Istri Cerpenis | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Istri Cerpenis Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:39 Rating: 4,5

Istri Cerpenis

Dulu aku jatuh cinta karena cerpen-cerpennya. Ada pelet dalam kata-katanya. Memang iya, aku jatuh cinta padanya bukan melihat wajah, pekerjaannya, atau kendaraannya. Dia tak lebih tampan dari pria kebanyakan. Bukan pegawai negeri seperti menantu idaman ibu-ibu. Aku ma sih ingat, saat ditanya oleh ayahku apa pekerjaannya untuk menghidupiku, dia dengan lantang menjawab, "Saya cerpenis, Pak".

Seperti pagi sebelum-sebelumnya, aku mengantar pisang goreng buatanku ke warung Mbak Karsi, aku menitipkan pisang goreng yang kubuat selepas Subuh. Resep warisan ibu, seperempat tepung beras dan sedikit terigu, cukup membuat pisang goreng hangatku digemari pembeli.

"Kasihan ya Mira, harus kerja buat pisang goreng begitu, eh suaminya malah nggak kerja." 

Aku berusaha menulikan telingaku, "Salah sendiri dulu milih Hadi, coba kalau Mira kawin sama Ikbal anaknya Pak Naryo, pasti sekarang dia nggak harus hidup susah begitu."

Padahal, Subuh tadi aku sudah berdoa, semoga ibu-ibu tak membicarakan tentang suamiku lagi, aku sudah tak tahan dengan semua bisik-bisik itu, tapi rupanya doaku belum terkabul sekarang. Aku memilih pergi dari warung itu, aku tak mau makan hati pagi- pagi. Tak tahu asal muasalnya darimana, cerita tentang suamiku seempuk pisang goreng hangat di mulut mereka. Nikmat. Lumat.

Kulihat suamiku sudah memegang gagang sapu dan tersenyum padaku, "Habis jalan-jalan pagi ya, Dik!" Begitu sapanya dengan senyum khasnya. Aku hanya memandangnya sebentar, membalas senyum sedikit lalu masuk ke rumah. 

Aku ingin melihat Faiza, biasanya dia sudah bangun sepagi ini. Faiza putri kami, lahir enam bulan lalu. Kulihat Faiza sudah bermain dengan pena di dipan. Pena itu sudah basah di bagian punggungnya, pasti sudah berkali- kali masuk di mulutnya. Inilah rumahku, pena ada di mana-mana.

Kugendong putriku, setiap pagi aku suka memandangi wajahnya. Pipi yang tirus seperti ayahnya, hidung yang mancung seperti ayahnya, rambut yang lebat separti ayahnya. 

Semua seperti ayahnya, tak ada yang sepertiku. 

Kupastikan kelak dia lebih ayu dariku. Lalu, kulihat Faiza memandangku dan tersenyum lebar. Senyum yang menular padaku.

"Nah gitu dong, senyum," suara Mas Hadi mengagetkanku, "Ada apa, Dik?" Mas Hadi mengambil Faiza dari gendongaku.

"Mas, Mira buatin kopi, ya. Mas belum buat kopi kan pagi ini? Mira buatin, ya! Masak Mas Hadi tiap hari buat kopi sendiri, Mira kan jadi malu." Aku mengucapkan kata itu sambil berjalan ke dapur 

"Malu sama siapa, Bu." Mas Hadi menguntit di belakangku, memanggilku "Bu", begitulah Faiza memanggilku jika sudah bisa bicara nanti.

"Malu sama ayah lah, kan seharusnya ibu yang buatin ayah kopi. Istri kan seharusnya begitu." Aku kini memanggilnya "Ayah", begitulah Faiza memanggilnya jika sudah bisa bicara nanti.

"Aku menikahimu untuk jadi temanku, istri, dan ibu dari anakku, Dik. Untuk apa harus terbebani hal yang bisa kulakukan sendiri? Kamu istriku, bukan pembantuku." 

