Nyai Anglir Mendhung (Kisah Sungkemnya Para Maru) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nyai Anglir Mendhung (Kisah Sungkemnya Para Maru) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:10 Rating: 4,5

Nyai Anglir Mendhung (Kisah Sungkemnya Para Maru)

SETIAP kali menjelang Bakda Sawal, Nyai Anglir Mendhung senantiasa diliputi perasaan gerah. Sumpeg. Hampir selalu tak kuasa menahan diri buat meledakkan suara batinnya. Tetapi, kehormatan dan harga diri selalu membikin kendali terlalu kuat buat memberontak. "Selalu saja tenggelam oleh kesantunan semu, bermanis dalam ingkar hati, ambang senyum dari balik gerutu," bisik Nyai Anglir Mendhung kepada sudut hatinya sendiri.

Ia sumpeg oleh kehadiran para maru. Mereka masuk cepuri, kedhaton, dan keputren sebelum Lebaran tiba. Mereka akan tinggal penginap sampai datangnya Lebaran dan hari sungkeman. Mereka, menunggu biat mencium telapak kaki suami mereka, Kanjeng Adipati Rangsangsmaradhewa. Begitulah tradisi hari Lebaran bagi para istri Kanjeng Adipati. Kumpul, sungkem, dan selama bulan Sawal tinggal di Kadipaten. Mereka akan secara bergantian menghabiskan malam bersama Kanjeng Adipati. Dan, Nyai Anglir Mendhung sepanjang bulan Sawal akan merasa kesepian, merasa menjadi perempuan yang dilupakan. Ia akan menyaksikan hari-hari keriangan yang meluap dari para maru begitu selesai bertugas di ruang dalam istana.

Tak kurang enam belas maru sowan menghadap. Nyai Anglir Mendhung perempuan ke tujuh belas. Namun, dari segi urutan perjodohan, ia perempuan ke tujuh yang dikawin Kanjeng Adipati. Perempuan sebelumnya, dan perempuan sesudahnya, memang menghormati kedudukan Nyai Anglir Mendhung sebagai garwa apdmi. Lima di antara mereka berusia lebih tua darinya. Tetapi sebelas lainnya lebih muda, lebih sumringah, bahkan ada yang berusia 16 tahun. Tidak semuanya beranak. Nyai Anglir Mendhung sendiri berputra satu, Raden Mas Prawirengsmaradhewa (Raden Wireng), seorang laki-laki dewasa yang kelak bakal mengganti kedudukan ramandanya menjadi Adipati Panggupita.

Sebelum Lebaran tiba, Nyai Anglir Mendhung lebih banyak berdiam diri di rumah kediaman prameswari. Untuk mengisi waktu, ia meramu beberapa jejamuan. Kadang mewiru kain jarit, melipatnya baik-baik, dan menyimpannya di almari bersama akar lara setu dan daun dilem kering. Setiap pagi, ia selalu membatik sembari rengeng-rengeng menembangkan lirik-lirik dari Serat Darmawirayat atau dari Serat Panji. Tembang-tembang nasihat hidup luhur dari kasunyatan hidup sehari-hari.

Nyai Anglir Mendhung tidak mengenal dengan baik para marunya. Bahkan beberapa di antaranya belum pernah bertemu muka dan bercakap. Kecuali, Retnopeni, istri termuda usia. Perempuan ini sejak kecil diasuh oleh Nyai Anglir Mendhung sebagai putri titipan dari almarhum pamandanya. Setiap hari, Retnopeni selalu berada di dekat Nyai Anglir Mendhung. Termasuk. rajin belajar membatik. Setelah lepas akhil balik, Retnopeni diperistri Kanjeng Adipati dengan beberapa tahun sebelumnya menyandang status puteri sengkeran. Nyai Anglir Mendhung tahu persis, meski telah diperistri namun sejauh ini Retnopeni belum disentuh oleh Kanjeng Adipati. Tidak tahu kenapa.

"Kangmbok. Apa aku besok harus ikut sungkeman?" tanya Retnopeni suatu kali sembari terus emnggoreskan malam dari canting di tangannya ke bidang kain lebar. "Aku takut."

"Ya. Aku mengerti perasaanmu. Tapi harus ikut. Itu sudah ketentuan."

"Istri Kanjeng Adipati banyak, Kangmbok."

"Ya, tujuhbelas, termasuk kamu."

"Untuk apa istri sebanyak itu?"

Nyai Anglir Mendhung tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan-pelan dan berkata, "Aku sendiri  belum pernah bertanya. Akan sampai waktunya nanti, kamu bisa bertanya langsung."

"Tidak berani."

"Ya. Tidak usah tanya. Lakoni saja."

"Kok begitu?"

Nyai Anglir Mendhung tersenyum tipis. Tidak menjawab dan asyik meneruskan membuat klowong pada relung ornamen batiknya. Retnopeni sedikit bersungut-sungut. Lalu bertanya lirih, "Kangmbok, apa suatu saat nanti Kanjeng Adipati akan emngajakku tidur bersama?"

