Si Dungu Pencari Surga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Si Dungu Pencari Surga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:59 Rating: 4,5

Si Dungu Pencari Surga

KENTHIR si bocah dungu itu sibuk mengis-ngais tanah. Ia mencerai-beraikan bulir-bulir tanah yang bergumpal hingga menjadi serpihan debu yang rawan diterbangkan angin. Tak ada yang benar-benar ia cari, sekadar iseng membunuh waktu yang acap membuatnya jemu.

"HEI dungu, sedang apa kau? Ingin mengaduk-aduk tahi ayam ya?" sapa pak Buntal--lajang lapuk berbadan tambun menggelambir--dengan aksen mengolok Kenthir. 

Kenthir menoleh, tetapi tak menjawab. Sekilas, wajahnya terlihat kusut menyimpan kesal. Bukan marah karena pak Buntal mengejeknya, melainkan suam melengking itu membuat keasyikannya mengais-ngais tanah terusik. Secara harfiah, Kenthir tak pernah sadar apakah ia seorang dungu atau tidak. Toh, retardasi mental yang ia alami membuat keseimbangan pengetahuannya tentang benar dan salah berantakan.

"Untitled" karya Niko Wiratama
Tak berminat menjawab sapaan pak Buntal, Kenthir justru menyanyi-nyanyi dengan "nyanyian alam". Nyanyian berlirik serabutan yang hanya dapat dipahami oleh dirinya dan rumput bergoyang. Bahkan, seekor burung yang bertengger di dahan memilih terbang jika mendengar Kenthir bernyanyi.

Apa pun itu, Kenthir tetap dengan segala keasyikannya. Bahkan sekilas ia malah terlihat lebih bersemangat dibandingkan dengan gerombolan ayam yang sedang mematuk-matuk cacing tanah di bawah pohon randu.

Merasa tidak diacuhkan, pak Buntal berteriak memanggil ibu Kenthir yang sedang membersihkan jamban. "Kak Maaar...Kak Maar...! Lihatlah kebiasaan Kenthir anakmu ini! Bawalah ia masuk ke dalam rumah. Tangannya pasti sudah bau tahi ayam!"

Suara pak Buntal yang nyaring dan lantang membuat Maryatun terundang datang tanpa menunggu panggilan untuk kedua kalinya. Tergopoh-gopoh ia keluar dari bilik jamban dengan busana setengah basah. Napasnya berpacu tak ubah habis memburu kancil liar di rahim hutan. Peluh merayap-rayap gugur dari pori-pori dahinya. Sementara mulutnya bergerak-gerak mengeluarkan gumaman-gumaman pedas. 

"Hah...anak itu lagi," dumelnya dalam nada sayup-sayup.

Kenthir tidak menyadari bahwa perempuan yang telah menjadiibu tiriya sejak setengah tahun silam akan menghampirinya, mencubit dan menjewer kelopak telinganya seperti biasa. Setelah puas, Maryatun akan mengurungnya di dalam gudang hingga si ayah pulang dari tugas berladang di lahan orang.

**
MENURUT Kenthir, Maryatun bukanlah ibu sebaik ibunya yang telah terbang ke nirwana. Satu-satunya wanita yang dia sebut-sebut sebagai titisan bidadari. Tentu, bidadari antah berantah hasil rekayasa otaknya yang hanya sebesar genggaman tangan. Sementara Maryatun tak kurang dari apa yang dinamakan iblis betina, bertanduk menyerupai rusa. 

Maryatun begitu gemar mempermasalahkan Kenthir di depan ayahnya karena tindakan-tindakannya selalu dianggap bodoh oleh kebanyakan orang. Bibir Maryatun akan menampilkan senyum selebar lengkung busur panah bila ayah Kenthir turut menyumpah serapah. Maryatun pula yang nyata-nyata kerap mempermasalahkan tampak adenoid Kenthir, tetapi tak pernah berani bertanya kepada Tuhan mengapa bocah tirinya itu diciptakan berwajah lebar dengan pipi turun dan bibir memble.
"Kenthiiirrr... lagi-lagi kau main tanah ya? Dasar bocah dungu!" umpat serapah Maryatun seraya mencubit pinggang Kenthir hingga membuat anak itu mengaduh keras. 

"Aduuuh... sakit Mak, sakit Mak," keluh Kenthir, tak tahan dengan rasa perih yang ditimbulkan dari capitan kuku setan Maryatun. Saking sakitnya, tangannya yang terkepal menggenggam tanah tak sanggup ia buka.
"Ampun enggak? Ampun enggak?" ancam Maryatun. Jari-jemarinya semakin tergoda mencuil daging tubuh Kenthir. 

Kenthir meragu. Hatinya memaksa untuk berkata "tidak", tetapi kulitnya serasa protes akan rasa sakit yang ia terima. Ia bungkam, tetapi benaknya berusaha mencari celah untuk menyelamatkan diri. Satu ide menjulang secara tiba-tiba, memaksanya melakukan perbuatan yang pasti akan tetap dianggap bodoh. Ia terpikir bahwa tanah di tangannya bisa dijadikan perisai untuk melumpuhkan kekejaman Maryatun. 

Sreeessshh..! Setangkup tanah dalam kepalan tangan Kenthir berhamburan menyerbu wajah Maryatun. Spontan Maryatun kelabakan kala butiran tanah tak hanya mengotori wajahnya, tetapi juga membuat sepasang matnaya gataldan perih. Sontak tangannya berhenti mencubiti Kenthir karena ia lebih peduli mengurus nasib matanya sendiri. Kendati demikian, mulutnyamasih saja meracau, mengumpat-ngumpat pada bocah tirinya yang mendulang kemenangan.