Pandangannya menusuk mataku, aku terdiam.

Jujur saja, selama ini peranku sebagai istri mungkin hanya melahirkan dan menyusui Faiza sementara tugas rumah tangga selalu kami kerjakan berdua. Membersihkan rumah, mencuci, menjemur, memasak, semuanya kami lakukan bersama. Mas Hadi selalu ada untukku, selalu di rumah bersamaku. Kadang-kadang, ada un dangan menjadi pemateri menulis adik-adik di almamaternya. Sekadar berbagi ilmu dan melepas kangen, begitu katanya. Selebihnya, suamiku selalu di rumah layaknya ibu rumah tangga. 

Untuk itulah semua orang menggunjingnya lelaki tunakarya. Pengangguran dan tak berguna. "Apa gunanya punya suami kalau tak bekerja?" itu yang kudengar dari mulut mereka.

Ingin kuteriakkan ke semua orang bahwa suamiku tidak tunakarya. Dia bekerja! 

Dia bekerja! Dia menulis apa saja yang ada di pikirannya ke dalam blocknote lalu menyalinnya ke laptop. Lima belas menit, 30 menit, satu jam, dua jam. Kadang dia beranjak dari depan laptopnya, berjalan mondar-mandir seperti setrika. Itulah sebabnya, di rumahku pena ada di mana-mana.

Dia benar-benar gila membaca dan menulis. 

Di depan laptopnya jemarinya menari. Suara "pletik-pletik" dari laptopnya terdengar seperti langkah kaki yang memburu. Kadang "pletik- pletik" itu berhenti, mungkin suamiku sedang berpikir, entah tentang apa, lalu melanjutkan lagi, lagi, dan lagi. 

Suamiku seorang cerpenis. Penulis cerita pendek. Cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca sekali duduk. Itu saja pelajaran sekolah tentang cerpen yang masih kuingat hingga kini. Jika kutanya mengapa dia lebih menyukai menulis cerpen daripada novel, dia hanya tersenyum. 

"Ada apa Dik, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi?" Mas Hadi lagi-lagi mem buyarkan lamunanku. Kopi pagi yang kubuatkan untuknya utuh dan Faiza sudah lelap. Semilir pagi membuat bayiku terlelap lagi. "Nggak ada apa-apa Mas, sudah Mas mandi sana," kataku meledeknya. 

Aku harus bilang apa ke Mas Hadi? Bilang kalau sejak beberapa hari yang lalu dia telah menjadi selebritas ibu-ibu? Bilang kalau dia dicap lelaki tunakarya dan tak ada gunanya sebagai lelaki? Ah, itu pasti menyakitkan sekali, harga dirinya sebagai lelaki akan koyak.

Aku yakin Mas Hadi belum pernah mendengar gunjingan murahan ini sebelumnya karena aktivitas Mas Hadi hanya rumah, masjid, dan memenuhi undangan tetangga untuk doa bersama atau kerja bakti. Semua temannya lelaki, rasanya tak mungkin lelaki membicarakan hal yang mengoyak harga diri mereka sendiri. Lagipula mulut lelaki tak seelastis mulut perempuan.

Nana, teman kuliahku, pernah meneleponku. 

Dia menceritakan suaminya yang baru saja diangkat jadi PNS. Sedangkan Irma, suaminya seorang pebisnis yang punya ratusan pegawai. 
Sebagai teman yang baik aku mengucapkan selamat atas keberhasilan suami mereka dengan kariernya, tapi sebagai perempuan dan istri ada rasa iri yang datang menepi hati.

Dua bulan ini, tulisan Mas Hadi tak ada yang dimuat di koran atau majalah manapun. Praktis tak ada serupiah pun masuk ke rekeningnya sebagai nafkah untukku dan Faiza. Aku harus menghemat uang honor tulisan dua bulan lalu. Cukup tidak cukup, harus cukup. Aku ingat pesan ayah, lebih baik makan seadanya daripada harus berutang ke tetangga. 