Nyai Anglir Mendhung menghentikan gerak tangannya. Menoleh dan memandang sayu ke arah Retnopeni. Sleuruh kulit wajahnya seakan bergetar, degup dadanya terasa, begitu melihat wajah pias, dingin dan pucat tersembul dari diri Retnopeni. "Ya. Tentu saja. Itu risiko perkawinan Retnopeni."

"Lalu aku diapakan?"

Terbayang dalam diri Nyai Anglir Mendhung akan betapa ringkihnya anak gadis ini di tangan suaminya yang perkasa dan cenderung kasar. Nyai tidak mampu memberi jawaban ringkas kepada anak gadis yang diasuhnya sejak usia tujuh tahun karena ayah ibunya wafat.    Lalu, Nyai menjawab sekenanya, "Ya, makanya ikut sungkeman dan tanyakan langsung kepada beliau."

Lebaran tiba. Proses sungkeman pun segera dimulai. Para istri, maru-maru Nyai Anglir Mendhung, sudah berdandan rapih, berias cantik, bersih harum mewangi. Mereka telah duduk bersila di Pendapa Kadipaten, antre masuk Dalem Ageng. Pagi ini khusus sungkeman para maru dan tertutup bagi para putra, sentana, dan kawula. Nyai Anglir Mendhung datang belakangan diiring Retnopeni. Para maru memberi sembah hormat dan menyilakan Nyai duduk di posisi terdekat. Retnopeni tahu diri, duduk di urutan paling belakang.

Nyai sudah membayangkan . Kanjeng Adipati duduk di kursi tahta. Mengenakan pakaian kebesaran Kadipaten. Kanjeng akan duduk di tengah di antara tian Pasren, Ruang Dalem Ageng kosong dan senyap dalam temaram cahaya. Asap dan bau dupa ratus mengebak ruang. Lalu, para istri akan satu persatu laku dhodhok, setengah merangkak mendatangi kaki Kanjeng Adipati. Mereka akan mencium jempol kaki Adipati, bahkan ada yang mengecupnya kuat-kuat. Setelah semua istri datang bersungkem mereka akan duduk taksim bersila berjajar rapat persis di depan tahta Kadipaten.  Sungkeman diisi sabdatama beliau dan diakhiri dengan pembagian jadwal tugas para istri menginap di ruang istana dalam, kamar tempat Kanjeng Adipati bersemayam.

Tatkala Nyai sedang membayangkan proses sungkeman sebelum-sebelumnya, terdengar dari ruang dalam suara perintah Kangjeng Adipati. "Ingsung sudah membolehkan, kaliyan semua urut masuk satu-persatu. Dimulai dari Nyai Ratu Adipati."

Nyai Anglir Mendung segera beranjak masuk. Namun, di ruang Dalem Ageng itu tak terlihat Kanjeng Adipati duduk di kursi tahta seperti biasanya. Kangjeng justeru duduk di lantai menghadap ke arah kursi tahta. Nyai tentu saja kaget dan bertanya-tanya. Namun ia terus laku dhodhok menuju depan kursi tahta. Tidak berani bertanya. Ketika hampir mencapai kursi tahta, Kanjeng Adipati berkata. "Nyai, sudah waktunya dirimu duduk di kursi tahta. Biarkan npara marumu sungkem ke haribaanmu. Ayolah, tidak usah ragu. Berdiri dan duduki kursi tahta itu."

Nyai ikuti perintah kanjeng. Saat pantatnya mendarat di alas kursi yang empuk, seluruh badannya seperti kena aliran sejuk segar. Merabat ulat darah dan mengalir ke seluruh tubuh. Maru berikutnya sudah pula memasuki ruang Dalem Ageng. "Teruslah. Kali ini kalian harus sungkem kepada Nyai Ratu Adipati, bukan sungkem kepadaku. Hayo, sungkemlah kepadanya."

Meski diliputi beragam pertanyaan, mereka tidak berani menolak perintah Kanjeng Adipati. Runduk, tunduk, dan sungkem khidmat. Ketika giliran Retnopeni hampir tiba, Kanjeng Adipati berucap, "Retnopeni ingsun minta tinggal di istana dalam. Nyai agar sedia menemani Retnopeni sampai akhir bulan sawal. Istri-istriku yang lain aku minta ambil hak-haknya di Kawedanan Kertaaji untuk mendapatkan santunan yang layak dari Putra Mahkota. Bulan Sawal kali ini tidak ada jadwal pengantin menginap  di Kadipaten. Perintah ini harus dilaksanakan."

Wajah Retnopeni diliputi merah padam ketidakmengertian. Wajah-wajah para istri juga diliputi perasaan cemas dan hilang kegembiraan. Bersungut-sungut. Ada pula gemuruh dalamdada Nyai Anglir Mendhung. Ruang Dalem Ageng senyap dan lengang. Namun segera pecah oleh suara lugu Retnopeni, "...Kangjeng, saya ini mau diapakan?" (k)

Wonosari, Juli 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purwadmadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Juli 2015


0 Response to "Nyai Anglir Mendhung (Kisah Sungkemnya Para Maru)"