"Sialan kau, Kenthir! Bocah dungu, kurang ajar! Awas kau ya, mati kau kubuat nanti!" ancam Maryatun berapi-api. 

Bukannya takut akan ancaman Maryatun, Kenthir justru terkikik geli melihat Maryatun kelimpungan mengucek-ngucek mata. Bagi Kenthir yang dungu, melihat Maryatun menderita karea ulahnya justru seperti menyaksikan dagelan yang menggelitik perut. 

"Hihihi... Emak kayak cacing kepanasan. We...we...wee..."ledeknya seraya menjulurkan lidah dan mengembangkan dua belah tangannya di sisi telinga. Lalu, sebelum tertangkap untuk kedua kalinya, Kenthir memilih berlari menuju sembarang arah.

Langkah-langkah kecil Kenthir berhasil menjauhi rumah dan wanita bertanduk yang membuatnya jengah. Sebuah tepian anak sungai akhirnya menjadi tujuan yang tidak terencanakan olehnya. Di tepian sungai, Kenthir bisa leluasa menciprat-cipratkan air hingga terkadang membasahi wajahnya sendiri. Begitulah Kenthir, dia tampak begitu senang dan seolah tak pernah merasa membuat Maryatun jengkel.

**
TERNYATA, di luar sepengetahuan Kenthir, pak Buntal yang usil telah membuntutinya sedari ia lolos dari jangkauan Maryatun. "Hei, Kenthir. Setelah main tanah, sekarang kau malah main air. Apa-apaan kerjaan kau ini, bicah dungu?" Lagi-lagi laki-laki berperut setengah lingkaran bola basket itu meledek.

Kenthir tak sudi membalas. Seperti biasa, ia lebih suka membisu dan mempersilakan angin menelan ocehan sampah si buntal itu.

"Kau tidak boleh jahat pada ibumu! Kau lihat kan, mata ibumu sakit karena kau siram tanah?"

Kenthir masih tidak tertarik menimpali apa pun, kecuali terus bermain-main air. 

"Setiap ibu itu istimewa. Selalu ada surga di telapak kaki mereka. Kau harus tahu itu!" ucap pak Buntal setengah membentak karena kesal tak digubris.

Kenthir terkesiap. Bukan karena suara pak Buntal yang terdengar marah padanya, melainkan karena sebaris kalimat Pak Buntal memancing rasa ingin tahunya.

"Surga apa?" tanya Kenthir polos, tetapi diiringi ekspresi datar.

"Surgamulah, bocah dungu! Kau tidak bisa mencium aroma surga kalau si Maryatun, ibumu itu, tidak mengizinkan," terang pak Buntal kasar.

Tampaknya, penjelasan pak Buntal terlalu rumit untuk ia pahami. Jadilah Kenthir harus mengulang pertanyaan yang sama untuk kedua kali, "Surga apa?"

Pak Buntal terdiam sejenak. Bukan karna tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan Kenthir, melainkan karena dalam hatinya menyayangkan betapa dungunya bocah dua belas tahun itu. "Surga, tempat yang indah. Paling indah. Tidak ada tempat seindah surga di dekat-dekat sini."

"Ada mainan?" tanya Kenthir mulai tertarik. 

"Oh pasti ada. Bukan tanah, air, atau tahi ayam seperti kau main-mainkan setiap hari. Mainan bagus. Sangat bagus."

Mata Kenthir yang juling langsung terlihat berbinar-binar," Aku mau ke sana," ujarnya semangat.

"Pergilah, kau cium telapak kaki ibumu di rumah! Ada aroma surga di sana," ujar pak Buntal mempersilakan.

Dengan berlari-lari kecil, Kenthir pulang menuju rumah. Tak ia hiraukan apakah kelak Maryatun membuktikan ancamannya atau tidak. Niatnya polos: hanya ingin ke surga dan mencium aromanya. Lebih dari itu, akalnya tak pernah sampai kepada makna surga yang sesungguhnya.

Setiba di rumah semi permanen yang mengundang kesedihan bagi siapa saja yang melihat, Kenthir masuk tanpa lebih dulu mencuci kakinya yang kotor tak berterompa. Suasana begitu hening. Hanya semilir angin lancang mencuri masuk, menggerak-gerakkan tirai, dan menimbulkan suara "kresek...kresek". Ia longok bilik-bilik di dalam rumah, tetapi tak ditemukannya perempuan bertelapak kaki surga tersebut. 

Ia terus mencari... mencari... dan mencari. Ternyata, ia menemukan Maryatun tergeletak di lantai tepat di sisi bawah ranjang tua, sedang mendengkur keras. Tampak begitu pulas. 

Pelan-pelan Kenthir mendekat. Ia mendekat. Ia sibak sarung yang menutupi bagian telapak kaki Maryatun, lalu tersembullah telapak kaki berkulit kering dan pecah-pecah. Telapak kaki yang oleh para nyonya besar terlihat lebih buruk daripada keset bekas. Kenthir tak peduli dengan penampakan telapak kaki Maryatun. Ia hanya ingin mencium aroma surga dan berkelana ke tempat indah yang dipenuhi banyak mainan, seperti cerita pak Buntal. Diam-diam, Kenthir mencodongkan wajahnya dan menempelkan ujung cuping hidungnya ke telapak tangan kaki Maryatun.

Sejenak ia bertahan. Akan tetapi, kemudian ia meludah sambil berujar polos, penuh kedunguan, "Akh sialan! Surga bau tahi ayam!"

Maryatun terbangun sambil tersenyum licik mencengkeram lengan cungkring Kenthir, "Mampus, kena kau!" ***

*) Ullan Pralihanta, tinggal di Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ullan Pralihanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" 19 April 2015

0 Response to "Si Dungu Pencari Surga"