Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (17) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (17) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:34 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (17)

ZAITUN seperti kesetanan, berteriak-teriak menyambut datangnya ombak, bermain-main dengan air laut seakan menyambut kekasihnya tercinta, lalu bergulingan ke atas pantai pasir bersama ombak, tertawa-tawa seperti sedang bersendau-gurau dengan lelaki yang ada bekas luka di lambung, tangan serta kakinya itu.

"Aku harus bisa menemukan."

Seperti dituntun kekuatan gaib, atau barangkali wisik dari Kanjeng Ratu Kidul, ia lari ke arah bukit. Zaitun mendaki lereng terjal menuju puncak yang penuh batu bongkahan hitam, tersaruk-saruk di hambal tebal. Perjalanan melelahkan dilakoni dengan mulut terkatub rapat oleh wanita keras hati yang kenyang dengan pelbagai pengalaman getir. Tidak lama kemudian berhentilah Zaitun di depaan sebuah goa yang besar dan gelap, dan di kanan kiri tumbuh rumpun lebat. Kelelawar bercuitan terbang keluar masuk goa menambah seram suasana. Dengan langkah lebar dan tidak ada kegugupan sama sekali ia memasuki goa dan ditelan kegelapan. Goa dengan lebar 20 meter ini dikenal wingit sebagai Goa Siluman, dan seorang sakti pun akan berpikir seribu kali untuk masuk. Tapi tidak dengan Zaitun.

Wanita tabah ini terus masuk ke dalam, namun seperti ada bisikan yang mengingatkan agar hati-hati, maka Zaitun menelungkup dan bejalan merangkak sambil tangannya meraba-raba ke depan. Setelah merangkak sekitar tigapuluh meter, mendadak tangannya merasakan ada lubang besar di depan, maka seketika ia menghentikan langkah. Napasnya yang memburu ditenangkan. Ia bahkan duduk memusatkan pikiran.

"Oh, sumur." Meski gelap sekali, tapi lama kelamaan matanya jadi agak terbiasa. Dan dengan hati ngeri ia melihat sumur yang dalamnya tanpa batas, sebab, batu yang ia lemparkan tidak terdengar menyentuh dasar. Di belakang liang sumur terdapat reruntuhan atap goa yang menunjukkan pemandangan dengan latar belakang stalaktit dan stalakmit.

Dengan ekstra hari-hari Zaitun membalikkan tubuh, dan merangkak berbalik arah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ngeri membayangkan ia terjerumus ke dalam sumur tanpa batas, yang bukan tidak mungkin di dasarnya batu-batu runcing atau bahkan sarang ular berbisa.

"Margapati." Zaitun tiba-tiba teringat cerita teman-temannya di lokalisasi Slarang. Bahwa di sekitar Widarapayung Binangun memang ada goa maut yang oleh penduduk setempat dinamai Goa Siluman atau Goa Margapati. Jalan Kematian.

Menurut cerita teman-temannya, Goa Margapati merupakan istana tua atau kerajaan siluman, yang dijaga oleh sepasang jin raksasa Singalodra dan Nagaraja. Goa ini sering pula dipakai sebagai tempat pertemuan raja-raja siluman, di dalamnya terdapat batu Ganda Mayit, yang pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Legi berbau anyir mayat. Ada pula batu selendang mayang bentuknya tinggi besar dengan pilar-pilar di sekelilingnya. Batu ini sesungguhnya merupakan stalakmit yang terbentuk ribuan tahun lalu. Batu selendang mayang tergantung persis di tikungan goa, yang salah satunya merupakan jalur yang tembus ke luat selatan. Pada bulan sura di malam hari tertentu yaitu malam jumat kliwon batu angker ini mengeluarkan cahaya hijau kebiruan.

Zaitun merangkak keluar goa. Dadanya berdebar kencang, miris membayangkan jika tadi di dalam goa tidak waspada akan terjerumus ke sumur tanpa batas. Dan nyawanya seketika pasti melayang. Ia menarik napas dalamdalam untuk menenangkan pikiran.

