Kesepakatan Gila | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Kesepakatan Gila Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:38 Rating: 4,5

Kesepakatan Gila


Senja itu, Kundana berdiri terpaku di pinggir dermaga Pelabuhan Badas. Berkali-kali dia menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Teluk Sumbawa menghampar. Matanya menerawang jauh menembus batas cakrawala. Sementara terlihat sebuah kapal barang menjauh dari dermaga.

Kundana masih terdiam sendiri di pinggir dermaga. Sesekali mulutnya menggerutu. Dia masih kecewa atas peristiwa yang dialaminya tadi siang.

“Mulai detik ini kau tak usah ikut kerja di kapalku lagi,” ucap Konjat, seorang juragan jasa kapal bongkar muat barang.

 “Mengapa, Juragan?” tanya Kundana.

 “Harusnya kau sudah tahu alasanku.”

 “Tentang Amori?”

 “Ya. Sudah berkali-kali kuperingatkan tapi kau tak pernah menurutinya.”

“Kami saling mencintai, Juragan.”

“Amori sudah aku jodohkan dengan orang lain.”

“Dengan Darios? Tapi Amori tidak mencintainya, Juragan.”

“Amori harus mencintai Darios!”

“Apa karena dia anak dari Juragan kapal juga?”

“Itu kau tahu. Sedangkan kau itu miskin. Kere! Hanya buruh di kapal."

“Bukannya yang kaya itu Brokot, orang tuanya?”

“Darios itu anak tunggal Brokot. Mau kemana lagi kekayaannya kalau bukan ke dia?”

“Kekayaan itu hanya titipan, Juragan.”

 “Cerewet Kau! Sekali tidak ya tidak!”

 “Tapi Juragan tidak bisa seenaknya memecatku.”

“Itu hakku mau mecat kamu atau tidak.”

“Juragan tidak tahu diri!”

“Bangsat! Kau itu yang tak tahu diri!”

Suasana hening dan sunyi tiba-tiba hadir diantara mereka.

Apa Juragan lupa pertolonganku saat pertama kali mau membuka usaha ini?” kata Kundana dengan suara rendah memecah kesunyian. Lalu Kundana mengungkit peristiwa yang telah lama berlalu. Bagaimana Juragan Konjat dulu selalu disalahi oleh anak buah Brokot. Waktu itu Juragan Konjat minta tolong pada Kundana untuk menyelesaikannya. Bahkan waktu itu Juragan Konjat berjanji akan mengangkat Kundana jadi mandor di kapalnya jika dia berhasil membereskan masalah itu. Dan ketika Kundana bisa mengajak Brokot berunding baik-baik, janji Juragan Konjat tak ditepatinya. Justru sekarang, Juragan Konjat memecatnya dengan tidak hormat.

“Juragan tidak tahu berterima kasih,” sambung Kundana.

“Lalu kau mau apa?”

“Mungkin memang benar aku kere, tapi aku masih punya harga diri. Juragan sendirilah yang tak punya harga diri. Tak bermartabat. Orang tak bermartabat harusnya masuk ke keranjang sampah.”

“Pergi kau!”

“Juragan tidak perlu mengusirku. Aku juga sudah tidak tahan di sini.”

“Anjing kau! Enyah dari sini.”

“Aku memang akan pergi, tapi ingatlah, Juragan telah menanam benih permusuhan. Kelak Juragan akan menuai balasannya.”

Kini Kundana tak tahu harus berbuat apa. Dia sangat terpukul. Ini bukan hanya masalah cintanya pada Amori tapi sudah merembet ke masalah harga diri. Dia merasa Juragan Kojat telah menginjak-injak harga dirinya.

Kundana duduk di tanggul dermaga, bersandar pada salah satu tembok pembatas. Sejenak dia menyalakan rokok, dihisapnya rokok itu dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan-lahan.

“Kanda akan pergi?” tanya Amori yang kehadirannya tidak Kundana sadari.

“Dinda Amori,” kata Kundana kaget. “Maksud Dinda Amori apa?” tanya Kundana kemudian.

“Kanda akan meninggalkan Dinda?”

“Bapak Dinda bilang, Dinda akan menikah dengan Darios.”
        
“Dinda tidak mau. Lebih baik Dinda mati jika berpisah dengan Kanda.”

