Mentari di 0 KM | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mentari di 0 KM Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:56 Rating: 4,5

Mentari di 0 KM

Pulau Weh,16 Januari 2000.

Udara lembab. Angin sepoy-sepoy menyejukkan setiap makhluk. Pohon asam yang sudah ada sejak zaman Belanda tumbuh bagaikan kanopi raksasa yang membuat orang ternaungi di saat cuaca panas,sekaligus bergidik ngeri saat suasa hujan seperti ini. Halte yang berada dibawahnya tampak berlumut disana-sini. Tidak jauh dari sana, sebuah mesjid agung berdiri, mesjid Babussalam namanya. Disampingnya terdapat sebuah Madrasah Aliyah yang luasnya tak seberapa dan hanya sanggup menampung tak lebih dari 100 murid. Walaupun begitu,prestasi dan kualitas para muridnya patut diacungi jempol.

***
Jam menunjukkan pukul 08.15 wib ketika seorang siswi mengetuk pintu kelas XI IPA. "assalamualaikum!", ucapnya. Bajunya basah dan nafasnya tersengal-sengal."waalaikum salam!", jawab para murid dan Bu Hamidah. Kebetulan saat itu tengah berlangsung ujian bahasa Arab yang diadakan bu Hamidah untuk mengetes kemampuan para muridnya selama ia mengajar. Guru berkacamata dan murah senyum itu sudah mengabdi di Madrasah ini sejak 3 tahun yang  lalu." Maafkan saya buk, saya terlambat tadi bus di tempat saya tidak jalan dan saya harus menumpang tetangga saya yang sekalian pergi ke pasar, buk", jawabnya. Ya sudah, ibu maafkan. Sekarang kamu kerjakan ulangan bahasa Arab seperti teman-temanmu yang lain", kata bu Hamidah. "Baik buk",jawabnya patuh. Sementara diluar hujan semakin deras dan disertai petir.

***
Mentari,begitulah namanya. Tak ada embel-embel kata lain didepan atau dibelakang namanya. Hanya Mentari. Ayah dan Ibunya bukan tak kreatif dalam memilih nama, mereka punya harapan agar kelak anaknya mampu memberikan manfaat dan mempunyai masa depan yang cerah, secerah Mentari. Ketika umurnya masih 6 tahun, tepat saat ia duduk di kelas 1 ibtidaiyah, ayahnya menjadi korban tembakan saat konflik masih bergejolak di serambi Mekah. Sejak saat itulah mereka pindah ke kota Sabang, kota asal ibunya dan membangun kehidupan baru disana. Mereka membuka lapak kecil-kecilan di kawasan wisata tugu 0 KiloMeter. Biasanya setiap hari libur dan akhir pekan banyak wisatawan yang berkunjung kesana. Di daerah ini hanya ada beberapa rumah berdiri, salah satunya gubuk yang ditinggali mentari dan ibunya. Walaupun jarak yang cukup jauh dari sekolah, namun Mentari tak sekalipun mengeluh. Ia bertekad untuk membahagiakan ibunya dan mengubah nasib mereka menjadi lebih baik suatu saat nanti.Setiap pukul 06.00 wib ia sudah berdiri rapi di depan gubuknya menunggu bus. Namun, hari itu bus yang ditunggu tak kunjung datang."Apa gara-gara hujan lebat yang turun deras semalam sehingga memutuskan akses jalan kesini?", gumamnya dalam hati.Beruntung ada tetangganya yang baik hati menawarkan Mentari untuk pergi bersamanya. Namun tetangganya itu hanya bisa mengantar sampai pasar karena beban sayuran yang akan dijualnya di pasar cukup berat. "Tak apa lah,diberi tumpangan saja sudah beruntung", ucapnya dalam hati. Walaupun ia harus berjalan 2 KM lagi untuk sampai ke sekolah.

 ***
Tokyo,16 January 2015.

Musim salju menutupi sebagian besar wilayah Jepang seperti Tokyo dan Kyoto.Meski tak begitu parah,namun sebagian besar orang terlihat mengenakan jaket tebal dan syal yang melilit leher. Tungku-tungku pemanas ruangan terlihat mengepulkan asap dari beberapa rumah penduduk di negara asal makanan sushi tersebut. Bunga sakura yang beberapa hari lalu tampak masih mekar,kini tertutupi oleh butiran es putih yang turun dari langit.

Seorang perempuan berkerudung biru dan mengenakan jaket tebal serta sebuah ransel tampak keluar dari sebuah basement sederhana di pinggiran kota Tokyo. Ia adalah Mentari. Beberapa hari yang lalu ia mendapat gelar kesarjanaan dari Hokkaido University sekaligus mendapat predikat summa coumloud atas tesisnya yang cukup memikat hati para dosen di universitas tersebut. Ia berencana untuk segera pulang ke tanah air, mengabarkan,dan mengabdi pada ibunya yang kini sudah tidak muda lagi. Ia akan menjadi mentari yang bisa memberi manfaat untuk orang-orang di sekelilingnya.  Ia telah membuktikan bahwa mimpi bukanlah hal yang mustahil untuk menjadi nyata, selama kita mau berdo'a dan berusaha.


Muksalmina, penggiat sastra kelahiran Sabang,16 November 1997.saat ini duduk di kelas XII MAN Sabang.karyanya pernah beberapa kali dimuat di media lokal.tinggal di Desa Ujong Kareung,Kota Sabang,provinsi Aceh.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muksalmina
[2] Dikirim langsung oleh penulis melalui eMail klipingsastra (Terimakasih dan penghargaan kami haturkan)

1 Response to "Mentari di 0 KM"

Muxsalsabang said...

Assalamualaikum.terimakasih sudah dimuat.salam literasi!