Tanah Airku - Lampu Kota dan Kebisingan - Kepada Solo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tanah Airku - Lampu Kota dan Kebisingan - Kepada Solo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:34 Rating: 4,5

Tanah Airku - Lampu Kota dan Kebisingan - Kepada Solo

Tanah Airku,

Bagiku, kau
bagai nyingnying dalam mulut kucing

 Lampu Kota dan Kebisingan

memejamkan mata melihat lampu kota
Seperti melihat kematian angka-angka
Tanggal-tanggal ganjil. dan buku puisi yang sedang
Melas dibaca oleh para pendosa dan pihak pemerintah

Membicarakan pelacur yang tidak mandi,
Membaca doa-doa yang sering kita lupa
Bagaimana membuat surat jujur dari rasa ingin tahu
Dan keingintahuan kita yang lupa bagaimana membuat undangan 
pernikahan dengan kekasih

Musim telah tiada dari garisnya,
Separuh kejujuran dari pintu-pintu rumah masa lalu
Mencatat segala dari segala,
Membius jalan, gang, dan pengajian hujan
 yang hilang dari akarnya

Tiada lain kita hanya terdiam melihat reklame
bertuliskan
: orang bijak bayar pajak
Sekitar pukul 01:00, lampu kota padam tanpa pemberitahuan dari aparat
Penjual gorengan meninggal dunia, diracun istrinya
lima menit yang lalu
Tidak sengaja istrinya ingin gula tapi bukan gula
Untuk kopinya: racun tikus, karena mati lampu
Padahal sudah bayar pajak katanya

Memejamkan mata, buta kita, buta hidup, buta
kekuasaan
kongkalikong: kalian harus belajar mengaji
Banyak di sana tentang dosa dan pembalasannya
Tentang maling dan nerakanya, tentang manusia
tamak dengan abu lahap dan istrinya

Apa kelebihan kalian, selain mematikan lampu kota
Biar bisa ngumpet dan lolos dari kejaran anjing betina

Kepada Solo

Kepada tanahmu,
Aku mengembalikan air susu ibu pertiwi
Menyeka nama-nama pahlawan di batas kotamu
Jalan sudirman malam itu,

: Dingin menyuapi bibirku, basah.
Tukang sate sedang memandangku perih
Sedangkan disebuah halte, seorang gadis
telanjang dada
Memeras airmatanya sendiri,
menawarkan jasa demi tajamnya hidup

: reklame-reklame tentang iklan pembalut
Pembersih muka dan sebagian adalah iman seorang
pemimpin yang runtuh
dengan muka badut__kuperhatikan sesaat
sedangkan pengemis, pengamen
dan orang-orang pasar
menjerit kehilangan kemerdekaannya

Gunung-gunung sampah yang kekurangan  anggota
Untuk membuangnya
Terminal kumuh dan status pencopet yang semakin gila

Kepada tanahmu,
Aku menulis tubuhku sendiri dengan puisi
Membiarkan hangat suasana kembali seperti dulu 
masa
meraba sesuatu yang hidup dan akan mati tiba-tiba

Perjalanan yang panjang
menuju tubuhmu, keringat mengelupas dari
biji pori-pori, koran pagi aku baca
seperti namamu__berita harian yang membosankan
aku lebih mnegerti bagaimana kota ini diciptakan dari
sperma perjuangan para pahlawan

jalan sudirman pagi hari, kentut dari kendaraan
yang belum hilang bekas semalam
mencuci hidungku tanpa ampun, lampu kota yang
lupa dimatikan, dan sekelompok anak muda yang 
pulang sehabis malam mingguan 
bangun kesiangan, bolos sekolah dan bau alkohol
batuk darah
: ibumu seorang pelacur, atau ayahmu yang germo?

silakan masuk, kota ini ramai oleh turis
asal pulang jangan bawa anak gadis, karena itu
adalah harta masa depan yang belum di iris

kepada tanahmu,
aku mengembalikan air susu ibu pertiwi
sebelum semuanya terjadi, aku hanya penyair
dari jauh, ingin menulis sajak kepadamu

Jangan takut, karena ketika aku pamit
puisi ini adalah anak kandungmu yang hilang
dan aku mengembalikannya untuk anak cucumu

Lalu, jangan kalian tanya
kenapa kota ini sepi dan mati oleh puisi



En Kurliadi Nf: aktif di Forum Sastra Bekasi,
tinggal di Jalan Pemuda Raya RT 003 RW 005 Kranji Bekasi Barat


Rujukan:
[1] Disalin dari karya En Kurliadi Nf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 April 2015



0 Response to "Tanah Airku - Lampu Kota dan Kebisingan - Kepada Solo"