Penari - Kenangan - Jangan Dengarkan Aku - Perangkap - Tidurlah Kekasih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penari - Kenangan - Jangan Dengarkan Aku - Perangkap - Tidurlah Kekasih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:24 Rating: 4,5

Penari - Kenangan - Jangan Dengarkan Aku - Perangkap - Tidurlah Kekasih

Penari

"Tuhanku, berikan padaku
keberanian dan kegembiraan."
                     Jorge Luis Borges

Aku telah mati. Panggung diserbu ratusan bunga.
Layar gemuruh seperti rombongan tuba. Lantai jadi bayang
dari pertempuran belaka.

Lihat gerakan tanganku, sebelum mereka terkulai.
Memeluk, membentang, seperti menarik ke segala arah,
mengusir ketakutanku -- akankah ini semua jadi milikku?

Tungkai kakiku telah lelah melompat. Jinjit dan berlari.
Tapi duniaku tetap di sini. Dunia yang disapu dari
warna kuning dan jingga saja.

Aku menyimpan suara sebaik-baiknya.
Menyumpah juga sebaik-baiknya.
Agar tak terganggu tempik sorak itu.

Keputusanku untuk mati - sederhana begini:
di tengah panggung, di adegan yang seharusnya
kuhadirkan gerakan canggung, semua anggota badanku
berhenti. Seperti ada yang bernyanyi himne "Bagimu Negeri"

di akhir program acara televisi.

2014


Kenangan

"Kau bangkit, dan di depanmu
berdiri: ketakutan, doa-doa, dan
sebentuk tahun-tahun yang berlalu."
             Rilke

Belum pernah aku seterus terang ini kepadamu. Melompat
melawan gerak orang-orang yang berteriak: Ingat! Ingatlah!

Telah aku buang rasa takut sebagai bentukan tak jelas
dari bayangan gajah di dekat meja. Aku berlari riang

ke belakang. Ke tempat kau bertolak sebagai penari,
pembawa bunga-bunga di kepala (yang kau anggap doa).

Aku berlari untuk memastikan: kau tak lupa tali pinggang,
kipas kertas, dan riasan bulu mata. Karena aku benar-benar

tak yakin - kau ingin tampil sederhana.

2014


Jangan Dengarkan Aku

"Dengarlah aku
seperti seseorang
menyimak bunyi hujan."
             Octavio Paz

Mataku: buta masa lalu. Topi penambang
di dalam kelam. Yang kutemukan hanya
sepotong tubuhmu - lorong panjang paling kering.

Tanganku: doa bisu. Bunga tak kembang,
tanpa jambangan. Yang kuraba perasaan bahagia
sekaligus bayang baju - warna kuning kurang jernih.

Abaikan suaraku: bulu unggas hiasan
kepala. Yang tak menyentuh siapa-siapa.
Tak ada harapan di sana - terkulai seperti

bekas linggis dan garu. Kau tak akan
temukan pecah benih salju.

2014

Perangkap

"Ikutilah aku. Jangan mengikutiku.
Aku akan bicara hal-hal semacam itu,
dan maksudku keduanya."
              Stephen Dunn


Kegelisahanku gergasi penangkap peri. Dengan perangkap
kupu-kupu di tangannya. Ingin menyekap aku dalam dunianya.

Tentu, aku tak mau menyerah. Aku peri pemarah.
Kukutuki langit warna dadu, juga tanah semu tembaga.

Kadang aku kalah. Masuk ke dalam perangkap mereka.
Tunduk dan hanya bisa memandang: wajah tak ramah.

Kadang aku terbang tinggi. Membuat mereka melompat
dan berlari. Membuat awan kalang kabut dalam gerak kalut.

Aku tahu rahasia - ini yang ingin kusampaikan padamu:
Jemari gergasi itu demikian gemuk, hingga tak bisa menjemput

tubuh kata yang begitu mungil. Tujuh peri kecil
yang tumbuh dari pikiranku tentangmu.

2014

Tidurlah Kekasih

: Iztaccihuatl

"Bahkan aku telah gagal
sebelum aku memulai sesuatu."
                 Abraham Ibn Ezra

1.
Hidup - bagiku - gugur buah-buahan,
jika kau - pemimpi - hanya berjaga
lalu terbuai suasana.

2.
Peperangan belum usai, butir salju
dari para dewa baru saja ditebarkan
di atas tubuhmu. Kibaskanlah!
Kembangkan kipas bulu merak itu!

Para pemuda juga sehelai merak
di atas kepalamu, Kekasihku.
Sebagai tanda: kelak ada
yang berbahagia, mengelak dari
segala bahaya.

3.
Aku, Kekasihku, pemberi tanda
panah ke atas di selembar kertas.
Di mana waktu beringsut, begitu rupa
seolah di hidup ini tak ada yang benar keras.

4.
Jika perdamaian dilembarkan di lembah,
para pemuda dan raja-raja saling sembah,
bunga-bunga peoni mekar, dan kau, Kekasihku,
turun dari puncak gunung seringan dengung lebah.

Akan kututup kipas bulu merak di tanganmu,
kureguk yang telah lepas dan terserak darimu.

Biar semua tahu: dalam puisi, secawan
sepi berulang kali jadi perawan kembali.

5.
Hidup - bagiku - selimut para pemimpi,
jika kau - pemuja waktu berjaga - mendekap
harapan: tercatatlah segala perbuatan.

6.
Aku, Kekasihku, rasa geli yang tersisa
di pinggulmu. Semacam seligi majal yang
tak jadi dibawa berperang. Dan kau merasa
masygul: bagaimana puisi ini bakal dikenang?

7.
Beginilah arti selembar kipas: Aku angin
dan kau gerak beraturan ke samping.
Meski dibuat dengan bahan bulu merak,
kita masih tak yakin:hidup begitu semarak.

Dan begitulah puncak gunung yang dingin,
sepi jadi kepastian yang paling mungkin.
Dan kita berdiri di sini dengan jenak,
tetap saja berpikir hal yang bisa meruyak.

8.
Karena itu, Kekasihku, tidurlah
di dalam puisi. Dan akan kuberikan
hal terindah.

2014



Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di Jakarta. Ia bergabung di paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam). Buku puisinya antara lain Liburan Penyair (2014). 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 3 Mei 2015

0 Response to "Penari - Kenangan - Jangan Dengarkan Aku - Perangkap - Tidurlah Kekasih"