.

***
KATAMU, kau hanya pergi bermain. Peri-peri mengajakmu ke sebuah taman yang indah. Ribuan kali lebih indah dari taman kota yang biasa kau datangi bersama ibumu.

Tempat pertama yang kau datangi adalah sebuah tempat dengan lima matahari di atas langitnya. Matahari yang berbeda tentunya. Ukurannya tak sama, dan yang pasti, sinarnya begitu lembut. 

Di sana kau bermain sepuasnya. Di sebelah utara ada pohon-pohon berbuah permen lolipop berbagai rasa. Di sebelah barat ada kolam cokelat dengan taburan meises. Di sebelah selatan ada gunung berisi boneka-boneka cantik yang selama ini kau impikan. Dan yang paling menyenangkan, di sebelah timur ada hamparan salju beserta beberapa patung salju dan penguin-pinguin yang lucu.

***
KAU bermain sampai lelah. Saat kau beristirahat itulah, kau mencoba menghitung peri-peri yang mengelilingimu. Tapi tentu saja itu upaya yang sia-sia. Peri-peri itu hanya tertawa, karena sedikit saja mereka bergerak, kau sudah harus menghitung dari awal. 

Kau akhirnya menyerah. Kau anggap saja mereka berjumlah seribu. Toh, itu tak harus dibuktikan oleh siapa pun. Setidaknya kau sekarang merasa senang berada di antara peri-peri. Kau ingat, dulu, ibumu pernah mendongeng tentang kisah Tinkerbell, peri sahabat Peter Pan. Sampai sekarang, kau masih takjub dengan pencipta kisah itu. Kau yakin, ia pastilah juga pernah melihat langsung peri-peri itu, sama seperti dirimu. 

Kelak, kau yakin akan menulis kisah seperti itu juga. 

***
LALU, kau pulang dengan kegembiraan. Peri-peri itu mengantarkanmu seperti saat ia menjemputmu. Mengawalinya dengan hujan cahaya lalu turun perlahan membawa dirimu, melalui jendela kamarmu. 

Katamu, kau hanya bermain satu hari saja. Namun yang terjadi di sini, kau hilang selama 333 hari. Tentu ini sesuatu yang janggal. Tapi kau tak peduli dengan semua itu. Toh, yang pasti, sejak itulah periperi itu selalu berada di sekelilingmu. Tak ada yang bisa melihatnya, termasuk aku. 

Tapi kau pernah mencoba membuktikan padaku. Kau memelukku di depan jendela. Berbisik pelan seperti mengucapkan doa. Aku mendengarnya seperti permohonan tentang hujan apel. Tentu saja semula aku tak yakin. Namun yang terjadi, tak berapa lama kemudian, apel-apel benar-benar berjatuhan di depan jendela kamarmu. Sejak itulah, kau mengatakan seribu peri telah menjagamu.

***
SEJAK itu pula kota ini menjadi kota yang aneh. Tiba-tiba banyak peneliti dan wartawan dari berbagai negara hadir di sini. Mereka mengamati hujan aneh yang terjadi belakangan ini. Karena setelah hujan apel yang menggemparkan, terjadi juga hujan boneka, hujan es krim, dan hujan permen.

Seorang pemuka agama berteriak-teriak bahwa itu adalah cara Tuhan mengasihani para bocah yang semakin tak dipedulikan orang tuanya. Dan kupikir itu ada betulnya. Namun seorang perempuan tua yang rumahnya tepat berada di depan rumahmu, tiba-tiba datang di kerumunan para wartawan.

‘’Kau tak akan mendapatkan apa-apa di sini,’’ serunya. ‘’Selama gadis kecil itu, tak muncul di jendela kamarnya, tak akan ada yang terjadi. Kalian mungkin menganggap aku gila, tapi kuberitahu kalian semua, gadis kecil di jendela itu adalah gadis yang dilaporkan hilang selama 333 hari. Perlu kutambahkan, malam sebelum ia hilang, itu adalah malam saat hujan cahaya datang kali pertama di kota ini. Dan saat hujan cahaya kedua kembali datang, itu adalah hari saat ia dinyatakan kembali.’’

***
PARA wartawan segera termakan ucapan itu. Mereka langsung mengorek-ngorek informasi tentang kejadian setahun lalu saat gadis kecil itu hilang selama 333 hari. Mereka juga bahkan mencoba mendekati orang tua gadis itu, dan meminta izin dipertemukan untuk wawancara.

Tentu saja, ayah dan ibumu hanya bisa diam.  Sebenarnya mereka berdua sudah mendengar cerita itu darimu. Tapi mereka tak ingin mempercayainya.

‘’Sudah kukatakan, peri-perilah yang melakukan itu semua,’’ kau seperti menyalahkan kedua orang tuamu yang tak percaya. ‘’Mereka semua bersembunyi di langit. Mereka yang membuat hujan-hujan aneh itu.’’ Ayahmu tampak marah.

