Lastri Hilang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lastri Hilang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:59 Rating: 4,5

Lastri Hilang

LASTRI tak tahu harus bagaimana. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Tak ada angin malam ini, dinding-dinding bergeming, dan segalanya terasa kering. Lastri meringkik gelisah di pojok kasur. Ia tahu namanya sedang diperbincangkan. Sementara di luar ibu mertua dan kakak iparnya sedang membicarakan upacara adat reneuh meundingan untuknya.

Lastri menerka-nerka, Diding, suaminya telah meminta ibu mertuanya untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk kehamilannya, termasuk upacara adat. Sebelumnya, Lastri telah menjalani upacara empat bulan mengandung, tujuh bulan mengandung atau tingkeban, dan sembilan bulan mengandung. Kali ini pada usia kandungan Lastri yang sudah mencapai sebelas bulan, Lastri belum juga melahirkan. Ia harus menjalani upacara adat Sunda reneuh meundingan, yaitu upacara untuk usia kehamilan yang sudah melebihi batas kewajaran. Sudah menjadi kewajiban Lastri untuk melaksanakan adat keluarga suaminya yang orang Sunda, meskipun sebenarnya Lastri orang Semarang yang tidak mengerti adat Sunda.

Pertemuan mereka berawal ketika Lastri melamar kerja di toko bangunan cabang Semarang milik Diding. Diding bertanya-tanya, kali pertama ia melihat seorang perempuan muda melamar kerja di toko bangunan. 

‘’Di sini semua karyawanku laki-laki. Kau ingin melamar sebagai apa?’’ tanya Diding sembari memperhatikan Lastri dengan saksama. Wajah Lastri cantik, kulitnya kuning langsat, badannya ramping, dan kakinya jenjang.

‘’Saya bisa hitung-hitungan Pak. Saya lulusan akuntansi,’’ jawab Lastri sambil menyodorkan surat lamarannya.

Diding tersenyum melihat foto Lastri. Ia mulai menyukai Lastri. Sampai pada akhirnya mereka menikah. Lastri diboyong ke Sunda
untuk tinggal bersama ibu dan kakak Diding.

‘’Lastri, ayo keluar!’’ panggil Syifa, kakak iparnya. Lastri terbangun dari lamunannya.

‘’Ibu ingin menyampaikan sesuatu padamu,’’ tambah Syifa.

Lastri menarik napas panjang. Kebingungan serupa selubung membungkusnya rapat-rapat. Ia tak kuasa merobek jalan keluar masalahnya. Suaminya sudah tiga bulan tidak pulang. Tidak ada yang bisa membantunya untuk menolak adat ini. 

Lastri membuka pintu kamar. Ia berdiri mematung sambil memegang perutnya. Ibu mertuanya tersenyum penuh kasih. Tetapi, bagi Lastri senyum ibu mertuanya sangat menakutkan. Senyum yang menekan Lastri untuk mengiyakan pelaksanaan upacara reuneuh meundingan.

‘’Jujur, saya tidak mau melakukan adat ini, Bu,’’ ungkap Lastri memulai percakapan.

‘’Kenapa? Upacara ini tujuannya baik, Las, agar nantinya tidak terjadi sesuatu padamu dan bayimu,’’ tegas Bu Dirga.

‘’Tapi Bu, saya malu dengan hujatan orang-orang. Lastri dibilang tidak normal. Bukankah akan tambah malu jika aku menjalani upacara adat ini?’’ tukas Lastri.

‘’Kalau kau tidak melakukan upacara ini, keluarga kita yang akan malu. Kita sebagai orang terpandang harus memberikan contoh untuk masyarakat, termasuk mematuhi adat,’’ tutur Bu Dirga.

Lastri bungkam, ia tak ingin bertengkar dengan ibu mertuanya. Dari hati yang paling dalam Lastri tidak mau melakukan upacara itu, melakukan ritual masuk kandang, keliling rumah tujuh kali, dikalungi kelotok, dan menirukan suara kerbau. Ia tak mau disamakan dengan kerbau. Ia manusia, sudah takdir Tuhan bahwa dia belum melahirkan pada usia kandungannya yang sebelas bulan. Yang harus ia lakukan adalah periksa ke dokter. Tetapi di sini di daerah terpencil ini, Lastri harus ke kota dulu untuk memeriksakan kandungan.

***
LASTRI berdiri menatap luar jendela. Semerbak harum bunga dan embun menguar pada pagi hari. Ia mengelus perutnya sembari mendendangkan lagu ‘’Bubuy Bulan’’.

Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe 
Panon poe disasate

Lastri merindukan suaminya. Ia mulai membayangkan saat-saat bersama dengan suaminya, dalam pelukan, rengkuhan, dan sentuhannya. 

‘’Duh Kang...,’’ lirih Lastri.

Ingin rasanya Lastri pergi ke Semarang menyusul suaminya yang tanpa kabar. Tapi apa daya perutnya kian membesar? Apa kau tak merindukanku, Kang? Tetapi, keinginan Lastri lebih besar daripada ketakutannya. Ia mulai menata bajunya ke dalam tas. Senja ini ia
akan pergi.

***
MATAHARI tepat di atas kepala. Syifa duduk santai di beranda sembari membuka album pernikahannya. Masa lalunya begitu kelam. Suami yang begitu dia cintai meminta cerai karena Syifa tak bisa memberikan keturunan.

‘’Dasar wanita mandul! Kerjaanmu cuma makan dan tidur. Tidak berguna.’’ 

