Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (14) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (14) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:21 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (14)

ZAITUN siuman, seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia menoleh, saujana hanya air laut tanpa tepi. Tiada ombak, laut begitu tenang, dan senja diterangi sinar bulan yang bercadar awan tipis. Zaitun teringat ia terapung di lautan luas. Tubuhnya menggigil, sebagian karena ketakutan atas nasib yang tidak jelas, sebagian lagi karena hawa dingin yang mengiris malam. Perutnya berkeruyuk. Maria merasa sangat lapar, penat dan mengantuk. Tapi semua itu ditahannya.

Malam itu purnama penuh. Langit resik. Awan putih tipis berarakan terkadang melintasi sinar buulan, sehingga cuaca amat bersih dan terang, suasana begitu tintrim. Zaitun melihat bayangan sebuah pulau. Maka dengan sisa-sisa tenaga, ia mendayung dengan kedua tangan, mengarahkan papan kayu itu menuju pulau.

Air laut di sekeliling pulau itu tenang sekali ditimpa purnama penuh. Pulau Majeti di Teluk Karangbandung, timur Nusakambangan, tampak sebagai seorang raksasa hitam menyeramkan sedang tidur telentang. Sinar rembulan yang sedikit tertutup awan tipis dan kabut laut masih cukup kuat untuk menimpa permukaan Pulau Majeti, membuat pulau yang wingit penuh jin iblis bekasakan itu berkilauan permukaannya. Setelah dekat baru kelihatan pulau itu di bagian tengahnya gundul dan terdapat bagian menonjol seperti bukit. Pohon-pohon yang tumbuh itu di bagian pinggirnya saja. 

Tampak ombak laut bercumbu dengan batu-batu karang raksasa, terkadang seperti membelai mesra, terkadang menghantam batu karang menimbulkan suara menggelegar dahsyat lalu air pecah muncrat ke atas menjadi uap dan mencipta warna pelangi. Sebentar menghilang, disusul ombak berikutnya, terus-menerus begitu, sehingga di sepanjang pantai air laut membuih putih. Dinding batu karang yang tinggi itu bentuknya aneh-aneh, berlubang-lubang seperti menjadi perkampungan tempat tinggal para jin dan iblis penghuni laut. Bulu tengkuk Zaitun meremang.

Karena sudah dekat dengan daratan yang berbatu-batu, Zaitun mempercepat luncuran kayu dengan mengayuh sekuatnya. Tiba-tiba matanya terbeliak memandang ke air dengan muka pucat. Bibirnya menggigil berteriak lirih.

"Ular." Terdapat banyak sekali ular berenang di dekatnya. Ular-ular berwarna merah darah, yang kecil sebesar kelingking jari tangan, yang besar seperti ibu jari kaki panjangnya satu meter. Ular-ular itu berenang dengan cepat dan lincah sekali. Tiba-tiba tiga ekor ular sebesar jari telunjuk meloncat dari air menuju ke atas kayu. Zaitun tidak mampu mengelak atau menangkis sehingga seekor ular telah menggigit lehernya, seekor lagi menggigit tangan dan seekor lagi menggigit kakinya.

Digigit tiga ekor ular merah berbisa itu, Zaitun seperti disengat halilintar. Ia terbelalak, mukanya merah, dan mendadak seperti gila. Ia tertawa seram. Menangis. Lalu sambil tertawa Zaitun merenggut ular yang menempel di lehernya, kemudian... membuka mulut, menggigit kuat, dan mengunyah seperti menyantap makanan lezat. Matanya merem melek. Lalu Zaitun kembali tertawa. Menangis. Tertawa lagi sambil memegangi ular yang berlepotan darah. Dua ular masih bergelantungan di tangan dan kakinya.

Zaitun benar-benar seperti gila. Ia berlari terhuyung-huyung sembari makan ular. Digigitnya sepotong tubuh ular dan dikunyahnya dengan nikmat. Bibir dan mukanya penuh darah. Zaitun terus berlari, kadang tertawa, disusul menangis sambil berteriak.

