Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (13) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (13) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:37 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (13)

DENGAN mata terpejam napas menggigil, Zaitun merasa berlayar ke samudera yang belum pernah dikenalnya. Tubuh menyatu menjelma bahtera, haluan dan buritan dalam satu pelayaran, laju menantang gunung dan jurang ombak, di keluasan tujuh lautan. Perempuan itu terkenang kelambu terawang, malam-malam temaram, ia merasa hampir karam, pelahan larut, laut demi laut;-(puisi SS)

Setelah debur surut, Zaitun menggelayut manja. "Semula kusangka hanya impian, bahwa hal ini bisa kualami. Semula tak berani kuharapkan, bahwa lelaki tampan seperti kau, bakal melintas dalam hidupku."

Dengan epnuh penghargaan lelaki itu memandang Zaitun. Lalu tersenyum dengan taklim dan sumeleh. Kelembutannya mengeringkan borok di batin Zaitun.

"Siapakah namamu?" Zaitun bertanya.

"Mempelai." jawabnya.

"Lihatlah. Engkau melucu."

Dan sambil tertawa, Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu. Tapi suasana seperti gambar di kartu pos yang romantis itu tak bertahan lama. Mendadak Zaitun mukanya pias.

Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya: di lambung kiri; di dua tapak tangan; di dua tapak kaki. Bekas tusukan paku.

"Aku tahu siapa kamu." Zaitun menebak lelaki itu dengan pandnag matanya.

"Ya." Lelaki itu mengangguk. Santun sekali.

"Bolehkah aku bertanya?"

Silakan."

"Janji Swear. Engkau tidak marah?"

"Aku janji." Lelaki itu membuat salam dua jari.

"Kenapa engkau izinkan banyak hal buruk terjadi padaku?"

"Maksudmu?"

"Mula-mula pacarku, Mas Tom, mengabaikanku."

"Ya. Terus?"

"Aku diperkosa beramai-ramai secara biadab saat kerusuhan Mei."

"Ya. Aku tahu itu. Terus?"

"Aku merasa sendiri. Putus asa. Dan gagal memahami-Mu.""

"Hmmmh. Ya. Terus?"

"Terpaksa aku jadi pelacur, sekadar mempertahankan hidup."

"Jalan gelap yang kau pilih. Tapi aku mengerti. Terus?"

"Kolesterolku tinggi. LDL 450. Jantungku bermasalah. Dipasangi ring."

"Yaa. Aku tahu itu. Terus?"

"Aku penyintas jantung koroner."

"Ya. Aku paham. Teruskan."

"Aku sipilis. mungkin karena tidak selektif memilih pelanggan. Virus rajasinga menyebar kemana-mana. Borok bertebaran Aku diusir dari lokalisasi. Mencoba curhat ke pastor berbibir hitam pelangkin malah aku diusir semena-mena. Sekarang aku tidak hanya gagal memahami kehendak-Mu. Aku bahkan gagal untuk tidak membenci-Mu."

Lelaki dengan bekas luka di lambung itu kembali tersenyum.

"Kekasihmu itu lelaki tidak setia. Beruntung kau tidak menjadi istrinya."

"Ya, aku pun bersyukur urung menikah. Tapi kau biarkan aku diperkosa."

"Ada malaikat kematian datang lebih awal. Aku kirimkan malaikatku untuk berperang melawannya. Perkosaaan itu jembatan untuk kau bertmu dneganku. Sebagaimana aku menebus dosa asal, engkau pun berkorban diri dengan diperkosa untuk menebus segala dosa asal leluhurmu."

"Jantungku bermasalah, empat klep di dalamnya sudah berkarat mungkin."

"Pola hidupmu keliru. Engkau sembarangan, tidak mengatur pola makan, dan banyak asupan lemak jenuh masuk ke darahmu. Aku bukan pengatur diet."

"Tapi kau biarkan aku melacur?"

"Itu pilihanmu."

"Ohh. Maafkan aku membencimu. Sekarang aku mengerti." Zaitun menunduk.

