Anak Mbarep Kesayangan Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Anak Mbarep Kesayangan Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:36 Rating: 4,5

Anak Mbarep Kesayangan Ibu

SENJA selalu pasti datangnya. Tanpa alpa. Pasti kita menganggapnya seperti sebuah jaminan. Yakin senja hadir tanpa perlu kita berbuat apa. Bahkan kerap lupa tadi ada senja. Lalu akan terpana ketika senja absen satu hari saja. 

Piring-piring berisi lauk sudah pasti tersedia di meja makan. Lengkap dengan nasi. Tak pernah alpa. Seperti senja. Begitu selalu. Setiap hari. Karena itulah Hamdan terkesiap ketika mendapati meja makan kosong, rata, berish. Tanpa ada tanda pernah ada sesuatu di atasnya. Rumah senyap. Bahkan lampu luar yang biasanya sudah menyala selepas pukul enam sore, masih gelap. Ada rasa nyeri menjalar di dadanya.

Aku duduk di sudut ruang, menyaksikannya menahan langkah.

Dengan gontai, Hamdan berjalan melewati meja makan, menuju kamar di seberang ruang makan. Pintu kamar berderit ketika dibuka (rencana meminyaki engsel pintu sudah dari bulan lalu. Lupa selalu). Hamdan berdiri sejenak. Aroma kamar apak meruap. Jendela itu hampir selalu tertutup.
Sari duduk termangu di depan cermin. Rambut sebahunya masih acak. Cat rambut burgudy yang dicobanya tiga bulan lalu, warna sudah memudar. Uban mengintip sayu pada pangkal rambut. Enggan muncul tapi harus. Hari ini adalah hari ulang tahun perkawinannya yang kedelapan belas. Delapan belas tahun sudah ia hidup bersama Hamdan dan seorang anak lelaki tampan berusia tujuh tahun. Pas. Tak kurang tak lebih. Anak lelaki kesayangan yang tak banyak cakap, yang membuat Sari bertahan dalam hubungan perkawinan yang datar, persang, dan panjang.

Ilustrasi karya Aries Tanjung
Firman, anak mbarep kesayangan ibu. Sari selalu memandang Firman dengan penuh cinta tak berujung. Padanya ia menggantungka hidup. Padanya ia yakin bahwa hidup ini masih perlu dijalankan.

“Hey...,” sapa Hamdan. Berat.

Pelan Sari bergumam, “Happy anniversary....”

“Happu anniversary, sayang....”

“Macet?”

“Iya.”

“Mandi dulu.”

“Iya.”

“Aku nggak masak apa-apa.”

“Iya.”

“Aku lapar.”

“Mau makan di luar?”

“Aku capek. Tapi lapar.”

“Kita pesan antar saja.”

“Oke.”

Sari mengembuskan napas panjang. Selalu beginig. Suaminya itu akan selalu memerintahnya menjalankan hasil kesepakatan. “Mengapa bukan ia yang menelepon? Mengapa harus aku? Mengapa?!” ia memesan tiga paket hemat di sebuah restoran cepat saji. Untuknya, Hamdan, dan anak mbarep kesayangan Ibu.

Aku dengar semua pembicaraan mereka. Dua orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing, bicara seperlunya, atas namaku. Oh, semua demi Firman, si anak mbarep kesayangan Ibu. “Hati Firman tidak boleh sakit. Firman harus sehat dan gembira. Tidak boleh ada seorang pun yang berkata buruk tentang Firman. Firman adalah anak baik kesayangan semua orang.” Aku disayang dengan cara sedikit bicara dan kemurungan menghanyut.

Sesuai janji, tak sampai dua puluh menit, makanan cepat saji sudah diantar sampai depan pintu. Pintu kamar tak segera terkuak meski pintu depan diketuk lebih dari lima kali. Aku dengar jelas. Kubiarkan saja hingga dua manusia penggusar itu keluar kamar. Ruang tamu rumah itu terlalu remang.

“Kamu pesan tiga?” Hamdan menatap kantong plastik yang sedang dibongkar Sari, menyajikan isinya di atas piring.

