Bila Peluru Itu Tiba di Jantungku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bila Peluru Itu Tiba di Jantungku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:40 Rating: 4,5

Bila Peluru Itu Tiba di Jantungku

SONIA membolak-balikkan tubuhnya di pembaringan. Sulit sekali gadis itu memejamkan mata malam ini. Banyak yang teringat. Melintas cepat di benaknya. Mulai masa kecil hingga masa remaja. Sejak sekolah dasar sampai masa kuliah pascasarjana. Ingatan itu membeberkan kisah beberapa orang laki-laki yang pernah mencoba mendekatinya.

Beberapa nama memang telah memang menjadi ukiran yang indah di hatinya, sementara sebagian lain biasa-biasa saja. Bagi Sonia, teman laki-laki yang menaruh hati kepadanya harus dihormati, harus diajak berbagi. Bukan diberi harapan tetapi diajak bersahabat saja. Ia mencoba untuk biasa-biasa saja setiap ada yang mulai serius. 

Sonia tak pernah menjatuhkan pilihan. Satu dua orang berani mengirim salam, menyindir lewat status di media sosial dan mengirim puisi lewat messenger. Ada juga yang berani langsung mengatakan. Tapi semua sudah dijawabnya dengan baik. Biarlah semua itu menjadi kenangan yang tersimpan rapi di dalam lemari.

"Kenangan dalam keabadian," kata Sonia dalam hati.

Malam kian larut. Perempuan itu makin gelisah. Kenangan itu kian meruncing. Salah seorang laki-laki melintas dalam ingatannya bernama Faruqi. Sejujurnya ia juga jatuh hati pada Faruqi, namun ia simpan saja hingga kini. Sampai Faruqi menjauh darinya. Mungkin hatinya telah patah. Patah arang. Entah.

Faruqi teman sejak madrasah hingga tamat kuliah. Faruqi pernah mengatakannya, tapi Sonia tak berani menjawab. Ia biarkan mengalir hingga waktu memisahkan. Sonia beranjak ke kota besar untuk meneruskan jenjang magister. Faruqi sudah sibuk pula dengan dunianya. Dunia jurnalistik.

Sonia seorang aktivis di kampus. Sejak kuliah tingkat satu, ia aktif di berbagai organisasi. Cakap menulis, terampil berbicara. Maklum, ia dilahirkan dari keluarga hebat dan agamis. Ayahnya seorang tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi terkemuka, ibunya seorang guru sekolah dasar. Sebagai bungsu, ia dimanja layaknya seorang putri.

Ketika sampai di ibu kota, Sonia mulai kehidupan baru sebagai mahasiswa pascasarjana bidang hukum. Waktu telah membawanya menjadi perempuan dewasa. Suatu hati ia pernah merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ia sebenarnya mengerti, ketika teman-teman sebayanya sudah mulai mengundangnya untuk memasuki jenjang pernikahan. Sesekali ia coba menyapa Faruqi lewat media sosial, sekadar memancing. Tapi Faruqi tak lagi gigih menyapanya, seperti waktu kuliah dulu.

***
Suatu waktu bintang jatuh di hadapannya. Seseorang datang menyapa melalui media sosial dalam bahasa Inggris. Sonia sangat tertarik untuk membalas sapaan itu. Mulanya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun perkenalan itu telah membuka hati Sonia lebih lebar dari sebelumnya.

Mulailah mereka berkenalan. Saling mengirim foto, lalu saling bertukar nomor seluler dan PIN BlackBerry Messenger. Seterusnya, dua insan itu terbawa arus perasaan yang kian jauh menghanyutkan. Sonia terbuai-buai dibuatnya.

Rayuan maut dari seberang itu telah membuat Sonia berani menceritakan kesungguhan seorang laki-laki kepada ibunya. 

"Namanya Ricard, Bu," cerita Sonia.

Awalnya ibu curiga. Tanya ini itu ke Sonia. Sonia dengan tenang mencoba menjelaskan tentang laki-laki itu. Mendengar penjelasan itu, ibu mencoba menghapus semua curiga dan berani bercerita kepada ibu-ibu yang lain, teman sesama guru. Ibu-ibu yang lain juga bercerita tentang hebatnya seorang putri yang sudah menjatuhkan pilihan ke seorang pangeran dari seberang.

***
Kenapa Kau harus mengingat laki-laki yang telah mencuri masa depanmu? Hadapi saja masa-masa indah menjelang datang semua ini. Tiada guna lagi mencari kebenaran di dunia penuh tipu daya. Bersiaplah menuju surga...