 “Bahkan bapak Dinda telah memecat Kanda.”

“Dinda tidak peduli. Pokoknya Dinda ingin bersama Kanda. Dinda ingin ikut kemana pun Kanda pergi.”

“Bagaimana caranya, Dinda?”

“Bawa Dinda lari, Kanda.”

“Dinda tahu sendiri, anak buah bapak Dinda begitu banyak. Mereka pasti menemukan kita.”

“Bagaimana caranya terserah Kanda, pokoknya Dinda tidak mau dengan Darios.”

“Kanda juga tidak rela Dinda dengan Darios.”

“Maka dari itu pikirkanlah caranya Kanda. Dinda yakin, Kanda akan menemukan.”

Hening tiba-tiba menyergap mereka berdua.

“Kanda ada ide Dinda, tapi Kanda tidak yakin apakah Dinda akan setuju. Karena ide ini sangat berat dijalankan. Tapi jika Dinda mau, bukan saja bisa menggagalkan pernikahan Dinda dengan Darios, tapi juga bisa mewujudkan impian kita. Kita akan menikah.”

“Apa idenya, Kanda?

“Dinda yakin ingin tahu?”

Amori mengangguk mesra.

“Pura-puralah gila. Kanda yakin, Brokot dan Darios akan membatalkan rencana  itu.”

“Mana bisa aku pura-pura gila, Kanda? Semua orang pasti akan tahu kalau aku hanya pura-pura.”

“Ada satu cara yang pasti membuat mereka percaya.”

“Apa itu, Kanda?”

“Berjalanlah mengelilingi desa kita dengan telanjang bulat.”

“Apa Kanda?! Telanjang?”

“Tadi sudah Kanda bilang, ide ini sangat berat. Tapi hanya itulah satu-satunya jalan agar kita tetap bersatu.”

“Apa Kanda yakin?”

“Sangat yakin. Begitu keluarga Brokot tahu, mereka akan membatalkan rencana itu. Setelah itu hanya akulah yang nanti akan bersedia merawatmu. Meski dengan pengertian kamu gila pun, aku tetap akan menikahimu.”

“Kanda sungguh-sungguh?”

“Kanda sangat mencintai Dinda. Kanda tak ingin berpisah dengan Dinda.”

 “Jika Kanda sungguh-sungguh, Dinda akan melakukannya. Ini demi cinta kita, Kanda.”

“Terima kasih Dinda. Ya, ini demi cinta kita. Ini rahasia kita berdua.”

 Senja di dermaga telah jadi saksi atas kesepakatan gila itu.

***
Pada hari yang telah ditentukan, Amori benar-benar menjalankan rencana itu. Berjalan mengelilingi desa dengan telanjang bulat. Warga desa yang melihat kejadian itu geger. Kabar Amori gila telah beredar kemana-mana, termasuk ke telinga juragan Brokot dan Darios. Kundana benar, setelah mereka mendengar berita itu, pihak keluarga Brokot membatalkan rencana pernikahan Amori dan Darios.

Tak lama kemudian juragan Konjat memanggil orang pintar untuk mengobati Amori. Setelah acara ritual penyembuhan selesai diadakan, orang pintar itu mengaku menyerah, tak mampu menyembuhkannya. Dan dia juga bilang bahwa satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan Amori adalah orang yang namanya sering dipanggil-panggil dalam kegilaannya, yaitu Kundana. Seusai juragan Konjat mendengar pernyataan orang pintar itu, dia langsung menyuruh anak buahnya mencari Kundana. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka segera menemukannya dan kini Kundana sudah dihadapkan kepada juragan Konjat.

“Hai Kundana, aku tahu, kau biang keladi dari semua ini. Aku tahu kau telah mengguna-gunai Amori hingga dia gila. Kau ingin membatalkan rencana pernikahan Amori dengan Darios. Kau dendam atas apa yang kuperbuat padamu. Baiklah, kini rasakan pembalasanku. Pedangku ini membereskan semuanya,” kata-kata juragan Konjat penuh amarah. Tak ada yang sempat melerai peristiwa itu, hingga darah benar-benar tumpah di bumi Badas.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Solopos" Minggu 26 Juli 2015

0 Response to "Kesepakatan Gila"