Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (16) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (16) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:32 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (16)

WANITA itu tertawa halus. Kepalanya mengangguk pelan. 

"Kamu Maria Zaitun?"

"Sendika dhawuh, Kanjeng Ratu."

"Tubuhm sehat. Tapi batinmu sakit digerogoti kerinduan seorang lelaki."

"Sendika, Kanjeng...."

"Aku bisa memahami perasaanmu, sebagaimana aku juga pernah memiliki perasaan yang sama terhadap seorang ksatria pinilih dari Mataram. Tapi, apakah kamu menyadari betapa tinggi penggayuh-mu untuk memiliki lelaki pujaanmu itu, Ngger?"

Zaitun tertunduk lesu. Ia ingat idiom Jawa yang dulu sering dikatakan Hertomo atau Mas Tom, bahwa menjadi manusia yang arif itu aja rumangsa bisa, tapi bisa ngrumangsani. Ya. Ia memang harus tahu diri. Siapa Zaitun? Wanita cantik, berpendidikan di Amerika, korban perkosaan ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, lalu jadi penjaja syahwat di beberapa lokalisasi. Pengidap sakit jantung koroner dan sipilis, meski sekarang sudah tidak dirasakan lagi. Nasib hidupnya begitu langu. Sedangkan lelaki pujaannya itu, yang berambut pirang sebahu, yang lambung dan tangannya ada bekas luka, siapakah dia selain seorang pesohor?

"Kamu harus ngrumangsani, itu tidak salah." Wanita di depannya seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di hatinya. "Tapi katresnan juga bukan perbuatan salah. Siapa pun berhak dicintai dan menyintai."

"Sendika, Kanjeng Ratu."

"Seberapa besar cintamu, Ngger? Kamu wanita spesial. Lelaki itu sangat spesial. Beranikah kamu berkorban demi cintamu kepadanya?"

"Sendika dhawuh, Kanjeng Ratu. Siap."

"Baiklah. Berkorban saja tidak cukup, Ngger. Lebih penting dari itu adalah jodoh. Kamu berjodoh ketemu aku. Nah, jika kamu berjodoh dengannya, kamu pasti dapat menemukan kembang Wijayakusuma di pulau ini, yang hanya tumbuh mekar di saat bulan purnama. Kembang itulah yang bisa menghidupkan kembali kekasihmuu. Kuberikan purbawasesa di tanganmu."

"Ohh, Kanjeng Ratu, berarti kekasih saya sekarang sudah...." Zaitun menghentikan pertanyaannya.

Wanita di depannya yang diyakini sebagai Kanjeng Ratu Kidul itu sudah lenyap. Dan wanita cerdas itu tahu, betapa tidak ada gunanya mencari Kanjeng ratu jika tidak diinginkan. Ia memang jodoh malam ini Kanjeng Ratu kersa menemui. Dan mendapat petunjuk jelas. Harapannya untuk bertemu kembali dengan lelaki pujaannya tersapu habis seperti asap tipis diterpa angin, namun tak pernah hatinya dapat ia yakinkan bahwasanya mencintai kekasihnya itu merupakan hal yang sia-sia belaka.

Ia harus menemukan kembang Wijayakusuma yang memang hanya tumbuh di Pulau Majeti. Bukankah ini juga jodoh? Ia terseret ombak, badai bergemuruh, dan ia tahu-tahu terhempas di Pulau Majeti. Ini pula yang dinamakan jodoh.

***

PAGI yang semula ramah mendadak bersungut-sungut. Badai yang sudah diramalkan oleh sibuknya burung-burung walet meninggalkan goa tadi malam benar-benar muncul. Angin bertiup kencang, air bergelomang dahsyat, cuaca di permukaan laut menjadi pekat, suara angin bersiutan disambut suara gelegar ombak menghantam batu-batu karang. Makin lama makin tinggi, makin lama makin besar. Mula-mula ujung ombang yang memukul batu karang di bawah Pulau Majeti hanya muncrat ke atas, percikan air menjilati mulut goa. Akan tetapi makin lama badai mengamuk makin hebat, ombak makin tinggi sehingga ombak raksasa melontakan air masuk ke dalam goa. Air menyerbut masuk dan keluar lagi mengalir seperti air bah. Semua yang berada di dalam goa dihanyutkan keluar, seakan-akan laut di dekat Nusakambangan hendak mencuci pulau paling angker sedunia itu.

