Ulang Tahun Pensiun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ulang Tahun Pensiun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:04 Rating: 4,5

Ulang Tahun Pensiun

MARDIONO mengundang kawan- kawannya ke rumah, siang nanti. Mardiono ingin mengadakan perayaan ulang tahun yang ke-78. Mardiono membayangkan beberapa lansia pikun, tremor, pandangan dan aneka fungsi tubuh mulai menurun berkumpul dan bercengkerama di depan selingkar kue ulang tahun. Menyanyikan lagu ulang tahun sebelum Mardiono memadamkan lilin. Mardiono tersenyum sendiri membayangkannya. Sudah sejak ulang tahunnya lalu, bersama Dhuha pagi Mardiono menanam doa agar dipertemukan ulang tahun lagi dengan meniup lilin di atas kue ulang tahun

Mardiono merasa perlu mengadakan pesta ulang tahun karena beberapa alasan. Sepanjang hidupnya, Mardiono belum merasakan pesta ulang tahun. Setiap pertambahan usia, Mardiono hanya menghadapi sekerucut nasi kuning buatan Inayah, istrinya, bersama keluarga tanpa kue dan lilin. Sebelum berkalang tanah, Mardiono ingin sekali saja merasakan pesta ulang tahun betulan dengan kue tar dan lilin. 

Selain itu, Mardiono bisa mengadakan acara reuni, semacam ritual mengenang rindu masa lalu. Masa pensiun sudah lewat belasan tahun lalu. Selama itu pula, Mardiono jarang berjumpa dengan kawan-kawannya. Masa pensiun bukan berarti leha-leha dengan keluangan waktu. Mardiono disibukkan dengan hobi berkebun dan membaca ratusan buku. 

"Otak bisa pikun kalau tidak diisi dengan bacaan," demikian kata Mardiono bila Inayah mulai ngoceh karena uang pensiun habis di toko buku.

"Pak, kita juga butuh untuk sehari-hari," 

Ilustrasi oleh Rendra Purnama
Inayah cemberut. Tumpukan buku di rak sudah luber hingga beberapa tergeletak di karpet, meja, dan bangku kayu dekat jendela kaca.

"Apa kiriman Irkham kurang?" Irkham adalah anak tunggalnya tak pernah luput mengirimi uang bulanan.

Inayah tidak berdaya dengan alasan Mardiono.

Mardiono bersiap-siap sejak pagi. Mardiono juga sudah menyiapkan satu pak semir rambut warna hitam, tidak terlalu mahal. Dia sengaja menyemir rambut putih di jenggotnya. Bukan untuk rambutnya yang tanggal bersama guguran angka di almanak dinding rumah. 

Mardiono merasa wajar untuk uban di kepalanya, seperti ucapan para kiai putih di kepala menerangi hidupnya kelak di akhirat. 

Tapi, Mardiono merasa risih dengan rambut putih yang menjumbai hingga jakun. 

"Nyemir jenggot lagi?" tanya Inayah sambil meletakkan dua cangkir teh. Inayah bukannya tidak suka, melainkan menyemir uban sama saja berpura-pura muda. 

Mardiono menjawab dengan dehaman kecil sambil jongkok. Mardiono konsentrasi dengan sisir dan semir yang dicairkan dalam mangkok bergambar ayam jago. Mata tuanya tidak beralih dari cermin di atas meja agar cat di jenggot tertempel rata di jenggot Mardiono. 

"Sesekali tampil lebih muda boleh, kan?" 

Mardiono jeda sebentar. Mengatur napas. Sisir basah semir tergeletak di atas meja yang dilapisi kertas koran.

"Meski kamu memulas dengan seliter semir, usianya takkan mundur muda." Mardiono tidak membalas. Matanya masih mengikuti gerakan tangannya menggeser sisir di setiap helai jenggotnya.

"Irham jadi ambil cuti kan hari ini?" Mardiono menyebut nama anaknya.

"Sepertinya tidak. Irkham tadi pagi berangkat ke Semarang, ada rapat bersama para branch manager."

"Anak kalau sudah dewasa memang suka lupa sama orang tua. Dan, Irkham itu sudah jadi bos, bukannya ongkang-ongkang kaki malah sibuk tidak terkendali. Apa jabatan sudah memperbudaknya?"