Kata-kata suaminya itu selalu terngiang di dalam pikiran Syifa. Hatinya begitu sakit. Sampai sekarang pun ia masih terpuruk.

Ingin sekali ia seperti adik iparnya: bisa mengandung dan mengelus-elus perutnya yang semakin membesar sambil mendendangkan lagu-lagu Sunda. Tapi itu mustahil.

‘’Lagi apa, Teh Syifa?’’ tanya Lastri mengagetkan Syifa. Syifa sontak menutup albumnya.

‘’Ini lihat-lihat foto. Oh ya, sudah siap kau dengan upacara besok?’’ tanya Syifa mengalihkan pertanyaan.

‘’Aku mau menyusul Kang Diding, Teh. Aku malu kalau aku harus melaksanakan upacara reuneuh meundingan. Dan kalau keluargaku di Semarang tahu mereka juga akan malu. Kenapa aku harus disamakan dengan kerbau, Teh? Lebih baik aku ke Semarang dan melahirkan di sana,’’ jelas Lastri.

‘’Bukan hanya itu, Las, orang-orang mengatakan kau bukan hamil anak Diding melainkan anak jin. Makanya belum juga lahir jabang  bayimu.’’ Ungkapan Syifa menyakiti Lastri.

‘’Apa Teh, anak jin? Demi Tuhan ini anak kang Diding. Bisa-bisanya Teh Syifa mengatakan itu padaku?’’ Lastri marah.

‘’Orang-orang yang mengatakan itu, Las. Tentu saja benar. Kehamilanmu itu aneh, sudah sebelas bulan kok belum juga lahir. Jadi aib keluarga saja,’’ ucap Syifa mencemooh.

‘’Cukup, Teh,’’ Lastri menangis kemudian masuk ke kamar.

***

Mendung menghampiri juga pertanda akan turun hujan. Akhirnya, Diding pulang setelah berbulan-bulan bekerja keras mengurusi toko bangunannya. Namun kedatangan Diding disambut dengan kebungkaman orang-orang di rumahnya.

‘’Las, Lastri!’’ panggil Diding. Tak ada sahutan.

‘’Diding, Ibu...,’’ ucap Bu Dirga. Gugup.

‘’Di mana Lastri, Bu? Besok akan ada upacara reuneuh meundingan, bukan? Lastri mau?’’ tanya Diding.

‘’Lastri minggat, Ding. Maafkan Ibu tidak bisa menjaganya,’’ ucap Bu Dirga, menangis. ‘’Ibu tahu Lastri tidak ingin melakukan upacara adat ini. Dia malu tapi Ibu bersikukuh ingin mengadakannya,’’ jelas Bu Dirga.

Diding terduduk lemas di kursi. Pikirannya semakin sempoyongan. Ia sangat merindukan istrinya. Tetapi orang yang dia rindukan itu pergi. Ia merasa sangat bersalah meninggalkan Lastri untuk waktu yang lama.

‘’Kapan Lastri pergi?’’

‘’Mungkin saat senja,’’ celetuk Syifa.

‘’Kau mau menemaniku mencari Lastri, Teh?’’ pinta Diding.

Syifa mengangguk. Mereka beranjak menaiki mobil kemudian berkeliling mencari Lastri.

***
KEPERGIAN Lastri memang sangat misterius. Orang-orang di rumah tidak ada yang tahu. Dia menghilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Lagu ‘’Bubuy Bulan’’ mengingatkan Diding pada Lastri. Lagu itu sering Lastri nyanyikan saat mereka sedang berduaan. Diding semakin frustrasi. Diding kelelahan setelah seharian ini mencari Lastri.

‘’Ke mana istrimu itu ya, Ding?’’ tanya Bu Dirga.

‘’Apa mungkin dia ke Semarang menyusulku tetapi belum sampai?’’ Diding menerka-nerka.

‘’Mungkin saja, Ding. Semoga dia baik-baik saja,’’ tutur Bu Dirga.

‘’Iya Bu, tapi aku harus bilang apa pada keluarga Lastri?’’

‘’Maafkan a...ku, Ding,’’ mendadak Syifa terbata-bata berkata.

‘’Maaf untuk apa, Teh?’’ tanya Diding, heran.

‘’Maaf untuk kebungkamanku selama ini. Lastri telah kusembunyikan. Ia gila, ia ingin mempermalukan keluarga kita. Dia dihamili makhluk halus, Ding. Kau harus menceraikannya,’’ jelas Syifa.

‘’Apa? Jaga ucapanmu! Di mana dia sekarang?’’

‘’Di dukun bawah kaki gunung.’’

‘’Astaga Teh, kau waras? Lastri sedang hamil kau bawa dia ke dukun?’’

‘’Itu bukan anakmu, Ding, itu anak jin. Kuminta dukun itu untuk membunuh anak itu.’’

‘’Astagfirullah, Syifa tutup mulutmu! Siapa yang mengatakan hal itu?’’ Bu Dirga mengelus dada.

Diding dan ibunya bergegas menyusul Lastri. Mereka temukan Lastri tengah berbaring di kursi panjang. Perutnya sudah kempes. Di sampingnya terlentang tubuh bayi mungil dengan tusukan pisau bersimbah darah. (62)


Lailatul Mafiyah lahir di Batang, 13 Februari 1993, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lailatul Mafiyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 3 Mei 2015

1 Response to "Lastri Hilang"