"Hong wilaheng nirmala sadya rahayu widodo...."

Zaitun untuk kedua kalinya hanyut oleh ombak yang bergemuruh mengerikan. Ia sebentar tenggelam, tubuhnya naik turun dihantam derasnya ombak, diangkat tinggi sekali sampai ia merasa diterbangkan ke langit, lalu dihempaskan sekuatnya ke bawah. Entah sampai berapa lama. 

Tapi kembali tangan kuasa-Nya menyelamatkan Zaitun yang barangkali memang belum titiwanci-nya. Sore itu di sepanjang pantai sebelah timur Pulau Majeti, yang batu-batu karang, Zaitun berlari-lari sambil menangis menjerit-jerit, kadang-kadang tertawa bergelak-gelak, dan tangannya menggenggam erat setangkai kembang Wijayakusuma. Wanita ini berlari dengan pakaian tidak karuan, rambut riap-riapan sampai ke pinggang. Angin badai mengamuk ia tidak peduli. Berkali-kali ombak besar datang sampai di batu karang di mana ia berloncatan, seakan-akan ia ditelan ombak berikut batu karang. Namun setelah ombak kembali ke tengah, ia masih saja kelihatan berloncatan dengan pakaian, tubuh, dan rambut basah kuyup. 

Badai masih mengamuk ketika Zaitun tiba jauh di timur sampai di daerah yang disebut Pantai Pasir Putih, selatan Pulau Nusakambangan tepatnya di sebelah timur Pantai Permisan. Di sekitar Pasir Putih terdapat pulau-pulau kecil yang membujur ke tiur. Ia berhenti di sana karena pantai telah terputus oleh sebuah teluk, yaitu Teluk Karangkobar. Namun hanya sebentar saja Zaitun termeung, kemudian dengan nekat ia meloncat ke bawah, ke air laut yang bergolak naik diamuk badai. Air mengganas, badai membuat laut bergelombang sebesar anak bukit sedemikian dahsyatnya sehingga tubuh Zaitun yang mencebur itu tampak hanya seperti sebuah titik hitam yang segera lenyap ditelan ombak.

Namun, beberapa menit kemudian, tubuh Zaitun terdampar di atas pasir putih halus. Ombak yang terakhir mempermainkannya sedemikian besarnya sehingga tubuhnya dilontarkan jauh ke pantai pasir dan ia tertinggal di situ, tak tercapai oleh ombak lain yang datang bergulung-gulung. Lidah ombak yang menjulur ke pantai pasir paling jauh hanya mencapai kedua kakinya yang tak tertutup kain lagi, putih kekuningan seperti perut ikan hiu. Wanita itu tak bergerak-gerak. Ia pingsan di Pantai Widara payung Binangun yang sunyi senyap, tempat di mana dulu ia juga diseret ombak besar saat badai menggila.

Beberapa ekor burung gagak terbang berputar-putar di atas tubuh yang rebah miring tak bergerak, makin lama makin rendah lalu hinggap di atas batu karang yang menonjol keluar dari pasir, hinggap di situ seperti patung dan mata melirik ke arah tubuh manusia yang diam seperti mati itu. Burung-burung gagak ini maklum bahwa manusia yang rebah tak berkutik itu belum meninggal, mungkin segera binasa dan mereka hanya mau mendekati bangkai. Mereka sabar menunggu. Namun tak lama kemudian rombongan burung gagak itu terbang ke atas sambil mengeluarkan bunyi nyaring, "Gaaaaaok..." dan terbang makin jauh.

Suara burung-burung ini mengandung kecewa, karena manusia yang tadinya disangka akan mati ternyata dapat bergerak dan bangkit, lalu berlutut di atas pasir sambil menangis tersedu-sedu. Hancur hati Zaitun ketika ia siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di pantai, di atas pasir putih. Ia teringat kekasihnya, entah bagaiana nasib lelaki pujaan hatinya itu, benar sudah matikan dia? [] (c)

bersambung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu pagi" pada 26 April 2015

0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (16)"