"Besok, Irkham akan datang bersama Fitri dan anaknya. Kita bisa merayakan bersama anak, menantu, dan cucu."

Mardiono belum menyahut. Ada raut kecewa di dahi dan wajahnya bercampur dengan kerut- kerut menempel seperti kulit mahoni. Rindu menghunjam tak terpermanai. Mardiono berdiri, jenggotnya tersemir hitam rata. Dengan gerakan perlahan, Mardiono berdiri dan menempatkan bokong di kursi rotan menyejajari Inayah. Sepasang manula pensiunan duduk menikmati pagi dengan dua cangkir teh. Usia tua sudah tidak mengizinkannya minum kopi.

"Irkham kan sudah memberi porsekot hadiah ulang tahun," Inayah merapikan peralatan semir Mardiono. "Irkham menyiapkan tiket umrah untuk kita."

"Semahal apa pun hadiah, tak menyamai kehadiran mereka. Apa kue tar sudah kamu pesankan?"

Mardiono menatap wajah Inayah yang ditutupi kacamata sedikit lebih kecil. Inayah mengangguk tanpa ragu. 

"Tukang kue akan mengantarkan pukul 10, sejam sebelum kawan-kawanmu datang."

Mardiono manggut-manggut. Senyum mengembang di bibirnya. Kegembiraan meletus di dadanya.

"Inayah, apa kawan-kawanku sudah kamu kabari?" Mardiono bertanya dari dalam. 

Handuk hijau melingkar di leher. Inayah membalas dengan hmmm singkat.

"Semoga penyakit pikun mereka tidak kambuh," Mardiono berbicara sendiri. Inayah masih di teras rumah. "Toko kue jam berapa?"

"Pukul 10, ini masih jam 9. Sabar, Pak. Apa kesabaranmu sudah habis dimakan usia?"

Mendengar pertanyaan Inayah bernada sinis, Mardiono diam. Sisa-sisa air ditubuhnya mentesi lantai keramik. Handuk diusap- usapkan di sekujur badan. Mardiono menuju kamar. Dia memilih baju yang paling baru dan bagus. Kemeja warna putih motif garis, jas hitam, serta celana jins warna biru tua. 

Mardiono berdiri di depan cermin, menatap wajahnya. Garit-garit terukir semakin dalam. Kulit mulai kendor. Tapi, rambutnya masih utuh, tekatnya di setiap helai rambut yang memutih tersimpan doa minta ampun. Maut mengintai manusia tua sepertinya lebih runcing daripada insan muda. Kapanpun, Mardiono harus siap dijemput Izrail. 

Usai memakai pakaian, merias wajah, dan merapikan rambut, Mardiono mendengar suara Inayah bercakap-cakap dengan seseorang. Tukang kue, gumam Mardiono. Dia tersenyum bungah. Hari ini akan berakhir dengan membahagiakan. Mardiono kembali memastikan wajahnya tidak terlalu tua untuk merayakan hari ulang tahun, meniup lilin, menyanyi lagu ulang tahun, dan memotong kue untuk Inayah dan kawan-kawan, kecuali Irkham dan menantunya. 

"Kuemu datang, Pak!"

Mardiono gegas keluar. Dilihatnya kotak warna violet dengan merek toko kue yang terkenal enak di kotanya. Masih dililit dengan pita. Mardiono tidak sabar membukanya. 

Mardiono menerima kotak kue. Dibawanya ke meja dekat rak buku. Mardiono menyingkirkan beberapa judul buku. Lalu, dibuka pita dan tampaklah kue tar persegi dominan putih dengan hiasan buah blueberry sesuai pesanan. Juga sebuah tulisan "Selamat Ulang Tahun ke-78" dari krim gula.

"Inayah, tukang kue tidak lupa bawa lilinnya, kan?"

"Itu ada di plastik warna hitam. Di atas televisi," Inayah menyahut.

Mardiono menuju plastik hitam yang katanya berisi lilin, elemen penting dalam upacara tiup lilin ulang tahun. Setelah dibuka, mata Mardiono terbelalak. Lilin tidak sesuai pesanannya. Seharusnya dua buah lilin berbentuk angka tujuh dan delapan simbol usianya. Namun yang ada hanya delapan lilih bentuk jarum warna-warni.

