Tepi Laut Pada Anakku - Tanggul Bakung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tepi Laut Pada Anakku - Tanggul Bakung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Tepi Laut Pada Anakku - Tanggul Bakung

Tepi Laut Pada Anakku

Tidak ada laut di kampung ayah
Karena laut itu bijak laut itu bertuah
Tidak seperti ayah yang terambung-ambung
dilamun sajak yang indah-indah

Ayah itu tidak bijak
Ayah itu tidak bertuah
Ayah hanya seorang laki-laki gatal
Ayah pergi bepergian selagi ibumu belajar membadung engkau
                                                                     dengan badung kain
belajar memindahkan air susunya ke dalam
termos pengawet air susu yang disimpan
                                                                  di lemari pendingin
Ayah bertualang selagi engkau masih ditimang
Tidak kembali sampai engkau pandai
membedakan ayah dengan orang

Ayah sungguh tidak seperti laut yang bebas membiarkan
engkau melepas pandang
                                                                         sejauh-jauhnya
berlarian                                                           sekuat-kuatnya
menyelam                                                         sedalam-dalamnya

Ayah tidak seperti apapun
dari laut yang tiada putus mengulurkan isi tanpa meminta apa-apa
Bahkan ayah tidak seperti manusia sehari-hari
Manusia yang membawa ibumu kepada kenyataan
kepada                                                       bus umum
                                                                  angkutan kota yang sudah keluar
sebelum matahari benar-benar pasti                                           akan keluar
dari peraduan

Ayah hanya tembiluk
di sisi pohon-pohon yang berbuah untuk mereka
Di sisi laut dan ibumu
Di atas tanah
Di bawah langit biru

Kalau ayah datang memelukmu sesekali itu
karena ayah ingin dipeluk selama-lamanya
Kalau ayah menjunjungmu tinggi-tinggi itu
karena ayah berharap engkau akan lekas besar
untuk membalasnya

Jangan cari ayah
pada payang-payang yang melaut hingga ke Pagai
lampu-lampu bagan yang terayun-ayun
lagu pukat yang berjela-jela serupa alun melilit alun
Ayah tidak ada bersama mereka
Ayah pergi melamun
Dan telah tiba di sebuah laut yang tidak ada gelombangnya
Tidak ada angin
Tidak ada suara
Tidak ada jin yang dapat disuruh-suruh
perahu-perahu yang bisa dikayuh

Ayah telah tiba
di pangkal jarum yang tidak ada lubangnya
Waktu ayah masuk
Langit dan bumi itu pun terbebas
dari bahtera yang membawanya

Maafkanlah jika ayah tak ada
di bandar-bandar yang ramai dikunjungi orang
jika ayah tidak dapat mendapatkanmu
dalam rumah yang pintunya bisa diketuk
tiang-tiangnya bisa diraba dengan tangan telanjang

Tidak ada rumah di kampung ayah
Karena rumah itu tempat pulang
Limpapeh-nya lurus
Lampunya lampus
Pada naungnya nenek
Pada naungnya ibu
Pada naungnya mamak berunding untuk mengambil
kata putus

Laut juga asal-usulnya
Laut yang kini sudah menjadi puntung
Yang kusulut untuk menjadi sekadar
cendera mata

Untukmu anakku
Aku telah menjadi abu di tepi laut yang telah tiba di batasnya
Bukan mainan dalam satinya

Maret 2015

Tanggul Bakung

Aku berkabar
Aku berberita

Seluruh Lebong tenggelam
Saat Si Pahit Lidah meludah sambil mengutuk
sungai Ketahun
Tinggallah kini sebuah suaka yang sejuk
Desau air di mana-mana
Bila panjang musim hujan
Tanggul bakung di danaunya terbawa hanyut
walau tak sampai ke muara

Tak sampai ke batas kata
Aku tergamang di tepian
Orang menyelami lubuk
Aku terceguk di daratan
Sesaklah dada
Lintuhlah persendian
Tali seganting telah putus
Getah sebukit tiada dapat menautkan

Tinggallah kini
sepenggal guritan yang usang ujungnya
Antara Curup dan Muara Aman
Seorang Ayah yang malang tersedu-sedan
menyimaknya

Desau air di mana-mana
Aku meluap
Tanggul bakung berlumut tak dapat lagi membendungku
Kubawa ia leka
ke dalam sajak yang menumpang nafas ke nafasku

Kukabarkan kabar diriku
Kusisi punuk Bukit Pengadang
Kuseberangi gelombangkabut yang menggigil
melintasi dusun dan ladang-ladang

Kutemani para petani bekerja
Kuayun cangkul
Kukayuh biduk nan sebatang
Kulengkapi waktu mereka dengan waktu senggang yang panjang

Agar dapatlah terdengar suara-suara sunyi
di bawah telapak kaki
Ketika dataran sempit yang tua itu bergerak
kawah-kawah mati yang mengepungnya
diam-diam mengirimkan tanda

Berkata tentang gelundung rusak
Tunggul-tunggul gosong
Mantagi rimba yang lumpuh
Harimau tua yang marah itu pun kulihat rubuh
di muka sebuah terowongan runtuh

Aku juga melihat jalan lintas yang hancur
Truk-truk gandeng penuh muatan
Kapal-kapal hantu penampung kayu yang labuhnya
tak pernah ditemukan

Aku berkabar aku berberita
Seluruh Lebong tenggelam
Saat aku meluap di hulu air Ketahun

Tinggallah kini
selembar kertas kosong untuk bekerja
bolpoin celup
damar togok yang lindap cahayanya

Di meja telah terhidang secangkir kopi
lemang pulut
lua nira
tembakau giling yang harum siap disulut
dengan sepatah dua kata

Hendak ke mana tuan
Hendak ke mana kita


2015



Riki Dhamparan Putra kini tinggal di Jakarta. Buku puisinya adalah Mencari Kubur Baridin (Akar Indonesia, 2014)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Dhamparan Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 26 April 2015

0 Response to "Tepi Laut Pada Anakku - Tanggul Bakung"