Satu Hari dalam Hidup Santiago | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Satu Hari dalam Hidup Santiago Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:02 Rating: 4,5

Satu Hari dalam Hidup Santiago

SETIAP etiap hari Santiago berurusan dengan tikus-tikus yang mendiami loteng rumah sewanya. Pagi tadi ia menemukan dalam bak mandinya seekor tikus gemuk mati terapung. Ia meman-dangnya dengan perasaan jijik yangtidak tertahankan.

Kini ia mengamati Rafles dengan perasaan jijik yang sama. Ia sudah bekerja lama di kantor Rafles. Ia gugup. Ia mengira Rafles sudah merencanakan sesuatu yang akan mengejutkannya.

Rafles sedang duduk di kursi, ia sibuk dengan telepon. Pensil dijepitkan di mulutnya. Terkadang ia menaikkan kacamatanya sambil terus menahan gagang telepon dengan memiringkan sedikit kepalanya, menjepitnya di bahu. Rafles si tua bangka lebih banyak menerima telepon dari istrinya. Istrinya  bertanya: sebaiknya masak apa nanti malam? Apakah Rafles suka dengan sayur labu seandainya ia berniat memasak sayur labu? Rafles menjawab dengan suara yang dibuat-buat, tapi ia
tidak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang jengkel.

Santiago menaikkan satu kaki di atas kaki lainnya. Ia tidak tahan berada dalam ruangan itu. Panas dan pengap. Ia dapat mencium bau keringatnya sendiri. Rafles kemudian berkata pada Santiago setelah membanting gagang teleponnya.

‘’Gambarmu buruk, Santiago! Aku bisa mencari ilustrator yang lebih baik daripada kau.’’ 

Rafles menatap Santiago dengan pandang yang menerka-nerka. Santiago tidak menjawab. Ia melipat lengan bajunya sampai siku. Benar-benar panas, ia dapat merasakan keringat men
galir di punggungnya. Ia ingin cepat keluar. Rafles membaca gelagat itu sebagai sikap menantang. Badannya diconodongkan ke depan, matanya dipelototkan.

‘’Mengapa kau menggambar tikus besar untuk cerpen Helena? Kau tahu Helena, bukan? Ia cerpenis terkemuka. Helena menelepon dan mengeluh. Cerpen sebaik itu diilustrasikan dengan gambar tikus gemuk. Kau tahu? Itu sangat tidak lucu.’’ Santiago kering benar kerongkongannya. Ia betul-betul ingin minum. 

Santiago membuka tiga kancing bajunya. Keringat di dadanya kelihatan. Lagi-lagi Rafles menganggap gelagat itu sebagai sikap menantang. Rafles menekannekan sapu tangan di sekeliling lehernya, melap juga tengkuknya. Ia berkata keras,  ‘’Kau kupecat Santiago. Hadiah tahun baru untukmu.’’

Rafles tersenyum mengejek. Telepon berdering. Rafles bergegas menempelkan gagang telepon pada telinganya. Kursinya diputar membelakangi Santiago. Santiago tidak memedulikan itu. Ia benar-benar ingin cepat keluar. Ketika berbalik, ia meraba kantungnya. Tidak ada uang, bahkan selembar pecahan kecil pun. Ia berbalik menghadap Rafles.

‘’Rafles,’’ katanya. 

Rafles memutar kursinya, meletakkan gagang telepon di dadanya. ‘’Ada apa lagi?’’

‘’Aku ingin pinjam uangmu.’’ Rafles mengernyitkan keningnya,

‘’Untuk apa?’’

‘’Beli minum di luar sana. Aku haus sekali.’’

Ketika keluar, ia melewati ruangan kerjanya. Mejanya masih terletak di posisi yang sama. Vas kuning berisi pensil-pensil panjang untuk menggambar dan sampul majalah dewasa yang terlihat dari tempatnya berdiri. Ia berpikir, mengapa mejanya selalu berada di tempat yang sama, tidak ada yang berubah. Tapi besok aku tidak akan melihatnya lagi.

Di jalan menuju rumah sewanya, ia melihat Mulo, tetangganya, sedang berlari-lari kecil di atas trotoar. Mulo mengenakan kemeja panjang, celana panjang dengan pipa yang lebar, mulutnya diselipkan cerutu, mukanya merah sekali karena kelelahan. Lelaki tua itu memang suka berpenampilan aneh.