“Iya. Yang satu buat Firman.”

“Oh.”

“Aku nggak masak seharian. Dia pasti lapar.”

“Belum tentu dia lapar,” sergah Hamdan pelan.

“Dia pasti lapar,” jawab Sari ketus. Ia melirik tajam pada Hamdan, lelaki yang dulu sekali pernah dicintainya. Dulu sekali.

“Maaf.”

Sari mengerdikkan bahunya. 

“Firman mau makan di mana?”

“Aku antar saja ke tempat dia biasa duduk.”

“Oke. Aku makan duluan.”

Lagi-lagi sari mengerdikkan bahunya.

Aku menggumamkan ucapan terima kasih demi sopan santun kedia dua potong ayam goreng dan nasi putih panas disajikan di mejaku. Kupandangi kepul asap makanan panas itu. Aku tidak lapar. Dan aku tidak suka ayam goreng. Mengapa aku harus makan makanan yang mereka suka?

Hamdan dan Sari makan alam senyap. Dua puluh tahun lalu, mereka akan saling pandang dengan penuh cinta, menikmati setiap potong  ayam goreng cepat saji yang sama. Setiap suap adalah rasa cinta yang tak pernah tergaggu. Setiap telan adalah harapan indah pada rencana penrikahan yang hendak disegerakan. Dengan irama pengiring tempias hujan yang teratur. Bersama dingin yang mengukuhkan cinta tak terbendung.

“Sari.”

“Tumven kamu panggil namaku.”

“Iya, sayang. Ada yang mau diomongin.”

“Tentang Firman lagi?”

Suasana kembali hening. Sari tak menuntuk Hamdan meneruskan ucapannya. Dam Hamdan terhanyut. Lamun dengan tangan menancap pada nasi yang sudah mulai mendingin dan mengering. Apalagi yang perlu dipertahankan dari perkawinan ini? Sari tenggelam dalam cintanya pada Firman, anak mbarep kesayangan Ibu, lelaki tampan usia tujuh belas. Hamdan yakin, kehadirannya hanya aserupa senja, selalu pasti ada setiap hari tanpa jeda. Seperti ia yakin adanya makanan lengkap di atas meja makan setiap ia pulang bekerja. Tapi mengapa kepastian yang dulu dianggapnya menenangkan, terasa begitu menyiksa? Apakah cinta yang dulu menjadi alasan mereka menikah sudah menguap?

“Kita menunggu apa, sayang?” akhirnya Hamdan bicara. Ia seperti bicara pada nasi kering dan sepotong paha ayam yang baru digigit sekali di hadapannya.

“Mengapa kita menjadi begini keruh.”

“Kamu merasa keruh sekali, ya?”

“Memangnya kamu merasa jernih? Kok bisa?” nada Sari agak meninggi. Dengan gerakan kesal ia bangkit dari kursi, membereskan sisa makanan yang tandas (Sari makan begitu cepat. Mungkin tanpa dikunyah), mencuci tangan, mengambil minuman untuk diirnya sendiri lalu kembali duduk di meja makan.

“Kita tidak lagi bicara seperti dulu, Sayang,” nada Hambdan terdengar putus asa.

“Maksudmu?” jawab Sari ketus.

“Sayang, mau sampai kapan kita tak lagi tertawa seperti dulu? Mau sampai kapan kamu mengurung diri di rumah terus? Mau sampai kapan kamar kita tak kena sinar matahari? Mau sampai kapan kamu menolak jumpa teman-teman kita? Tetangga-tetangga kita? Mau sampai kapan harapan hidupmy hanya bergatung pada.....,” Hamdan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya yang penuh tekanan kepedihan. Suaranya tercekat. Seharusnya ia menangis. Tapi tak bisa.

Tidak akan bisa. Selama aku masih ada.

“Kamu kejam. Kamu keterlaluan! Kamu tega!” Sari menangis meraung. Rasa sakit dan sesak yang disimpannya selama ini menguar tumpah berantakan. Ia merapat bajir airmata. Sekujur tubuhnya gemetar, kedua kakinya naik ke atas kursi meringkuk rapat.