‘’Karena ucapanmu itu, kini semua orang mencari dirimu, Kau harus mengenyahkan pikiran itu. Kalau tidak, orang-orang itu akan terus mengganggu hidup kita.’’

***
KAU merasa sedih. Bukan karena ayahmu tetap tak memercayaimu. Tapi karena ia memintamu untuk tak lagi mengingat kejadian itu. Seharian kau meringkuk di atas pembaringanmu, sementara di luar, para wartawan tak henti berteriak-teriak. 

‘’Nona kecil maukah kau bicara sebentar?’’ 

‘’Apa lagi hujan yang ingin kau hadirkan?’’Kau tak mengubris teriakan-teriakan itu.

‘’Nona kecil, benarkah kau bersama peri-peri?’’

‘’Apakah kau bisa menghadirkan hujan peri di sini?’’ Kau terdiam. Entah mengapa ucapan terakhir itu seperti mendatangkan ide di kepalamu. Ide yang bisa membuktikan ke semua orang, termasuk ayahmu, kalau kau tidaklah berbohong.

Maka kau beranjak ke arah jendela. Kembali, kau seperti berbisik sendiri. Dan tak berapa lama, muncullah cahayacahaya dari langit. Tentu, karena ini bukanlah malam hari, cahaya-cahaya itu nyaris tak terlihat. Tapi di situlah, peri-peri itu berada.

Semuanya berjatuhan. 

***
KAU menangis di kamarmu. Kau masih teringat hujan cahaya pada tengah hari itu. Sebuah cahaya mengarah ke telapak tanganmu. Dan kau lihat di situ, sesosok tubuh mungil dengan sayap patah, nyaris tak bergerak. 

Kenapa semuanya berjatuhan seperti ini? Bukannya melayang turun dengan perlahan? 

Kau benar-benar menyesal. Dengan air mata yang tak henti mengucur, kau kembali membuka jendela kamarmu. Di situ, kau berbisik-bisik lagi. 

Tapi tak ada yang terjadi. 

Tangismu semakin pecah. Terlebih saat kau melihat peri-peri yang bergeletakan di tanah. Beberapa peneliti dan wartawan segera berebutan. Bahkan beberapa ekor anjing liar memakannya.

***
AKU melihat kesedihanmu. Sepanjang menjadi penghuni kamar ini, aku tak pernah melihat dirimu sesedih ini. 

Kau bertanya-tanya padaku, apakah kau sudah membunuh seluruh peri? Bagaimana pula caranya agar peri-peri itu bisa kembali hidup? Tentu saja pertanyaan-pertanyaanmu tak bisa kujawab. Aku hanya bisa diam, dan berada di pelukanmu. 

Lalu, saat itulah mulai kulihat sesuatu pada dirimu. 

Aku tak tahu kau menyadari atau tidak. Tapi saat itulah aku melihat tubuhmu nampak aneh. Ada yang bergerakgerak di semua kulitmu. Kupikir, itu adalah kesalahan mata tuaku. Tapi tidak. Kulitmu memang terus bergerak-gerak. Seakan-akan ada yang ingin terlepas dari situ.

Dan benar, aku kemudian melihat sepasang sayap muncul di kulitmu, diiringi sayap-sayap lainnya di bagian tubuh yang lain. Mereka seperti berupaya keras melepaskan diri. Lalu tak lama kemudian, munculah peri pertama dari tubuhmu, diikuti oleh peri-peri lainnya.

Aku hanya bisa terdiam melihatnya. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin sekali berteriak. Tapi tentu aku tak mampu melakukannya. Bukankah selama ini yang bisa kulakukan hanyalah melihat saja? Jadi, kali ini pun begitu. Aku terus melihat peri-peri seperti terbebas dari tubuhmu, satu demi satu. Seakan seluruh tubuhmu merupakan gumpalan yang terbuat dari peri-peri itu. Sungguh, hanya beberapa saat saja, tubuhmu tak lagi bersisa. Hanya kamarmu yang dipenuhi peri-peri yang berterbangan di semua sudut.

Sementara di luar jendela, kulihat hujan cahaya kembali hadir. Saat cahaya-cahaya itu semakin rendah, peri-peri itu tiba-tiba melayang satu demi satu ke arahnya. Ini yang kemudian membuat cahaya-cahaya itu kembali melesat ke angkasa.

Ya, hujan cahaya seperti berbalik sebelum jatuh.

Aku tahu, ia pergi membawamu. (62)


--Yudhi Herwibowo,aktif di Buletin Sastra Pawon, Solo. Novel terbarunya berjudul Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Noura Books, 2015)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 26 April 2015

0 Response to "Seribu Peri"