Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (15) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (15) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:07 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (15)

PERUTNYA berkeruyuk terasa lapar sekali. Pertama-tama yang dilakukan Zaitun menari sumber air di pulau itu. Hal ini amatlah penting, karena tanpa adanya air tawar bagaimana ia dapat hidup. Dan ia yakin bahwa di pulau di mana terdapat begitu banyak pohon, tentu ada sumber airnya. Ia menemukan sumber air di lereng belakang bukit di mana terdapat hutan. Zaitun kembali ke goa, tersuruk-suruk masuk lebih dalam, ternyata ditemukan lorong yang tadinya tertutup batu. Dengan meraba-raba, Zaitun terus menyusuri lorong sepanjang dua puluh meter, dan ketika sampai di ujung tampak sinar terang. Ternyata ujung itu merupakan ruangan seluas empat meter persegi dan di atasnya ada lubang masuk sinar matahari. Ruangan itu seperti sebuah dasar sumur yang besar. Di ruangan semacam aula itu Zaitun menemukan menhir, batu hitam panjang peninggalan era megalitikum, juga dolmen (tempat menyediakan sesaji) serta sarkofagus, tempat menyimpan jenazah.

"Dulu pulau ini tentu pernah ditempati manusia," kata Zaitun dalam hati.

Demikian semenjak itu Zaitun menjadi penghuni tunggal Pulau Majeti. Setiap hari ia makan jamur laut, ikan dan daging ular merah serta daun-daun muda dan buah yang tumbuh di pulau itu yang dapat dimakannya. Tanpa disadarinya sendiri, makanan itu, terutama jamur laut dan daging ular merah, juga daun dan akar widara upas serta lankisek, sambiloto, jinten, ngokilo dan ketumbel yang tumbuh subur di pulau itu mendatangkan kekuatan yang semakin hebat dalam tubuhnya. Zaitun tidak menyadari bahwa sakit jantung dan sipilis telah sembuh berkat rutin makan empedu ular, jamur serta daun-daun yang merupakan ramuan mujarab. Kini tubuhnya kembali sehat dan bugar, dan hari-hari kosongnya diisi dengan meditasi, hal yang dulu rutin dilakoninya ketika kuliah di California. 

***
SANG waktu berlalu dengan pesatnya atau merayap dengan lambannya tanpa dipengaruhi oleh apa pun yang terjadi di dunia ini. Semua takluk kepada waktu. Semua melapuk dan rusak digerogoti waktu. Tiada kekuasaan di dunia dapat mempercepat atau memperlambat jalannya waktu. Manusia hanya dapat menyumpahi kelambatannya kalau sedang tergesa-gesa, atau menyesali kecepatannya kalau sudah tua. Tanpa terasa sudah lima bulan Zaitun menghuni Pulau Majeti, dan hari-hari dilaluinya dengan damai di dalam Goa Masigitsela, yang konon pernah digunakan Sunan Kalijaga sebagai tempat ibadah. Selain stalagtit dan stalagmit yang menjulang, di dalam gua terdapat mata air yang dimanfaatkan Zaitun untuk mandi. 

Goa yang bentuknya seperti mulut raksasa terganga lebar siap mencaplok, dan kebetulan sekali, persis di atas goa, pada dinding gunung karang, terdapat dua buah batu hitam seolah merupakan mata, sedangkan di atas tumbuh sebuah pohn berjuntai seperti rambut raksasa. Dan agaknya kebetulan sekali, batu-batu yang dibentuk oleh tetesan air bergantungan dari atas dan menjungat di lantai, membentuk caling yang tajam meruncing.

Beberapa ekor burung kepinis dan walet, beterbangan ke luar masuk goa mengeluarkan bunyi bercuitan ramai. Goa itu amat dalam, makin ke dalam makin menurun ke bawah, seram dan gelap sekali. Terdengar bunyi air terjun dari dalam goa yang tidak tampak dari luar.