"Tapi aku harus tidak boleh putus harap menemukan dia. Bukankah pesan Kanjeng Ratu Kidul, jika memang jodoh pasti bertemu." Zaitun membulatkan tekad. Tidak ada kamus kata menyerah dalam pencariannya.

***
GUNUNG Kendeng dekat Nusakambangan dan tidak jauh pula dari Srandil, merupakan sebuah gunung yang tidak begitu tinggi (1653 meter), namun subur tanahnya, elok pemandangannya, dan bersih udaranya. Gunung Kendeng inilah menurut para pertapa dianggap sebagai duplikat Gunung Mahameru dalam hal kesakralan. Banyak goa bertebaran di Kendeng, salah satunya adalah Goa Nagaraja, yang depannya memiliki 'pekarangan' teduh dipayungi pohon Lo, Trembesi dan Beringin raksasa di lereng atas goa. Inilah pertapaan Sukma Menep di mana sumber air jernih berada di tengah goa.

Pagi hari yang resik itu, goa pertapan Sukma Menep tampak lebih indah dari biasanya. Sinar matahari menyingkap tirainya menyelonong masuk dari celah-celah daun pohon di atas goa, menerangi sebagian tanah pekarangan yang bersih karena disapu setiap hari. Suatu burung ramai berceloteh di pohon-pohon, seolah makhluk-makhluk kecil ini bersukacita menyambut datangnya pagi setelah sekian lama dibelenggu kegelapan. Beberapa burung berkicau merdu saling bersahutan sambil berkeramas embun yang diawetkan malam. Kegembiraan yang tulus danmurni, didasari kewajaran merupakan doa dan puji yang paling suci dipanjatkan ke bawah kaki Sang Hyang Wisesa.

Di kanan kiri mulut goa tampak bersila dua orang kakek. Mereka, sebagaimana goa pertapan agung itu, menghadap ke timur. Jika tidak memerhatikan bagian dada mereka yang turun naik, tentu akan menyangka sepasang kakek itu arca-arca penjaga goa. Mereka duduk tidak bergerak sama sekali, kedua mata dipejamkan dan hening dalam meditasi. Yang duduk di sebelah kiri adalah kakek yang rambutnya sudah putih semua, digelung di atas kepala, jenggot dan kumishya juga bercampur uban, tubuhnya tegap membayangkan tenaga. Kakek ini bukan sembarang tokoh, dia sang Panembahan Senapati yang moksa. Benar memang, secara fisik progenitor pendiri kerajaan Mataram Baru ini dimakamkan di Kotagede Yogyakarta. Namun sesungguhnya tidak ada yang tahu jika sang panembahan 'mrayang' dan hidup sebagai pertapa di Sukma Menep. Sang Panembahan tentu saja sudah tidak menyentuh keduniawian, sebab ia sudah mencapai tataran nirnafsu, nircinta, nirbenci dalam kasampurnan sejati.

Adapun kakek yang bersila di kanan mulut Goa Nagaraja itu tubuhnya tinggi besar bak Werkudara dalam pewayangan. Wajahnya membayangkan ketenangan. Ini juga bukan orang sembarangan. Dialah Mahapatih Gajahmada dari kerajaan Majapahit, yang juga tidak ada siapa pun mengetahui bahwa patih sakti ini juga moksa, tubuhnya mrayang antara ada dan tiada. Mahapatih Gajahmada menyukai goa pertapan Sukma Menep, maka, ia sering bertandang untuk tapabrata meninggalkan hiruk pikuk dunia.

Kini kedua pertapa sakti itu duduk di kanan kiri goa, gentur bersamadi menghadap timur sehingga wajahnya tertimpa sinar mentari kemerahan. Sejurus kemudian, seorang kakek lain melangkah perlahan keluar goa dengan sikap agung penuh wibawa. Rautnya membayangkan kekuatan batin dahsyat. Jenggotnya putih keperakan, sebagian menutupi dada bagian atas yang tidak seluruhnya tertutup jubah. Dan inilah Kanjeng Sunan Kalijga yang namanya tersohor di seluruh pelosok Nusantara. [] (c)


bersambung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu pagi" pada 3 Mei 2015

0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (17)"