Seperti ada yang membisikkan sesuatu ke telinga Sonia. Sangat pelan dan sangat jelas. Tubuhnya bergetar untuk ke sekian kalinya. Hampir tak bisa ia menahan degup jantungnya yang sedari pagi tidak beraturan. Air matanya sudah lama kering. Sejak terperangkap dalam jeruji pengap ini beberapa tahun silam.

Pagi tadi, batinnya terguncang hebat. Ia melengking ke langit semampu pita suaranya.

"Tidak!" teriaknya. Tapi tak ada jawaban. Hening. 

Petugas yang memberi kabar tentang masa hidupnya hanya bisa diam. Upaya hukum sudah tertutup rapat. Dadanya terasa nyeri sekali.

***
Empat tahun lalu petaka itu tiba tanpa diduga. Serupa petir di siang hari. Tiada hujan tiada badai. Ketika petugas imigrasi memeriksa seluruh barang bawaannya, salah satu tas terbukti berisi barang haram yang dimusuhi nyaris seluruh negara. Sonia mencoba menjelaskan tentang barang bawaannya tapi petugas tidak mau mendengarnya.

Bingung bercampur marah ketika tangannya diborgol petugas. Ia juga tak bisa berkata-kata, saat tas berisi buku-buku tebal ternyata bolong di tengah. Bungkusan serbuk laknat itu tertanam di situ dengan rapi. Sonia tak dapat mengelak. Ia terbukti sebagai pembawa barang haram ke dalam negeri.

"Itu bukan punya saya. Itu titipan teman. Tolonglah. Jangan buat malu. Saya bukan pemakai, apalagi pengedar. Saya mahasiswi pascasarjana syariah. Silakan cek urine saya. Saya ditipu," Sonia menceracau dan memberontak. Tapi petugas tak mau tahu. Bergeming. Bukti sudah ada, Ini prestasi hebat bagi aparat, seorang mahasiswi tertangkap tangan membawa barang haram dari luar negeri. Mahasiswi pascasarjana syariah pula. Petugas segera mencari wartawan dan kamera televisi agar publik segera tahu, baru saja mereka menoreh prestasi. 

"Saudari berhak diam. Buktikan saja di pengadilan," setengah membentak, petugas menggiringnya ke bilik kecil. Kepalanya sudah dibungkus kain hitam, tubuhnya diberikan baju orange. Tak ada suara lagi ketika blitz dan kamera televisi menyorotnya. Jatuh ke dalam air matanya. Tak ada kesempatan untuk mengungkapkan apa yang sudah menimpanya.

***
Beberapa jam menjelang eksekusi mati yang akan dilaluinya, Sonia tak mau diganggu. "Aku siap. Nanti malam jemput aku. Jangan ganggu aku sampai panggilan tiba," ujarnya mantap. Sudah ia tanam semacam dendam dalam dirinya yang tumbuh mekar menjadi kekuatan.

"Jika peluru itu sudah tiba di jantungku, Ibu tersenyumlah. Tak ada guna lagi untuk menguras air mata. Semua akan terjadi. Aku akan berjanji menulis surat kepadamu dari surga."

Sonia tak jadi tidur. Ia bersemangat menulis seluruh perasaan di dadanya yang sedang bergemuruh. Ia berharap ibu dapat membaca lembaran tulisannya setelah ia dikuburkan nanti.

"Ibu, kini aku mengerti tentang kehidupan dunia. Sudahlah. Benda laknat itulah yang mempertemukan aku dengannya. Seseorang yang telah merenggut masa depanku. Seseorang entah dari mana."

Ada yang mengalir di pipi tanpa ia sadari. Ada perang berkecamuk di dadanya. Malam begitu sepi. Bel penjara sudah berdentang sebelas kali.

"Aku memang lugu soal laki-laki. Jika saja tidak tersandung persoalan ini, aku pasti sudah diwisuda magister. Aku pasti sudah mempersembahkan cita-cita ini kepada ayah dan ibu. Maafkanlah."

Tulisannya indah dan rapi. Jarinya menari di remang ruang tahanan Ia bayangkan semua wajah orang-orang yang pernah ada dalam hidupnya. Ayah, ibu, kakak, teman kecil, teman sekolah, teman kuliah, keluarga ibu, keluarga ayah, sepupu dan beberapa guru dan dosen yang pernah mengajar ilmu kepadanya. Satu lagi, Faruqi. Sonia merasa bersalah kepada laki-laki itu.