"Rencanaku padamu lebih baik daripada rencanamu sendiri." Lelaki itu mengembangkan tangannya.

"Belajarlah selalu mensyukuri apapun yang terjadi. Semua akan indah pada waktunya. Buatlah garis lesung pipimu pada tiap bulan baru." Zaitun merasa begitu damai, ia tidak lagi takut mati. Ia tidak takut apa pun.

Zaitun tersenyum lega, meski malaikat penjaga Firdaus masih berwajah murka, dengan epdang terus menyala, tapi tak bisa apa-apa. Zaitun tak takut lagi kini, lantaran sepi dan duka telah sirna. Ia melihat malaikat Tuhan yang lain ada di sisinya sembari berkata, "Tenangkan dirimu. Buka hatimu untuk menyerahkan semua kepada-Nya. Bayangkan semua hal baik yang kau inginkan terjadi." Ia melihat malaikat terbang dan mengantarkan pujinya ke hadapan-Nya.

"Ohh, Kyrie Eleison," serunya. "Pelacur dan mempelai adalah saya."

Mendadak Zaitun terkesiap. Lelaki pujaannya itu, yang barusan mencumbunya dengan mesra, tiba-tiba jatuh terlentang. Darah mengucur deras dari luka di tangan, kaki, dan lambungnya. Cairan merah kehitaman itu membasahi pasir. Zaitun panik. Jangan-jangan kekasihnya memiliki riwayat penyakit yang gawat. Jangan-jangan kekasihnya mengidap TBC dan kambuh. Ahh, jangan-jangan.

"Engkau, engkau kenapakah kekasihku?" Tergegap Zaitun menubruk. Mendekatkan telinga ke dada bidang itu. Tidak terdengar degup jantung.

"Ohh, tidak. Tidak.... Kau tidak boleh meninggalkanku."

Di pantai itu tak ada suara, memang. Tapi kita tahu: orang tak akan diam, juga setelah datang kematian.

Zaitun seolah kesetanan, mengguncang-guncang jazad membeku itu, menciumi sekujur tubuh yang dingin, kembali mendekatkan telinganya ke dada, menangis, kembali mendekatkan telinga ke dada, lalu tertawa sambil bersimbah airmata.

Pada saat itu, terdengar suara menggelegar di angkasa dan ternyata awan hitam tebal telah berkumpul di atas kepala mereka. Tiba-tiba saja angin bertiup kencang dan air laut mulai bergelombang. Suara desis angin sungguh mengerikan, apalagi di seling oleh kilatan petir yang menyambar-nyambar. Disusul gelombang setinggi pohon kelapa bergulung-gulung mengerikan.

"Ohh, badai, tolong." Maria menjerit sekuatnya. Ia mencoba membopong lelaki yang tergolek membeku itu. tapi dari barat dan selatan tampak awan gelap, debu angin mendadak berhenti, namun gelombang air menerpa Zaitun, didorong topan yang amat kuat. Mendung beranak hujan, hujan berkawan badai, badai menubruk laut, dan di laut itulah Zaitun dihanyutkan harapan.

Zaitun tidak kuasa mempertahankan diri. Ia terseret gelombang dahsyat, tubuhnya naik turun dihantam derasnya ombak, diangkat tinggi sekali sampai ia merasa diterbangkan ke langit, lalu dihempaskan sekuatnya ke bawah. Hobi snorkeling dan diving yang biasa ia lakukan setiap akhir pekan ketika kuliah di California sungguh tidak berarti di tengah gerusan badai yang menggila. Ketika melihat bayangan hitam besar mengapung seera diraih, dan ternyata potongan papa kayu, pecahan dari perahu nelayan yang ikut terhempas. Zaitun hampir kehabisan tenaga, dnegan napas tersengal ia tertatih-tatih menarik tubuhnya ke atas papan, dan tergolek diam. Pingsan. Entah berapa jam Zaitun terapung-apung di laut lepas di permainkan gelombang membadai.
[] (bersambung)-c

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat  kabar "Minggu Pagi" pada 5 April 2015 

0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (13)"