Warna-warni Indonesia - Langit Terbelah - Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Warna-warni Indonesia - Langit Terbelah - Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:49 Rating: 4,5

Warna-warni Indonesia - Langit Terbelah - Rindu

Warna-warni Indonesia 

Semakin tua hidup berbangsa semakin pelik pikir
dan rasa
jauh hati meraih bahagia mahal beriman
sempurna di kalbu
poros hijau muncul kesiangan setelah pesta pora
beli murah suara rakyat
sesudah maling-maling pegang kunci kekuasaan
di negeri yang tak berawak sekuat presiden Amerika
sehebat parlemennya yang gemuruhkan gedungnya
pikirkan rakyatnya
bukan untuk busung sendiri dan anak bini sendiri

Indonesia warna-warni menjadi ratapan
almarhum ibunda dan ayahanda
yang proklamirkan Indonesia dengan Piagam Jakarta
yang mewajibkan setiap
penganut Islam menjalankan Syariat Islam
telah dicopot dan dimitoskan

Para pemimpin yang berdosa
bernoda
gadaikan amanah
Bisakah mitoskan Indonesia warna-warni?


Langit Terbelah 

Dan apabila langit terbelah
bumi merekah memuntah lahar panas emas tembaga
beraduk dalam campuran gelegak sulfur
menghangus binasakan semesta
tanpa sisa
kecuali bangkai kering

Rindu 

Malam
tak ada dering panggil
aku bertanya
ada apa
kau
kasih

Ada mengganggu
hanya listrik yang tak nyalakah?

Ah, pertanyaan pertanyaan
pengantar tidur

pagi terjawab
sayang... bangun sahur
Neva yang cantik

Ku berbinar dengan harapan kembali
besok kau datang
menjenguk
melihat
memandang tak puas senyumku
dan belaimu kutunggu

Harapan
angan angan
berbalut sinar matahari
induk kehidupan
menyapaku
tersenyum
perempuan cantik
pemuja lelaki berwajah teduh
kau kesiangan
embun berkata padaku

Senyum aku, senyum aku
sejak kecil kau belum sempurna mengenaliku
bilas wajahmu

Tadi malam, kau getir bertanya
tentang kekasihmu
eh, suamiku
aku juga bisa latah
aku cemburu pada laki laki yang beruntung itu
dan perempuan jelita yang beruntung sama

Ikat dengan tali kejujuran dan kepekaan rasamu
kan katanya, dia pengandal perasaan
mohon pada pencipta kita
ayo! Jangan sekali aku pernah lupa meminta,
memanjat asa
Tuhan, jangan barang sedepa aku jauh darinya

Dekat, dekatkan
lekat, lekatkan hatiku pada hatinya
menjadi satu, padu
tak ada ruang sisa antaranya

Mentari
kau makin bersinar
garangmu kululuh dengan cinta
yang ada dalam rongga dadaku

Salamku padanya
sampaikan
lewat binarmu
yang memancar jauh
dia di Hamparan Perak
katakan aku rindu
lewat riak air yang kau sinari

Sebelum malam
aku sudah terima kabarnya

Nevatuhella, lahir di Medan, 31 Januari 1961.Menamatkan pendidikan di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik USU, 1988. Aktif menulis cerita, dan bergiat sebagai Ketua Himpunan Sastrawan Kembang Karang, Tanjungbalai.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nevatuhella
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 3 Mei 2015

0 Response to "Warna-warni Indonesia - Langit Terbelah - Rindu "