Menghimbau Si Bigau - Pesilat Lidah, 1 - Menggili Lubang Belut - Pesilat Lidah, 2 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menghimbau Si Bigau - Pesilat Lidah, 1 - Menggili Lubang Belut - Pesilat Lidah, 2 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:27 Rating: 4,5

Menghimbau Si Bigau - Pesilat Lidah, 1 - Menggili Lubang Belut - Pesilat Lidah, 2

Menghimbau Si Bigau

Telah sekian hari pekan
kepul harapan terbungkus daun pisang
cabik sebelum terkembang
dingin sebelum dimakan
kilat gairah serupa kulit pengikat pinggang
yang diminyaki sepanjang malam
menguap begitu saja di gelegak siang.

Oh, Bigau bertaring lengkung
ke mana lagi arah mengadu untung
ke lereng bukit yang menyelundupkan lurah
tersereng langkah oleh siasat tanah basah
pada sebatang pohon yang menaungi sesak belukar
terjerembab kaki pada jebak jalinan akar.

Pada liang, para jurang
segala tempat yang disebut lubang
di mana benaman lelah babi-babi sempat bersarang
adakah sepi badan bisa diguling-gulingkan
dalam jejak riuh kubangan.

Padahal, entah telah sekian pekan pula
kami kurung gelut gelinjang
anjing-anjing sebelum perburuan
agar langkahmu terlacak agak sejejak
supaya lintasmu terendus agak sebau
tapi kalera! Hanya gongong kosong
yang selalu kami bawa pulang.

Oh, Bigau bergiwang juntai
bukakan palang, tampakkan jalan
lepaskan lagi babi-babi ke jalur perlintasan.

Biar kami tebus mereka punya perangai
biar kami tembus itu tubuh yang berlemak bergelumai
demi batang-batang tebu yang dilahapnya sampai ke akar
untuk ladang-ladang menjelang panen yang dikincahnya
sampai berambur-berurai.

"Adakah di antara kalian yang melepas pantangan
Sebelum menginjakkan kaki di ini hutan."

Kandangpadati, 2014



Pesilat Lidah, 1

Kau boleh berjalan mendentum langkah menghentak tanah
memamerkan tajam yang tumpul seketika
melagakkan tikam yang pental begitu saja
menepuk-nepuk dada, meninggikan dagu dari mata.

"Giwang celeng tertanam di pangkal lenganku
taring harimau menjuntai di selingkar leherku
paku, kaca, segala tuba telah membusuk di lambungku."

Beringin gadang, oleh gelegar suaramu mungkin rubuh
besi padu di kepalan tanganmu barangkali lintuh
tapi sungguh gertak itu tak akan pernah jatuh
ke desir jantung ini, ke getar bulu kuduk ini.

Seban segala yang terkembang telah dilipat dalam bahasa
segala yang terbentang sudah berkelebat pada simpul makna.

Maka dengarlah ini dendang lama:

Hutan belantara beserta kelindan ragunya
aku himpun dalam seunggun umpama
agar sesiapa yang tak mencari hingga bersua
tak menyibak hingga ujung jari dan ambang mata
akan tersesat dalam rimbun prasangka.

Jalan tak berujung dengan terawang letihnya
aku gulung jadi segunung peribahasa
jika kau menghasta tak kunjung selesai
mendepat tak sampai-sampai
pada sekerikil kata kau bakal tersandung
pada seranting kalimat kau akan tertungkai.

Padang, 2014


Menggili Lubang Belut

Sawah tak melintang-bujurkan pematang
sekadar jalur peniti kaki ke arah langit petang
memapah langkah, menyeret hari lalu
yang memberat dibenam lumpur ingatan
tertatih oleh luka kenangan yang kian meradang.

Basuhlah rantang
basuh dari sisa raung dan rimah erang
sebab tanda kepulangan tak cukup hanya dipekikkan
oleh lemah batuk serta lembut ketuk.

Harus ada yang dipiyuh selain kecut peluh atau amis keluh
mesti ada yang dipikul pundak dijinjing tangan.

Maka ditinggikan pematang dari sawah yang terbentang
agar licin kulit belut juga kesat sisik ular lancar melubangi sarang
sehingga kau beroleh paham, bagaimana jernih pandangan
ditakar oleh keruh kubangan.

Berhati-hatilah pada perangai mereka yang bertikai samar
geliat mana yang mengandung daging
liuk seperti apa yang menyimpan bisa.

Cukup dengan bening benang tanpa setangkai pancang
jangan biarkan segetar gerak membikin air pada beriak
sehembus suara jadi bencana untuk sebubung rencana
kaitkan saja keduanya pada geliat cacing gila
pada desir belalang muda.

Maka kau akan tahu
di kemudian musim, pada sawah yang lain
menggili ini lubang menjelang jatuh petang
hanyalah sekadar siasat menggali dasar sabar
menggapai puncak tenang.

Kandangpadati, 2014

Pesilat Lidah, 2

Tidak ada kuku yang mesti diruncingkan
hunjam bulan selalu ulah tikam
nganga luka juga belum tentu perangai tajam
jika ancangmu hanya akan berujung terkam
menyisihlah dari pandanganku, tuan
jika tujumu hanya sejengkal lebih panjang
dari kaki yang selangkah tangan yang serentang
menepilah dari ini gelanggang.

Sebab di sini, yang belum terkilat saja
sudah terkelam dengan segera
arah bayang-bayang lebih dulu diterka
jauh sebelum badan diraba seberkas cahaya
sebelum gerak yang segetar dituntaskan juga.

Tapi selagi jalan masih menyimpan tikungan
menurun bisa ditahan, mendaki bisa dilapangkan
tak perlu ada tanah yang harus disirahkan
biarkan tikai selesai dengan duduk bersila saja
biarkan pedih sudah oleh pisau dalam sarung
tajamnya tak menggores, tusuknay tak berlubang.

"Mulutnya rindang menyejukkan
lidahmu bercabang, manis berjuntaian
aku tak butuh siasat apalagi nasehat
ini kapak aku genggam, ini parang aku selipkan
tulangku sudah dingin, darahku sudah panas
yang aku ingin, tak banyak kata dan tebas."

Harimau dibunuh dalam peribahasa
racun sekalian bisa ditebar pada mantra
segala pelangkahan yang kau punya
telah disusutkan oleh umpama.

Kalau kehendak hatimu juga yang diturutkan
carilah dahulu gua-gua petilasan
tempat di mana putih mata disurukkan
sirah telinga disembunyikan.

Kandangpadati, 2014



Fariq Alfaruqi lahir di Padang, 30 Mei 1991. Sedang belajar di Sastra Indonesia Universitas Andalas. Giat di Ranah Teater dan Komunitas Kandangpadati di Padang. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fariq Alfaruqi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 3 Mei 2015

0 Response to "Menghimbau Si Bigau - Pesilat Lidah, 1 - Menggili Lubang Belut - Pesilat Lidah, 2"