“Maaf,” panik Hamdan beranjak mendekat hendak memeluk. Tap terlambat, “Jangan sentuh aku!” pekiknya dengan mata nyalang. Ya, karena aku lebih dulu memeluknya erat hingga tenang.

Hamdan mundur. Sayup, didengarnya suara takbir. Tubuhnya gemetar. Dipandangnya Sari dengan perasaan berantakan.

Sari adalah pujaan hatinya sejak kuliah. Selalu berwajah cerah dengan tawa yang renyah. Berada di dekatnya membuat Hamdan selalu gembira. Semua masalah bisa dibuat mudah, bahkan sepele oleh Sari. Baginya, “Selama kita masih bisa tertawa, maka masalah itu tidak ada, Dung.” Sari memanggilnya Dudung tanpa asalan. “Kamu ludu dipnanggil Dudung karena buah pikiranmu selalu menggema kemana-mana seperti tabuh. Bunyinya dung dung dung. Jadi kupanggil Dudung, ya,” jelasnya ringan tanpa meminta persetujuan. Hamdan selalu seakat dengan (nyaris) apapun pendapat Sari. Hampir semuanya lucu dan riang. Semua terasa indah. Seindah gagasan mengajak Sari menikah setelah tiga tahun mereka pacaran.

Pacaran? Hubungan Sari dengan Hamdan seperti dua sahabat yang kemana-mana selalu bersama belasan kawan lain. Benar mereka tak pernah terpisahkan. Juga tak terpisahkan dengan rombongan teman yang begitu banyak. Dua manusia ini disayang banyak orang karena begitu sempurna. Sari yang cerdas dan penggembira, Hamdan yang tenang dan selalu menemukan gagasan yang dapat menabuh tawa Sari. Begitu Sari tertawa, maka geloranya akan menular dan membangunkan tawa bersama.

Pernikahan mereka disambut suka-cita semua kawan. Tiga bulan kemudian, Sari hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki tampan, persis pada tanggal ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Anak laki-laki itu diberi nama Firman. Anak tampan yang selalu dipanggil Sari ‘anak mbarep kesayangan ibu’.

Orbit hidup Sari berubah seketika. Hamdan hanya menjad pelengkap, Firmanlah segalanya. Dan itu hanya berlangsung satu bulan. Ketika demam tinggi merenggut Firman dari sisinya. Baby blues syndrome belum tamat dijalani, Sari sudah menghadapi badai emosi tak tertahankan.

Firman, anak mbarep kesayangan  Ibu sdudah tak ada lagi. Lenyap.

Tidak. Aku selalu ada untuk Ibu. Ulang tahunku dirayakan setipa tahun. Aku tidak pernah bisa pergi hingga Ibu bilang sudah.

“Sayang, aku tidak pernah sempurna untukmu. Tapi aku tahu, hidup kita berdua akan baik-baik saja jika kamu megikhlaskan Firman pergi,” Hamdan berlutut di hadapan Sari yang masih meringkuk di kursi. Perlahan tangannya menyentuh jemari tangan Sari. Jalar hangat yang menenangkan mengusik indera masa lalu Sari. Ia ingat rasa hangat itu.

“Biarkan Firman selalu ada seperti senja,” isak Sari.

“Dan seperti senja, biarkan Firman hadir dan tiada tanpa kita perlu mengusiknya.”

Sekarang saatnya bagiku untuk pulang. Setelah tujuh belas tahun ku dipaksa hidup di sudut ruang tamu, disajikan makan setiap hari. Dipanggil dan ditangisi tanpa jeda. Bu, aku anak mbarep kesayanganmu pamit berangkat. Bersama takbir dan terbit matahari.(*)


Catatan:
Mbarep: sulung

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Teguh Afandi yang telah berkenan mengirimkan karya ini kepada klipingsastra. Salam

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Candra Widanarko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 13 - 19 Juli 2015

0 Response to "Anak Mbarep Kesayangan Ibu"