Santiago ingat tadi malam, ia menemani Mulo menonton sepak bola di rumahnya. Mulo bercerita tentang hobinya menembak burung di kebun dekat lapangan kota, bersebelahan dengan kantor perwira angkatan darat. Bersama Santiago, ia selalu merasa bebas bercerita. Mulo menganggap Santiago sebagai sahabatnya, Santiago tidak merasa itu sesuatu yang salah, tidak sepenuhnya juga benar.

‘’Apakah kau mengenal, Rafles?’’ Mulo bertanya.

‘’Ya. Rafles pimpinanku di tempat kerja.’’ Mulo melangkah ke lacinya, mengeluarkan sesuatu dari kain hitam. Ternyata sebuah pistol.

‘’Aku pernah ingin menembaknya! Ia musuhku sejak dulu. Aku memiliki banyak utang uang yangkupakai untuk minum, aku tidak sanggup membayar. Sebentar. Ini ceritaku ketika muda dulu. Jadi sudah lama benar cerita ini. Begitulah, aku banyak utang. Rafles tua bangka sombong itu mencaci maki pamanku yang bekerja sebagai polisi. Ia mengatakan aku sama sampahnya dengan pamanku. Aku marah benar. Pamanku sudah meninggal. Ia orang baik merawatku sejak kecil karena aku yatim piatu. Aku ingin menembak Rafles! Tak sepatutnya ia mencaci makipamanku yangtelah tenang disurga.’’
Mulo lelah bicara. Rahangnya yang lancip tidak berubah.
‘’Santiago? Apakah aku jahat karena ingin menembaknya?’’
‘’Kukira setiap orang akan marah besar jika keluarganya dihina.’’ Santiagosebenarnya tidak tahu ingin mengatakan apa.
Santiago berjalan terus menuju rumah sewanya. Setiap hari itu saja yang dilakukannya, melewati jalan besar yang sama. Ia bertemu Marie, gadis tetangganya yang suka mengenakan topi pantai.

Marie menyapanya, ‘’Malam nanti pesta tahun baru dirayakan di lapangan depan. Teman-temanku di Galaria akan ikut bergabung. Aku akan memperkenalkanmu dengan mereka, Santiago.’’
Santiago mengangguk. Ia pun sudah berjanji dengan Mulo untuk menemaninya di pesta itu. Marie tersenyum girang.
‘’Kita bisa melihat orang berdansa dari atas tingkat rumah kita,’’ Marie bercerita terus.

Santiago mengangguk lalu menggumam ‘’Ya’’, ‘’Oh’’, ‘’Tentu’’, setiap Marie selesai bercerita.
Marie akan tahan bicara sampai ludahnya habis. Ia menganggap siapa saja yang ada di dekatnya telah siap mendengarkan ceritanya. Ia tidak peduli apakah orang bosan mendengarkan ceritanya, ia memang tidak pernah berpikir seperti itu.
‘’Santiago, apa yang kau harapkan pada tahun baru nanti?’’
‘’Aku hanya berharap sesuatu yang benar-benar baru akan terjadi padaku, Marie.’’
***
TEMPAT pesta itu dekat dengan rumah yang disewa Santiago. Dari tingkat dua rumah sewanya, Santiago bisa leluasa melihat orang-orang di bawah. Kuharap sesuatu yang baru terjadi padaku, pikirnya. Teman-teman Marie mengenakan rok mini. Anak-anak menyalakan kembang api. Jarum jam belum menunjuk angka dua belas, tapi suasana sudah ramai. Mulo menyikut lengan Santiago.
‘’Itu dia, Rafles!’’ tunjuk Mulo tiba-tiba ke arah orang-orang yang sedang berdansa. Rafles datang bersama seorang wanita muda bertubuh ramping. Tentu itu gundiknya, pikir Santiago. Istrinya berbadan sangat tambun. Santiago
mengikuti telunjuk Mulo yang masih menggantung.
‘’Apa yang akan kau lakukan?’’
Mulo terkekeh-kekeh, ‘’Aku akan menembaknya!’’
‘’Kau yakin?’’
Santiago tidak terkejut. Ia melihat lampu sorot dari panggung hiburan di lapangan itu beberapa kali menyoroti tempat mereka berdiri.
‘’Aku sudah tahu, ia pasti datang. Pesta ini dibiayai pemerintah, jadi siapa saja bisa ikut bergabung.’’
Mulo menggerayangi pinggang celananya. Ia merasa lega, pistol itu masih aman di tempatnya. Seseorang berteriak dari bawah, menawarkan Mulo untuk turun dan berdansa. Mulo melambaikan tangan sambil memberi isyarat bahwa nanti ia akan turun. Santiago masih saja terus bergumam, aku harap sesuatu yang baru akan terjadi padaku.

