Surat - Perpustakaan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Surat - Perpustakaan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:41 Rating: 4,5

Surat - Perpustakaan

Surat

 —A.K.

Sebuah surat kuterima.
Nama dan alamatku tertera di bagian depan
amplop putih
itu.
Namamu mengular rapi di belakang,
tanpa alamat.

Secarik surat kuterima.
Selembar kertas putih
kosong
di dalamnya.

Kuperiksa saksama
lembar putih berlipat tiga:

Tak ada aksara,
tak ada kata-kata.
Hanya samar aroma padma
mengusik udara.

Apa yang tertera?
Apa yang tertulis di sana?
Apa yang hendak kausampaikan,
sesungguhnya?

Dan aku pun meraba:
Tekstur, atau kontur, kertas itu
mungkin menyimpan metafora,
majas, atau suatu umpama.
Namun apakah maknanya?

Dan aku pun menerka:
Hamparan bersih yang ada di depan mata
mungkin menyembunyikan beragam isyarat,
petunjuk, atau beraneka penanda.
Namun di manakah
seperti apakah
petanda-petandanya?

Dan aku pun merasa:
Sunyi yang terhampar
menggumpalkan bermacam suara.
Hening yang memendar
terang
merangkum sengkarut rerupa,
menyilaukan mata.

Namun perlahan,
hanya bayanganmu yang membayang:
Wajahmu tercenung
menatap ke depan.
Tanganmu menggenggam pena
tak jadi kau gerakkan.
Pipi bersihmu bersandar di meja
tanpa ukiran.
Hembus nafasmu menghantam kertas
menyerakkan kesunyian.

2014


Perpustakaan

Alam semesta, yang mereka sebut perpustakaan itu,
terdiri dari ruang-ruang segi enam tak tertentu,
mungkin tak terhingga. —J.L.B.

Ia membuka pintu,
dan masuk ke dalam perpustakaan itu.

Deretan buku pertama:
wajah seorang wanita
sesosok pria, senyum perempuan renta,
aneka benda, aneka warna, aneka rupa.

Dan karena tak mengerti itu semua
ia pun menangis
sejadi-jadinya.

Dari mana
ia harus mulai mengeja?
Ia berusaha merengkuh sebuah buku,
namun tangan seorang perempuan
menghalanginya.

Bagaimana ia
harus mulai membaca?
Halaman ke berapa, buku apa,
bagian mana, cerita seperti apa
yang harus terus ia ingat
agar ia bisa menafsir, mengerti, memahami
kisah-kisah yang telah lalu,
kisah-kisah yang ada di depan mata,
juga cerita-cerita yang akan terbentang
bersama masa?

Ia mulai menerka-nerka
namun karena tak juga mengerti
hal-ihwal yang ada
ia pun menangis
sejadi-jadinya.

Apa saja yang harus
mulai ia baca?
Katalog apa, definisi mana, kamus siapa
yang harus ia percaya?

Ia terus tinggal di perpustakaan itu
sambil berharap
mendapatkan berbagai penjelasan.
Namun karena tak kunjung menemukan
beragam hal yang disebut jawaban
ia pun memilih diam
meski kadang masih juga
airmata ia titikkan.

2014



Zaim Rofiqi telah menerbitkan, antara lain, Matinya Seorang Atheis (kumpulan cerita pendek, 2011) dan Seperti Mencintaimu (kumpulan sajak, 2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zaim Rofiqi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 19 April 2015

0 Response to "Surat - Perpustakaan"