Zaitun merangkap kedua telapak tangan membentuk sembah, menempelkan kedua ibu jari depan hidung dan memejamkan mata, duduk bersila dengan tegak dan lurus. Matanya setengah terpejam dipusatkan ke puncak hidung. Pernapasannya teratur dan wajahnya tampak begitu tenang. Debur ombak di kejauhan yang makin besar sama sekali tidak mengganggu Zaitun dalam samadinya. Juga cicit burung walet yang beterbangan keluar dari dalam goa untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka, seolah tidak terdengar. Zaitun benar-benar dalam keadaan wening, dan seakan ada cahaya kebiruan bersinar dari ubun-ubun kepalanya. 

Zaitun tidak tahu atau mungkin tidak menggubris dalam khusyuk samadinya, bahwa ada anak burung dalam sarang bercicit merengek kelaparan karena ayah bundanya tidak pulang semenjak kemaren, sebab ayah bundanya telah berpindah ke perut elang yang menjadikan mereka santapan lezat. Mengapa sepasang walet itu demikian tragis nasibnya? Apa dosa yang mereka lakukan? Tak seorang pun bisa menjawabnya.

Zaitun juga tidak pernah tahu bahwa beberapa ekor ikan pari dilempar ombak ke atas batu karang, berkelojotan di tengah sengatan matahari, megap-megap menanti maut dalam keadaan tersiksa. Apakah dosa-dosa ikan kecil ini sehingga mereka terhukum sedemikian rupa?

Banyak hal gaib, hal-hal yang tampaknya ganjil, yang menurut alam pikiran dan pendapat manusia, tidak adil. Yang jahat hidup bahagia, yang baik hidup merana. Inilah rahasia besar yang hanya mampu diselami oleh kesadaran mereka yang tahu akan kuasa kang murbeng dumadi. Dan apa yang akan menimpa Zaitun yang sedang suntuk bersamadi di goa Pulau Majeti itu pun mutlak di tangan-Nya.

Pada suatu malam ketika Zaitun khusyuk bermeditasi, tiba-tibaterdengar air bergolak disusul suara wanita tertawa merdu. Dari kejauhan tampak makhluk bergerak anggun di atas permukaan air, seakan menunggangi ombak. Setelah dekat dengan Pulau Majeti, etrnyata ia seorang wanita cantik berkulit langsat dengan rambut panjang terurai. Wanita ini usianya sekitar empat puluh tahun, namun benar-benar jelita, wajahnya berseri-seri dan giginya putih berkilauan di kala halilintar menerangi permukanaan air laut. Dadanya membusung tertutup tapih pinjung.

Tubuhnya yang semampai menggeliat seperti ikan berenang melaju cepat. Seekor ikan hiu sebesar manusia, berenang cepat menghampiri, agaknya tertarik oleh makhluk aneh ini. Namun setelah dekat, tiba-tiba hiu itu menghentikan renangnya, mundur-mundur ketakutan diiringi tertawa halus.

Zaitun masih tenggelam dalam samadi, ketika tiba-tiba ia mendengar suara halus merdu. Ia membuka mata dan kaget melihat ada seorang wanita berdiri di depannya sembari tersenyum. Wanita itu amatlah cantiknya dengan rambut yang digelung lebar terhias bunga-bunga segar mawar melati, ujung gelung rambut itu terurai di leher kanan terhias untaian bunga melati sedangkan di atas kepala terhias hiasan rambut dari emas bermata intan berbentuk ular kembar memadu kasih. Wajahnya begitu agung disaput bedak cendana sedangkan rambutnya hitam halus oleh minyak sari bunga. Tubuhnya agak gemuk padat dan dadanya membusung, tertutup kemben sutera berkembang merah dengan dasarungu, pinggangnya dipaksa agar ramping oleh balutan ikat pinggang berwarna kuning. Gelang emas menghias kedua pergelangan tangan dan kakinya.

"Anda siapa?" Suara Zaitun bergetar. Pertanyaan itu wajar, meski jauh di lubuk hati Zaitun sudah bisa menerka. Toh pertanyaan itu tetap harus diajukan.

"Aku siapa?" Wanitadi depannya kembali mengulang pertanyaan Zaitun sambil tersenyum yang terasa begitu meneduhkan dan ngayomi.

"Mohon ampun, Ibu, maafkan jika saya salah. Bukankah Ibu adalah Kanjeng Ratu Kidul, sang penguasa Laut Selatan?" [] (c)

bersambung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu pagi" pada 19 April 2015


0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (15)"