Tembang Awal Tahun Sarmo - Perempuan yang Terjebak Waktu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tembang Awal Tahun Sarmo - Perempuan yang Terjebak Waktu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:10 Rating: 4,5

Tembang Awal Tahun Sarmo - Perempuan yang Terjebak Waktu

Tembang Awal Tahun Sarmo

:  tentang kado PHK di awal tahun

Setelah ledakan api di cakrawala matamu dan gaduh pesta pora
tak mampu memampatkan mata air yang kau peram
pada gugusan awan di pucuk-pucuk rambutmu
penantianmu yang tabah kau tanam pada tanah-tanah kosong
pengharapan
hanya menumbuhkan ilalang duka
Kau lihat langit yang selalu kau daki
lelah menampung kata-kata hampa dan perjanjianan
yang berakhir tanpa makna
Bertahun-tahun tubuhmu menjadi tumpukan lentur kulit-kulit kayu
Matamu telah kau ganti dengan lipatan kertas origami
dan otakmu yang pernah gilap bercahaya kini mulai redup
menerangi remang sunyi ruangmu sendiri

Apakah namamu kini hanya sebuah kenangan
yang akan ditatahkan pada epitaf
sementara rintih istrimu dan rengek bocah-bocahmu
setiap hari menombak dadamu yang semakin koyak?

Rumah daun rerumputan
patahan tawa yang bersipongang
dan lembaran-lembaran langit kelabu
mampukah menaungimu dari batang-batang hujan
yang (mungkin) bisa menghanyutkanmu dari peta?

Januari, 2015


Perempuan yang Terjebak Waktu

Bagaimana waktu melamunkan dan mendustaimu
mencuri angka-angka pada kalender
membunuh jam dinding dan menggergaji jarum-jarumnya?

Digenangkannya racun dan garam pada udara
hingga layu matahari
dan cahaya telah terlupa kapan mencairkan antartika

Perempuan yang sibuk menjengkal saraf otaknya
bercakap-cakap pada punggungnya sendiri
menatah langit yang meleleh di sekujur tubuhnya
hingga penuh tanda tanya
yang menggigit serombongan kapur pada belulang
meruntuhkan mahkota bunga
pada kelopak matanya
dan mulut-mulut di hatinya kini terbungka seribu selotipe

Perempuan yang terjebak waktu
cermin realitas telah pecah terhunjam di dadanya

Kapan Aku Kembali ke Kotamu

Apakah aku akan kembali ke kotamu
ketika patahan-patahan sinar matahari melamurkan debu
dan glodok pecut di tepi jalan itu telah melubangi kelambu langit?
Belum sembuh benar luka itu
Luka selebar muram mata fobia
yang dimampatkan pada pengapnya keramaian bus kota
dan aku sibuk tersiksa meraba-raba di kegelapan kereta malam
yang menyala
Masih ingatkan kamu lampu-lampu jalan di kotamu
pernah melilit mematuk hatiku hingga remuk
dan luasnya mal menyesatkanku pada arah dan penjuru?

Pernah sesekali dalam mimpi aku mencoba datang
sekadar menengok putih gigimu
dan memastikan tawamu masih mampu membakar urat leherku
tetapi tiba-tiba kakiku berubah menjadi bayangan

Kapan aku kan kembali ke kotamu
menyelesaikan puzzle yang belum rampung?
Atau barangkali mencuci jejakku yang telah menjadi abu

Hari-hari yang Berlepasan

Barangkali aku masih menjadi larva
ketika hari-hari berlepasan dari tangkainya
dan baju yang kupakai masih menyisakan gatal-gatal ulat bulu

Telah kulihat buku-buku yang menjadi kiblat
kepalan tangan menjadi otak
dan garis tangan dianggap firman Tuhan
Belati di mulutmu telah mengiris daging-daging tetanggamu
suatu waktu

Keherananku
kehidupan telah menjadi patahan dan retakan
Manusia banyak kepalanya
Bibir yang membelah diri berlari-lari mencari pasangannya

Hari-hari yang berlepasan itu
terhenti dimakan kematian



*Anung Ageng Prihantoko: lahir di Cilacap 8 Desember 1979, tinggal di Jalan Jeruk Manis RT 3 RW 6 Kedawung Kroya Cilacap 53282


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anung Ageng Prihantoko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 April 2015 

0 Response to "Tembang Awal Tahun Sarmo - Perempuan yang Terjebak Waktu "