"Ibu, kini aku juga mengerti tentang hukum positif yang aku pelajari selama ini.Naif. Sudah berkali-kali aku katakan, aku tertipu. Aku bukan pemakai, apalagi pengedar. Tapi itu tak pernah meringankan hukuman untuk kesalahan anakmu ini."

Sonia ingat Richard. Laki-laki itu seperti datang dari langit. Memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris yang sopan. Waktu itu Sonia tidak tahu tentang penipuan yang mulai marak terjadi melalui segala media sosial, seluler, email, dari cara yang sederhana hingga paling canggih. Sedikit pun tidak terbesit dari kata-kata indah yang datang dari Richard adalah maut untuknya.Ia luput membaca watak pesan melalui teknologi yang dipakainya.

***
Langit kelam. Dentang bel penjara berbunyi lagi, kali ini terasa sangat mengerikan. Sonia masih belum mengantuk. Ruang isolasi mulai terasa dingin.

Tiba derit pintu sel berbunyi. Langkah petugas sangat jelas menggema di dinding kamar isolasi. Degup jantung Sonia makin kencang.

"Ini waktunya," ia membatin. Keringat dingin di keningnya mengucur.

"Kini aku tak akan pernah menyesal atas semua ini. Sudah aku sampaikan seluruh doa di dalam dadaku ke langit. Sudah aku pahami tentang makna kehidupan ini," tangannya gemetar tapi terus meulis.

Sonia tak tahu apa-apa tentang barang haram dalam buku tebal yang terbungkus rapi hari itu. Yang jelas, ia dikirimi tiket oleh Richard untuk bertemu di Filipina. Sonia girang untuk pertemuan keduanya, setelah beberapa bulan sebelumnya undang pertemuan di Malaysia. Tentunya akan lebih akrab dari pertemuan pertama.

Setiba di Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino, Sonia dapat kabar dari seseorang yang mengaku utusan Richard. Ia percaya saja. Richard tak bisa ditemui karena ada meeting mendadak. Paket kiriman dari Richard ia terima. Ia menebak, itu buku yang pernah ia diskusikan beberapa waktu lalu. 

Akhirnya Sonia kembali ke tanah air setelah tiga jam menunggu jemputan dari Richard. Ada sedikit curiga waktu itu tapi Sonia cepat menepis. Cintanya amat besar kepada laki-laki bule tanah benua Afrika itu.

Rencana pertemuan kedua itu telah membawanya ke penjara. Richard lenyap bak ditelan bumi setelah kejadian ini. Akun media sosialnya tak lagi ada. Sudah dihapus beberapa saat ketika petugas akan mencoba melacak. Sia-sia.

Sonia mulai menyadari hubungan yang semu itu setelah jauh melangkah dan hanyut dibawa indahnya fatamorgana dan jutaan imajinasi yang dikatakan Richard. Dan kini ia mengerti tentang hukum sebab akibat yang telah mengitari jalan hidup. Sedikit saja terpeleset tak ada lagi ampunan datang, tak ada guna penyesalan, sebab masa depan pun sudah terbunuh dalam waktu singkat.

"Kau biadab! Telah memberi perangkap kepadaku. Ibu, aku malu bila ingat, betapa bangga menceritakan laki-laki itu kepada Ibu dan kepada teman-teman."

Richard ternyata nama palsu, seorang pengedar narkoba kelas dunia. Punya banyak nama samaran. Licin dan lihai bermain watak. Sonia baru menyadari setelah semua berakhir.

***
Wajah petugas malam itu tak seperti biasa. Di hadapan Sonia ia seperti akan mengatakan sesuatu. Sonia menunggu. Menunggu kepastian tentang kematian. Petugas itu belum juga mengatakannya. Malam kian larut. Jantung Sonia bergemuruh bak hujan badai dan petir.

"Ayah, Ibu, tersenyumlah bila peluru itu sudah tiba di jantungku," Sonia membatin. Menguatkan seluruh tubuhnya yang mulai lunglai. ***

Padang, Februari 2015

ABDULLAH KHUSAIRI, lahir di Sarolangun, Jambi, 16 April 1977. Cerpen dan esai tercecer dalam La Runduma (CWI-Kepmenpora; 2005), Opera Zaman (Grasindo; 2007), Sebilah Sayap Bidadari (Pustaka Fahima, 2010), Akar Anak Tebu (Pusakata; 2012), Di Bawah Kuasa Media Massa (IAINIBPRESS, 2014). Kini aktif di Forum Diskusi Magistra, di Kota Padang. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdullah Khusairi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" 3 Mei 2015

0 Response to "Bila Peluru Itu Tiba di Jantungku"