Aku mencoba bersabar dengan ini tapi sesabar-sabarnya istri, mana ada yang tahan dua bulan tanpa tambahan uang? Untung saja aku rutin nyetok pisang goreng tiap pagi. Uang dari penjualan pisang goreng itu kugunakan untuk menyambung hidup. Sebagai istri, aku tak tega membiarkan suamiku menanggung penghidupan kami seorang diri. 

Dia masih menulis setiap hari meski tak ada satu pun yang dimuat. Di saat seperti ini aku ingin bekerja apa saja yang gajinya bulanan, paling tidak ada pemasukan pasti, tak seperti sekarang yang menunggu kepastian cerpen suamiku ada di koran. Padahal kami tahu, setiap harinya redaksi menerima ratusan cerpen.

Suamiku selalu jingkrak-jingkrak dan mengajakku berputar seperti anak kecil setelah menerima telepon dari redaksi yang mengabarkan cerpennya akan dimuat. Ia senyum-senyum sendiri seperti membaca pesan singkat dari seorang kekasih ketika teman sesama penulis mengabarkan cerpennya dimuat di koran A atau majalah B. Matanya berbinar saat ia meminta izin padaku pergi mengisi materi kepenulisan untuk almamaternya dulu.

Cerpennya yang sering dimuat di media massa dan keseriusannya menekuni dunia kepenulisan membuatnya dinilai bisa menjadi pemateri bagi pelatihan kepenulisan yang diadakan adik-adik kelasnya. Pulang dari acara itu, dengan mata berbinar, dia menceritakan apa saja yang ia berikan selama materi berlangsung, pertanyaan-pertanyaan apa saja yang peserta tanyakan. Dia ceritakan semuanya. Aku terdiam, menikmati binar mata dan senyum girang yang tak ada habis-habisnya.

Jika beruntung, suamiku mendapatkan bingkisan dari panitia penyelenggara pelatihan kepenulisan itu, isinya macam-macam, kadang sem bako, buah-buahan, hingga kue-kue. Tak jarang ada selipan amplop di dalamnya."Uang itu untukmu dan Faiza, simpan saja," ucapnya se tiap kali aku hendak menyerahkan uang itu pada nya.

Begitulah suamiku, dia seperti tak butuh uang. Dia hanya membaca, menulis. Membaca lagi dan menulis lagi. Semua uang yang ia dapatkan diserahkan padaku. 

Biar, biar saja aku yang tahu pergunjingan ibu-ibu itu. Aku tak mau membenani pikirannya dengan hal semacam itu. Dunia imajinasinya tak boleh teracuni. Pikirannya harus tenang. 

Jika tenang, ia akan menemukan ide tulisan yang brilian, paparan kata yang mengagumkan, dan kuharap itu akan memikat hati redaktur. 

Aku rindu binar mata miliknya. Binar bahagia saat cerpennya ada di media massa "Ayah, Faiza sudah mandi, nih, Yah, sudah cantik dan wangi." Aku sengaja mencari suamiku, biar dia yang mengajak main Faiza sementara aku akan mencuci baju. Kuletakkan Faiza dipunggung Mas Handi yang tengkurap di karpet. Faiza bergerak-gerak, namun Mas Handi diam saja. Tertidur. Di bawah kepalanya ada buku dan di depannya microsoft word masih menyala. Ada rancangan naskah cerpen yang baru di buatnya. Kubaca judulnya, "Istri Cerpenis". Mataku mengabut. Kubisikkan di telinganya. "Teruslah menulis, Mas. Jangan pernah berhenti. Mira bangga jadi istri cerpenis sepertimu." 

*Rizza Nasir, pegiat dan penggemar sastra, tinggal di Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rizza Nasir
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" pada 3 Mei 2015

0 Response to "Istri Cerpenis"