Kisah Khisah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Khisah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:52 Rating: 4,5

Kisah Khisah

SAAT kawan-kawannya berhamburan di kantin belakang sekolah wkatu istirahat, Khisah sedang sibuk menulis. Menulis kehidupan sendiri yang ia kira menginspirasi orang lain. Siang itu tidak sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa masa remajanya akan berakhir. Satu kertas dua kertas terlampaui. Saat guru datang, ia masukkan kertas itu ke dalam tas. Ia simpan rapat-rapat. Lalu pandnagannya lurus ke arah guru, meski pikirannya tidak lurus pada pelajaran. Melenceng jauh pada karangan.

Biasanya, ketika guru yang mengajar tidak ia sukai. Membosankan, istilah tepatnya. Ia beralih tempat paling belakang. Lalu diam-diam mengeluarkan kertas berisi karangan yang belum selesai itu. Mencari waktu yang  tepat. Yaitu ketika guru menulis di papan tulis atau ketika murid disuruh membaca. Tidak pada saat menerangkan. Karena ia takut seperti minggu kemarin. Kertas disita lantas tidak diberikan kembali. Lalu pada saat pulang sekolah, Khisah tak langsung ganti baju. Melainkan kembali menulis. Ibunya sering marah-marah apabila melihatnya seperti itu. Apalagi yang ditulis bukanlah pelajaran yang diajarkan di sekolahan. Ibunya tak pernah menginginkan ia menjadi penulis.

Kalau sudah begitu, Khisah akan lupa waktu belajar. Bahkan tak pernah belajar sama sekali. Dan hal yang mengherankan bagiku, ia tak pernah merasa bosan atau sekadar capek hanya karena menulis. Aku ras akehidupannya beralih ke fiksi. Yang nyata ia tinggalkan begitu saja.

***
AKHIRNYA ia berhenti menulis ketika sebuah penyakit emmatikan menyerangnya. Penyakit kanker lunak itu menyerang wajahnya. Kata dokter kehidupannya tinggal satu bulan. Membuatku etrkejut. Apalagi ibunya yang pernah emngandungny. Ia tak diperkenankan lagi masuk sekolah. Toh, ia pun tak mau lagi sekolah.

Dan perkiraanku dulu ternyata salah total. Ia kembali menulis bahkan dengan semangat. Meski tangannya sering bergetar. Apalagi ibunya tak lagi marah-marah. Toh, ia sudah diperkirakan emninggal dunia awal bulan Desember. Apa yang perlu dimarahi? Masa depannya saja tak akan mungkin ia raih. Tak mungkin 

Ibunya terus-menerus bersedih. Tak ada harapan lagi dalam dirinya. Dulu ia mengharapkan Khisah menjadi penerus usaha suaminya. Tapi kini, hilang sudah harapan itu ketika semakin hari penyakit Khisah semakin parah.

Aku semakin keheranan melihat semangatnya tak habis-habis untuk menulis. Saat berkunjung di rumahnya, aku rasa dunia ini menjadi fiksi. Kupandangi ia yang sibuk menarikan penanya. Tiba-tibamataku berkaca-kaca saat melihat temanku yang satu ini wajahnya berubah kemerahan seperti monster. Dan kubayangkan sebentar lagi akan pergi untuk selamanya.

"Kenapa kau menangis?" tanyanya menyadarkan lamunanku.

"Oh... Aku tahu. Kau pasti merisaukanku. Sudahlah, Ini emmang takdir yang digariskan Tuhan untukku." Ia menjawab sendiri pertanyaannya. Aku emngangguk. Dadaku sesak sekali.

Dan ekmbali kami diam.

Sekitar tiga puluh menit aku memandanginya sedang menulis. Kulihat tak ada tanda-tanda mau berhenti. Akhirnya, seperti terpaksa,uneg-uneg kukeluarkan semua. 

"Apa kamu nggak capek menulis terus?" kataku sambil memegang tangannya, aku berharap ia istirahat.

"Enggak kok. Menulis itu menyenangkan. Seperti emmbuat dunia sendiri." Ia memandangku dengan pandangan yang belum pernah aku tahu sebelumnya. Pandangan yang teduh, seakan-akan akulah satu-satunya sahabat sejatinya.

"Lalu, apa kamu nggak kasihan sama penyakitmu?" tanyaku kini mulai ragu-ragu.

"Penyakit biarlah urusan sakit. Yang penting aku tetap berkarya. Sebagaimanapun keadaan kita. Sebenarnya kita dituntut agar selalu berani berkarya." Lama-lama, dari raut mukanya, kulihat semangat yang tak memudar sama sekali. Kau tidak mengerti maksudku, Kawan. Kira-kira begitu maksudnya, mungkin.

Aku diam sejenak. Anak ini kelihatannya tak akan mungkin berhenti menulis. Aku mulai berpikir, "Bas, coba bayangkan. Jika karyamu nanti jadi, kemudian diterbitkan. Kau tak bisa menikmati ketenaran itu. Tak bisa memakan royalti, honor, dan sebagainya."

Kali ini ia memandangku. Tatapannya serius. Mungkin ada yang kurang enak didengar dari omonganku. Dalam hati aku mengutuki diri-sendiri. AKu emnoleh, membelakangi wajahnya yang kian menyedihkan.

"Berkarya tujuan utamanya bukanlah uang, kawan. Apalagi ketenaran. Tujuan karya agar emncapai keabadian. Jadi, emskipun nanti aku mati, mudah-mudahan karyaku tidak mengikuti."

Aku emmilih mengangguk. Kurasa perdebatan ini selesai ketika dia pusing kepala serta darah mengucur dari hidungnya.


***
NOVEMBER sudah pergi tertatih-tatih bersama angin. Desember menyambutku dengan murung. Kejadian yang diramalkan memang benar terjadi. Khisah mati.

Setahun kemudian, karyanya yang berbentuk novel itu menjadi kontroversi. Buku yang berjudul Mencapai Keabadian itu menjadi rebutan penerbit, Ratusan ribu buku terjual habis. Bahkan ada yang  membuatnya menjadi film.

Sungguh, aku terkagum dengan semua itu. Karyanya benar-benar hidup meski dia telah mati. Aku tak tahu dia sekarang sedang apa di sana. Apakah tersenyum melihat karyanya abadi? Entah... []

Ach Mobarok, anggota Ikatan MAhasiswa Bata-Bata Sampang, tinggal di Gowok Sleman.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ach Mobarok
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Juli 2015

0 Response to "Kisah Khisah"