"Mengapa lilinnya seperti ini?"

"Maksudnya?"

"Aku pesan lilin bentuk angka. Bukan lilin mati lampu seperti ini," Mardiono menggerutu. Nadanya persis cucunya merengek minta permen. 

"Mungkin habis, Pak. Jadi dibawakan begitu," Inayah menenangkan.

"Tidak bisa! Pesanan ya pesanan!"

"Yang penting masih ada lilin untuk ditiup."

"Ibu ini bagaimana, ini lilin perlambang usiaku. Jadi penting, bukan sekadar upacara tiup lilin." Sikap tidak mau kalah Mardiono, pensiunan seorang jaksa kembali tampak. Kokoh dan tidak mudah dinego.

"Pak, sudahlah. Terima saja. Nanti kalau anakmu datang kita pesan kue yang baru dan ada angka tujuh dan delapannya."

Kedukaan tumbuh di mata Mardiono. 

Apa mungkin karena yang memesan orang tua, hingga dinomorsekiankan? Atau, lilin mati lampu ini tanda berakhirnya usia? Tanya Mardiono dalam benaknya. Orang tua memang harus sabar menerima nasib disingkirkan. Mulai dari istrinya, anaknya, kawan-kawannya, bahkan dunia.

"Aku mau bikin teh buat teman-temanmu. Sambil nyiapin makan siang," Inayah pamit ke dapur.

Mardiono termangu. Pikirannya beriak di persimpangan. Pandangannya bergantian antara kue tar, delapan lilin yang tidak disukainya, serta pintu dengan hamparan harapan lebih luas. Mardiono ingin marah. Kepada siapa? Mardiono menggerutui dirinya sendiri. 

"Memang Mardiono pamit ke mana?" tanya kawan Mardiono yang sudah datang lima belas menit sebelum jam pesta ulang tahun dimulai. Sepuluh kawan lainnya duduk di kursi. Beberapa mulai ditemani suster.

"Tadi menggerutu karena lilinnya tidak sesuai," jawab Inayah dengan lelehan air mata

Wajahnya semakin buruk karena dikerubuti kerut bercampur nestapa. Mardiono menghilang di acara ulang tahunnya. 

"Aku di belakang menyiapkan makanan. Pas aku keluar, Mardiono sudah tidak ada. Kukira di kamar siap-siap, ternyata juga nihil!" napas dan sesenggukan Inayah bergantian.

Beberapa anak muda sekitar rumah Mardiono diminta mencari. Mereka yakin, kaki tua Mardiono tidak mungkin membawanya berjalan terlampau jauh. Mungkin mencari lilin di toko kelontong ujung gang atau paling jauh toko serbaada di pinggir jalan raya. 

Tapi, hampir sejam, Mardiono tidak juga ditemukan. Inayah bersama kawan-kawan Mardiono tidak jadi meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Mardiono. Mereka justru harap- harap cemas akan keselamatan dan keberadaan Mardiono.

Berpuluh-puluh kilometer dari rumahnya, Mardiono mendekap perut buncit tukang ojeg. Berkali-kali mengitari jalan untuk mencari toko kue yang dipesan Mardiono. Mardiono mengingat nama toko kue itu. Tapi, tukang ojeg itu bukan orang yang biasa memesan kue, berjam-jam berkeliling dan selalu salah. Dan sayangnya, Mardiono tidak membawa kotak bungkus kue yang terdapat nama toko kue beserta alamat lengkapnya.

"Kita ke mana lagi, Pak? Bensinku hampir habis."

"Coba keliling lagi. Aku harus segera menemukan lilin sebelum pesta ulang tahunku," jawab Mardiono tanpa mau merenggangkan pegangan. Pada tautan tangannya Mardiono menggenggam erat harapan. 


Teguh Affandi, lahir di Blora, 26 Juli 1990. Cerpennya dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Baru-baru ini memperoleh penghargaan PPSDMS Award 2014 kategori Pena Emas, Juara 1 sayembara cerpen Femina 2014, dan Juara 3 Green Pen Award Perhutani 2015.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" pada 12 April 2015

0 Response to "Ulang Tahun Pensiun"