Halte - Menunggu - Perang - Dunia Lain | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Halte - Menunggu - Perang - Dunia Lain Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:13 Rating: 4,5

Halte - Menunggu - Perang - Dunia Lain

Halte

Kita berdiri di sini
Seperti yang lainnya

Menanti kata tiba
Menjemput & membawakan

Kisah-kisah baru

Tapi tak yakin
Seperti juga yang lainnya

Bisa sampaikan kata
Pada tema baru

Atau alamat singgah lain
Yang melambai

Di antara remang baris
Pada kelok waktu

Yang menunggu kita
Menghadang lembut
Di antara gigil sakit

Pada ujung bait

2014

Menunggu

Kematian menciptakan kerepotan
Mendadak di rumah kontrakan
Kami yang kecil

Kursi-kursi plastik diajarkan
Di teras yang sempit itu
Panmganan seadanya
Dipesan tergesa dari warung
Di dekat-dekat situ juga
Ada juga yang memasang tenda
Menggantung neon pucat
Pada kusam sepasang pojoknya

Di antara raut tetangga
Yang berpura duka
Nyata masih ada menyembul
Salam tulus mengelus
Berhembus di dada nnembus
Sampai jauh malam
Mereka terus mengiobrol
Berkerumun di kolong tenda itu
Sabar menantikan

Tiba jenazah saya
Besok dikuburkan
2013

Perang

Setiap hari adalah peperangan 
Kita di medan tak bernama ini
Menembakkan peluru-peluru sunyi
Kepada lawan tiada dikenal
Wajah dan warna seragamnya

Tapi mereka ada di mana-mana
Memberondong kita tak hentinya
Dengan ketakutan, mungkin kematian
Di ujung setiap sekon mendarat
Musuh-musuh baru dengan paras pasi

Mereka bahkan muncul menembus
Tercurah tiada habisnya macam badai
Aneh, mereka seperti kita juga
Mengenakan rompi kelam kecemasan
Menghamburkan peluru-peluru hampa

Ke alamat langit yang nganga bisu sejauh ini
Dan nun di sana yang entah di mana
Seorang dengan misai dan jubah kumal
Mendaraskan mungkin bukan apa-apa
Mungkin kekosongan tak bernama lain lagi

Begitulah, setiap hari adalah peperangan
Kematian pun datang seperti warta berita
Datar hambar dan sebaris hanya
Jika seorang mendadak pergi
Yang lainnya mengangguk tanda tak paham

Lalu kita kembali menyuruk
Di medan ganas tak berberita ini
Menembak dengan lebih ceroboh
Musuh yang mungkin diri kita sendiri
Menghadang dengan seringai beku
2014

Dunia Lain

Aku berada di sebuah ruang tua
Yang dulunya digunakan sebagai gudang pabrik
Sepertinya pabrik kata-kata, atau smacam itu
Entahlah, kusam temboknya membatasi pandangku
Kemudian lampu-lampu dipadamkan semua
Aku ditinggalkan sendirian bersama sebuah kamus
Usang, yang huruf-hurufnya tak bis adikenali lagi
Tapi masih terasa ada yang berdenyut lembut
Saat kusentuhkan ujung jejariku pada dedaun pintu
Yang menurut kisah lama sudah tak pernah dibuka lagi

Aku mengisi waktu dengan berjalan lambat-lambat
Mnegitari ruangan muram itu, mencari-cari alasan
Mengapa gerangan tak kusudahi saja permainan ganjil ini
Melambaikan tangan, meminta lampu-lampu dinyalakan
Malahan aku simpuh sepenuh, merabai kelam halaman kamus itu
Nah, mulai kudengar bunyi lelangkah sayup mendatang
Menurut kisahnya, di ruang ini kerap berlangsung penampakan
Terlebih jika malam mengandung purnama, di antara senyap bahasa
Bisa kau dengar lagi iotu suara tangisan mengisak
Seorang perempuan yang mengaku dari tarikh pertama
Pun seorang lelaki meraung hampa
Dari balik pintu yang selamanya tak bisa dibuka itu
Aneh, semakin kusimak semakin kukenali parau suaranya
Di antara gedoran tiada hentinya, semua jadi tak asing
Menggigil depan pintu mulai memanggili sesiapa di dalam sana
Aku telah diingatkan sebelumnya agar senantiasa waspada
Tak gampang terharu oleh sembarang rupa, pun suara

Terlambat, ini kamar tua betapa jahanam
Segera terhisap aku, musim mengunci di belakangku
Aku dalam sebuah tatanan vakum, barangkali sebuah pabrik
Yang sudah lama bangkrut, sebuah dunia yang beda
Mataharinya mungkin muncul dari utara yang musykil
Atau selatan penuh kabut, pada kali yang lain di kebunnya basah
Pohonan berpindah begitu saja, berpindah membawa segenap bebanmu
Membawanya menembus gaya berat, menabraki pepintu tatabahasa
Kusingkapkan cadar cuacanya, terus kugedor bisu langitnya
Berharap seseorang, atau kau sendiri, mendengar segala kesahku
Kuangkat tanganku, kuingin kini lampu-lampu itu menyala kembali:
Lekaslah aku kau tangkap selagi terperangkap begini!
2014

Ook Nugroho lahir di Jakarta 7 April 1960. Buku puisinya yang terakhir, Tanda-Tanda yang Bimbang (2013)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ook Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 26 Juli 2015




0 Response to "Halte - Menunggu - Perang - Dunia Lain"