Paradoks - Kandil - Lengkung Senyum Perahu yang Koyak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Paradoks - Kandil - Lengkung Senyum Perahu yang Koyak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:49 Rating: 4,5

Paradoks - Kandil - Lengkung Senyum Perahu yang Koyak

Paradoks

Aku mencari ujung dari dnegung
yang mengurung gendang telingaku.
Mungkin suara gunjingan burung-burung
atau makhluk-makhluk yang sedang
berpesta di balik tempurung.

Masa lalu, seperti sembilu.

Aku terus menuliskan sajak-sajak dari darah perawanku yang pecah
Malam-malam panjang berdiam
di bawah langit tanpa kejora, bulan penuh
sembunyi di balik awan hitam, hujan turun
sepanjang musim memenuhi sungai-sungai
membelah tubuhku.

Tubuhku bulu-bulu putik yang lembut,
Ruang-ruang bermadu, bermekaran warna ungu,
Dia, kumbang bersuara nyaaring
Menyayat kelopak dengan sayapnya
yang runcing. Dikemasnya manisku,
Diempaskannya daun-daunku.

Kepada ilalang kuadukan kesedihan,
Ketika airmata terlanjur menghanyutkan
Benangsari dari putiknya.

Kenapa ada di belakang,
seperti ciuman pertama yang tak bisa lekang,
Aku masih menyebutnya pengasih,
aku masih memanggilnya kekasih.

Kandil

kau selalu merasa tangguh,
mengundang segala musim
ke dalam dada. Matahari bersinar
cukup lama begitu juga kesepianmu.
Hujan membenamkan paru-paru dan badai
yang murka membelah jantungmu
"Akan ada yang mengikatnya kembali"
Kaatamu mencari-cari pelita
Untuk hangatkan lara.

Di luar tubuhmu, aku kandil,
yang semakin gigil.

Lengkung Senyum Perahu yang Koyak

Tak lagi kureka-reka arti,
kedua alismu yang berlabuh
garis-garis di antaranya menjadi
Dermaga, bulu matamu Kapal-kapal
Gelombang, dan kedua
Matamu adalah palung
Dari ujungnya tertumpah kasih
Ombak yang menghapus jejak penyu
Di pasir putih.

Tak ada yang lebih memahami
Kesedihan, selain menjadi nahkoda bagi
Kapal yag nyaris karam,
Padahal siapa mampu mengubah
arah angin atau mengganti letak
bintang-bintang

Matahari membuat catatan ketika
Kau menaikkan layar lebih tinggi, menambal biduk
yang tebuk hingga memutuskan berenang
sampai ke daratan, walaupun
sengal hampir memenggal
Sukma dan raganya

Akhirnya aku mengerti paras itu,
Lengkung perahu yangkoyak


Farra Yanuar, penyair


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Farra Yanuar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran rakyat" pada 3 Mei 2015

0 Response to "Paradoks - Kandil - Lengkung Senyum Perahu yang Koyak"