Suryoputran, Pedalaman Rindu - Hari-Hari Berpacu di Minggiran - Parangkusumo, Memanah Cakrawala - Di Bintaran Ada Percakapan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Suryoputran, Pedalaman Rindu - Hari-Hari Berpacu di Minggiran - Parangkusumo, Memanah Cakrawala - Di Bintaran Ada Percakapan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:29 Rating: 4,5

Suryoputran, Pedalaman Rindu - Hari-Hari Berpacu di Minggiran - Parangkusumo, Memanah Cakrawala - Di Bintaran Ada Percakapan

Puisi-Puisi Untuk ragil Suwarno Pragolapati:

Margoyasan, Di Antara Kata-Kata

Potret Bung Karno sebesar pintu di ruang tamu
seolah emngawasi waktu
anak-anak bertanya
dan jawabnya, sejarah jangan diganggu

Suara dari Pasar Sentul bergema
hidup masih ada,
jual beli seiring gerak jiwa
kota dan desa sama

Di antara buku dan kata-kata
semua dilarang berhenti
meski senja mengancam dengan gelap
"Carilah cahaya agar tercipta bayang-bayang."

Apa arti semua ini
jika semangat yang rapuh
gugur sebelum memasuki lorong?
"Jangan peduli, taklukkan langkahmu."

Dengan perut lapar, aku pulang
kusaksikan pohon waru bergoyang
menawarkan bunga oranye
agar dipandang dengan lega

Suryoputran, Pedalaman Rindu

Sebenarnya ada keteduhan yang hangat
dapat diserap di sini

ada sunyi tak bernama
dapat dilagukan

gairah-gairah menaklukkan
dapat dijernihkan

rindu-rindu pada semesta
dapat dilukiskan

ruang-ruang setengah hampa
dapat diledakkan

makna-makna kuyub
dapat dibiakkan.

Hari-Hari Berpacu di Minggiran

Seperti baru kemarin, rumah tua teduh
lorong panjang menampung waktu
pertemuan-pertemuan pikiran dan catatan
pengalaman dilabuhkan, juga kegaduhan
menempuh perjalanan kota, lelah juga
bayang-bayang di cermin.

Ibarat burung, dilarang tua di dalam sarang
"Apa guna sayap kalau tidak mau terbang?" hardikmu
Langit menghadang dengan sunyi
Awan berbaris menyiapkan musim
Angin, bisa segera berubah badai
Beruntunglah yang memiliki rindu

Bisa segera menuju ke sana.
Seperti mengaji, setiap datang
Ada kitab baru dibuka halamannya
Baca sendiri. Sudah besar kok minta diajari
Dengan sedikit gemetar, huruf-huruf yang semula liar
digenggam erat lalu dijinakkan
"Jangan lupa berdoa, meski pakai bahasa Jawa"
Hari pun terasa berpacu.

Dari serambi rumah, orang-orang tampak bergegas
Menuju ujung lorong, masuk ke jalan raya
Kampung masih mirip surga, dengan pagar tanaman
Menghijau dan tidak menikam pandangan
Di sini minum wedang teh masih terasa minum teh
Makan nasi lodeh pedas masih terasa nasi lodeh.
Lupakan cinta tak sampai di seberang gardu ronda itu.

Tibalah saat pulang. Ada rasa termangu
Ragu. Masihkah bisa bertemu?

Parangkusumo, Memanah Cakrawala

Dalam perkemahan, semua disiapkan jadi prajurit
nafas diutuhkan tenaga dipanggil ke jantung
diratakan ke seluruh nadi.

Jangan tidur, mata terjaga meski debu menimpa bulu mata
kepala diayun-ayunkan oleh mimpi

"Ayo, ini saatnya memanah cakrawala
bukan sekadar memanah hati."

Semua gemuruh itu membuatku gemetar
kalau teringat kembali
"Ini laut, jiwamu.
Berlayarlah dengan perahu ombakmu sendiri."

Siang terasa padang pasir,
dan perang segera dimulai.

Di Bintaran Ada Percakapan

Di Bintaran, pojok gereja, ada ruang untuk berbicara
Kata-kata digelar, masih ada majalah remaja yang ramah
Mengundang siapa saja. Bekas serdadu sastra Malioboro
Pernah berkumpul di sini, semangat harus meluap-luap
Mendidihkan rindu
Mengolah waktu
Menegaskan jejak perjalanan luka.

Ruang temaram, bisikan terasa bergema
Engkau mengajak melintasi batas yang mungkin dilewati
Pragulan perlu seluas dunia
Dan puisi Wing Karjo
Menjadi bacaan wajib
Menjadi bacaan wajib
Kau gelegarkan.

Sekarang, setiap lewat Bintaran
Tersisa bayang-bayang itu
Ketegaranmu miirip batu di plataran
Terpendam, dilupakan, tetapi terasa ada
"Kalau memang ingin mengembara
Janganb berhenti di satu cakrawala,"
seolah terdengar kembali kata-katamu.


2015

Mustofa W Hasyim, tinggal di Yogyakarta. Aktif di Komunitas Sabana dan menjadi Ketua di Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta.

  

0 Response to "Suryoputran, Pedalaman Rindu - Hari-Hari Berpacu di Minggiran - Parangkusumo, Memanah Cakrawala - Di Bintaran Ada Percakapan"