Tanah Kita - Tanah Tuan - Puisi dan Aku - Anak-Anak Masa Depan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tanah Kita - Tanah Tuan - Puisi dan Aku - Anak-Anak Masa Depan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:43 Rating: 4,5

Tanah Kita - Tanah Tuan - Puisi dan Aku - Anak-Anak Masa Depan

Tanah Kita

Nak, di matamu yang cekung
Ibu melihat lambung kosong
Kini kita seperti boneka, ditelan angka
Sejengkal demi sejengkal, tanah ini
bukan milik kita!

Mei 2014

Tanah Tuan

Seperti yang kubisikkan di telingamu, pada
musim lalu
Pesta pora hanya sebatas kata-kata, seperti
teriakan pemuda
Yang terinjak tiang baliho dan matanya yang
berbicara
Tentang perut negeri tempat anak-anak bermain
ayunan, tertawa
Sambil membawa buku-buku kusam dan pensil
setengah tajam
Kini bumi telanjang, kita saksikan tarian kering
bersama
anak-anak kehidupan yang menangis di pojok
peradaban
Tanah, pohon, sawah, kebun, hanya menghuni
dalam diam
di dada kenangan. Setiap tetes airmata mencipta
ceruk dada
dan tanya: siapakah pemilik sah negeri ini?
Kini penguasa seperti malaikat, kita menjadi
angka-angka
demi kebanggaan yang disebut keadilan.
Tanah dirampas, kita terhempas, orang-orang
tergilas
Laut, angin di pantai mencipta ombak menderu-deru
serupa
jerit pilu di empat penjuru langit. Kita cuma
menghitung
jatah, kalender gugur satu-satu. Lalu bumi
bersaksi demi
darah terkubur bersama bangkai matahari dan
ari ari

2014

Puisi dan Aku

Perjalanan mendaki pada bukit sempit
terjatuh, mendaki lagi dengan membawa
risalah pendosa di dada
Lalu kunikmati biola mengalun,
Bercinta dengan fatwa pujangga,
penyair kesepian di jalan Tuhan,
saat kata-kata berpendaran,
menyentuh kesadaran
pada Nietsche, pengetahuan adalah pintu
pembuktian akal bagi semesta
pada Rimbaud, kegelisahan adalah opera
kehidupan dari neraka
pada Jenar, sabda pandita adalah cerita
hakikat dan makrifat, ketuhanan
Sedang padaku, perjalanan tetap menjadi tanya
seperti pengembara lara di rimba belantara

Februari 2014

Anak-Anak Masa Depan

Aku bukan ras terakhir dari peradaban tua
Rapuh ditelan bulan, bayangbayang musim kawin
Santapan syahwat yang menagih percik embun
malam
Sedang kesucian tetap hidup di jantung Maria
Kudengar angin menyeret tawa dari Utara
Sedang tubuhku menelan kemelut zaman tanpa ibu
meresap serupa tanah, akar dan pohon kepada air
Kudengar tangis anak anak selokan menagih susu
bukan nyanyian peri, menghibur hati yang pasi
Inilah percintaan Timur dan Barat berjumpa di kepala
Bergulir peradaban, jutaan aku tenggelam dalam
tangis
di lubang nyawa, sedang anak anak rahim,
kehilangan bapak kehidupan
Aku bukan ras terakhir dari peradaban pincang
Tapi berjalan tegak, memberi payung pada
anak anak masa depan

2014


— Weni Suryandari, lahir di Surabaya 4 Februari dan saat ini tinggal di Bekasi. Puisi-puisinya terbit di beberapa media massa dan aktif di Komunitas Pasar Malam Sastra Reboan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Weni Suryandari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 12 April 2015

0 Response to "Tanah Kita - Tanah Tuan - Puisi dan Aku - Anak-Anak Masa Depan"