Marie menghampiri mereka berdua, membawakan roti berisi daging. Santiago menggigit sedikit rotinya. Mulo memperhatikan Rafles. Rafles berdiri dekat pancuran air yang dihiasi lampulampu kecil berwarna-warni. Air di pancuran itu mengucur dengan derasnya sampai sebagian kemeja yang dia kenakan basah karena percikan air.
Mulo menarik Santiago agar lebih rapat padanya, menjauh sedikit dari Marie. Marie terlihat asyik bersiul, pandangannya terpusat pada panggung hiburan yang akan menampilkan temannya sebagai penyanyi. Mulo meraba-raba pinggang celananya. Pistol itu berat dan dingin. Jantungnya berdebar.
‘’Santiago, kau akan melihat keahlianku menembak.’’

Mulo mengangkat pistol itu dengan kedua tangannya. Ia membidik Rafles di bawah sana. Mulo memicingkan matanya, menggeser pistol itu hingga moncongnya benar-benar tepat pada kepala Rafles yang bulat dan licin. Ia membayangkan kepala itu akan hancur seperti celengan tanah liat yang dipecahkan dan keping-kepingnya berserakan.  Kembang api menyala lagi.
‘’Mengapa kau tak juga menembak?’’ Santiago melirik sebentar ke arah Mulo, sebentar melihat juga ke arah Rafles. Santiago memperhatikan muka Mulo yang pucat.
‘’Pelatuknya tidak bisa ditekan,’’ sahut Mulo gemetar.
‘’Kau belum menekannya,’’ ujar Santiago. Ia melihat telunjuk Mulo yang sedang bergerak-gerak ragu untuk menekan pelatuk itu. Lampu menyoroti lagi tempat mereka berdiri. Marie yang berdiri bersebelahan dengan Santiago melonjak-lonjak mengikuti lagu yang dibawakan penyanyi. Sama sekali tidak didengarnya percakapan Santiago dan Mulo.
‘’Biar aku yang mencoba.’’ Pistol itu kini berpindah ke Santiago.
Mulo menunggu dengan harap-harap cemas. Sementara, sepasang mata Rafles dari bawah sana diam-diam mengawasi Mulo. Ia masih berdiri dekat pancuran. Sudut matanya waspada. Ia berusaha untuk tidak terlihat sedang melirik ke lantai atas rumah sewa itu.
Dor! Letupan terdengar. Bunyipeluru menembus ketebalan daging. Tubuh yang merasakan peluru itu tumbang menggelepar. Tubuh itu menggeliat kejang serupa seekor ayam yang digorok lehernya, kemudian beku. Orang-orang berlari sambil berteriak-teriak.
Santiago berdiri tak bergerak di tempatnya. Mukanya pucat dan tangannya dingin. Lampu sorot dengan cahayanya yang panjang membungkus dirinya. Butir-butir keringat menumpuk pada alisnya, tanpa dikedipkan butir-butir itu berjatuhan mengalir di pipinya. Ia seperti orang yang kehilangan akal. Polisi-polisi segera meringkusnya.
‘’Aku tidak menembak!’’ kata Santiago.
Pistol itu dilemparkan ke sudut. Polisi-polisi itu menarik tangannya dengan keras hingga tubuhnya seperti terhujam ke belakang. Seseorang berlari menuruni tangga, ‘’Marie kena tembak! Kena tembak!’’ Mulo berteriak-teriak ketakutan.
Sementara itu Rafles bergegas menaiki jipnya. Napasnya memburu ketika sudah duduk di belakang setir. Dalam mobil yang melaju kencang, Rafles menggerutu, ‘’Salah sasaran! Salah sasaran!’’ Pistolnya yang mengilat digosok-gosokkan ke celananya. (62)

Mataram, Desember 2013

Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, menulis cerpen, esai dan puisi. Dia belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iin Farliani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 7 Juni 2015

0 Response to "Satu Hari dalam Hidup Santiago"