"Panas. Aduh mati aku. Panas sekali." Maria tersaruk-saruk tanpa arah.

Ia terus berlari ke tengah pulau yang merupakan bukit. Ia mendaki bukit gundul itu, tidak tahu dan tidak menyadari apa yang dilakukannya. Setelah seekor ular habis dimakannya, ia mengambil ular yang masih bergantung menggigit tangannya dan kembali Zaitun makan ular itu, dimulai dari kepalanya. Sungguh mengerikan sekali keadaannya. Wajahnya kadang pucat pasi, kadang merah sekali. Matanya terbelalak lebar, napasnya kadang memburu tersengal-sengal. Akan tetapi ia terus maka ular dan setelah ular kedua habis, Zaitun mengambil ular ketiga yang bergantung di kakinya. Akhirnya tiga ekor ular itu habis dimakannya dan ia kini tiba di sebuah goa, Zaitun terguling roboh. Pingsan. 

Siapa pun melihat kondisi Zaitun tentu heran. Ia lama mengidap sakit jantung koroner, bahkan ditambah dengan sipilis. Ia hanyut dipermainkan ombak ganas laut selatan. Ia digigit ular merah yang sangat berbisa. Ia makan mentah-mentah tiga ekor ular beserta kepalanya. Toh semua ini tidak membuat nyawanya meregang. 

Keadaan Zaitun yang menakjubkan itu bukan tanpa sebab. Memang kematian seseorang sepenuhnya tergantung 'hak prerogatif  Tuhan. Kalau Tuhan sudah menghendaki seseorang harus mati, kalau sudah tiba saat ajalnya, apa pun ikhtiar di dunia ini tidak akan dapat mencegahnya. Andaikata orang itu bersembunyi ke dalam liang semut, akhirnya sang maut akan datang menjemput. Sebaliknya kalau Tuhan belum menghendaki seseorang itu mati, biarpun sudah berkali-kali terancam bahaya maut, toh tetap selamat. Banyak orang yang sejak muda mengabdikan diri sebagai tentara, sudah ratusan kali berperang namun selalu lolos dari cengkeraman maut. Setelah tua dan pensiun, berhenti dari pekerjaannya yang penuh bahaya itu, berada di rumah yang nyaman, datang penyakit dan dia pun meninggal dunia. 

Zaitun tentu sudah tewas oleh gigitan ular merah yang racunnya membuat orang mati dengan tubuh hangus. Namun dalam keadaan separuh sadar separuh gila, yang membuat ia tertawa dan menangis, dengan nekat ia makan tiga ekor ular komplet dengan kepalanya yang merupakan pusat racun. Hal ini yang menyelamatkan Zaitun, sebab kepala dan empedu ular merupakan obat penawar racun yang sangat mujarab. 

Zaitun tergelipang dalam goa, pingsan semalam suntuk seperti mati. Di dalam tubuhnya terjadi pertempuran yang hebat antara dua tenaga yang berlawanan itu, antara racun ular dan penawarnya. Berganti-ganti seluruh tubuhnya dijalari hawa panas dan dingin. Akhirnya, pada keesokan harinya, setelah matahari mulai memandikan permukaan Pulau Majeti dengan sinarnya yang keemasan, Zaitun mengeluh lirih. Ia mengejap-ngejapkan matanya, silau karena kebetulan mukanya menghadap ke matahari, lalu menggosok-gosok kedua matanya. Zaitun bangkit duduk dan mengingat seluruh  kejadian yang mengerikan itu.

"Tenangkan hati dan pikiramu Zaitun," katanya kepada diri sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ia memang harus bersikap tenang. Harus dapat menentukan apa yang lebih baik dan lebih dulu harus ia lakukan. [] (bersambung)-c

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 12 April 2015

0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (14)"