Pesan dari Tiang Gantungan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pesan dari Tiang Gantungan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:25 Rating: 4,5

Pesan dari Tiang Gantungan

"Apa yang akan kamu lakukan jika diksi-diksi menjauhi puisimu? Engkau tahu, puisimu sedang sekarat, dan dahaga telah lama dideritanya. Ia hanya butuh setetes air untuk memulihkan kondisinya yang hampir menyentuh senja."

BEGITU kira-kira pesan terakhir ibu, yang ditulis pada sebuah kertas yang dibacakan pamanku. Aku tidak tahu apa makna dan maksud pesan itu. Aku hanyalah anak kecil berumur 13 tahun yang tak mengerti bahasa orang dewasa.

Tiba-tiba kepalaku pusing memikirkan arti dan makna surat itu. Dan yang membuat kepalaku makin pusing, kenapa nenek dan keluargaku yang lain tak kuasa menahan airmata ketika pamanku selesai membacanya. Juga, kenapa para tetangga dan keluargaku yang lain, yang tinggal di desa sebelah berdatangan ke rumahku, berkerumun dan mengaji. Aku makin bingung, tak mengerti maksud semua itu.

"Ada apa dengan Ibu, Nek?" tanyaku lirih. "Kenapa mereka semua bertanya tentang kabar ibu?"

"Tidak ada apa-apa dengan ibumu, Nduk. Dia baik-baik saja. Tadi dia nelpon, katanya, habis Lebaran dia akan pulang. Bersiaplah menanti boneka dan mainan lainnya pesananmu itu," kata nenek tersenyum.

Mendengar kata boneka, tiba-tiba hatiku begitu sumringah. Aku memang sudah lama memimpikan memiliki boneka baru. Namun, sebenarnya dalam lubuk hatiku yang paling dalam, bukan boneka baru yang aku inginkan, kepulangan ibu-lah yang sangat aku harapkan. Aku rindu sekali pada beliau. Tidak masalah jika nanti ibu tidak membawa boneka pesananku. Yang penting beliau cepat pulang, dan sampai ke rumah dengan selamat.

Matahari hampir tenggelam. Orang-orang  sudah mulai beranjak dari rumahku. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berada di ruang tamu. Mereka bercakap-cakap dengan pamanku. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sempat terlintas dalam benakku untuk menguping pembicaraan mereka. Namun, aku ingat nasihat ibu. Menguping itu hukumnya dosa,  begitulah ibu menasihatiku.

"Kapan ibu akan pulang, nek?" tanyaku sambil menatap wajah nenek yang masih digenangi air mata. Kali ini, nenek tidak menjawab pertanyaanku. Beliau hanya mengusap rambutku dan mencium kedua pipiku dengan hangat.

"Ada apa ini sebenarnya? Apa maksud dan makna isi surat Ibu itu? Kenapa Nenek dan keluargaku yang lain menangis histeris setelah paman selesai membacanya? Kenapa foto Ibu yang terpampang di dinding itu tiba-tiba diberi hiasan bunga mawar putih? Dan juga kenapa, kenapa orang-orang berbvondong datang ke rumahku, dan menyebut-nyebut nama Ibu? Apakah Nenek akan mengadakan acara reuni keluarga yang biasa beliau adakan setiap tahun menjelang Idul Fitri, sekalian untuk menyambut kedatangan Ibu? Tapi kan, Lebaran masih lama. Juga, kata Nenek, Ibu akan pulang habis Lebaran. Ada apa sebenarnya dengan Ibu?"

Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalaku saat itu. Nenek maupun pamanku tidak pernah meresponsku setiap kali aku bertanya tentang Ibu. Jujur, saat itu aku sempat marah dan tidak mau bicara dengan mereka karena aku merasa tidak dihiraukan oleh mereka. Biasanya, mereka langsung mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya tentang ibu. Paling mereka hanya berkata, "Ibumu baik-baik saja."

Namun, aku sekarang mengerti kenapa mereka dulu bersikap seperti itu. Mereka tidak ingin melihat diriku bersedih. Tak seorang pun di dunia ini yang ingin melihat anak, cucu, saudara, atau pun keponakannya bersedih, kan? Apalagi saat itu umurku masih di bawah umur. Tidak mungkin mereka memberitahu aku bahwa Ibu sudah tiada, digantung di sebuah tempat sebagai ganjaran karena telah membunuh anak majikannya.

Aku tahu tentang nasib ibu yang berakhir sangat tragis dan menyedihkan itu ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMA, tepatnya sesaat sebelum nenek dipanggil Yang Maha Kausa. Nenek bercerita, suatu siang yang panas, rumah kami didatangi orang-orang berseragam. Singkat cerita, sebelum mereka menyeduh kopi yang disuguhkan nenek, mereka minta maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga kami karena tidak bisa menyelamatkan ibu dari tiang gantungan. Katanya "Pak Presiden baru diberitahu pihak kedutaan besar negara tempat Ibumu bekerja, satu hari setelah Ibumu diekseskusi."

"Maafkan kami, Nduk. Sekali lagi maafkan kami. Kami baru bisa menceritakan kasus Ibumu sekarang," kata nenek tersedu-sedu. "Saat itu, kami sengaja tidak menceritakan kasus ibumu karena kami tidak mau jiwamu terguncang mengingat kamu masih kecil dan jiwamu masih labil." Nenek tak kuasa menahan airmata. Kulihat, wajahnya tampak lebih tua dari umurnya yang sudah mendekati angka 93 tahun.

Kupeluk tubuh nenek yang lemas tak berdaya. Dan, semua orang yang berada di ruang UGD yang penuh dengan bau obat yang sangat menyengat di hidung itu pun menangis.

Setelah nenek bercerita panjang lebar tentang nasib tragis yang dialami ibu, aku membayangkan bagaimana ibu menahan sedih karena tak bisa lagi memeluk kami. Juga terlihat jelas dalam mataku yang sembab, bagaimana jari-jari ibu gemetar ketika hendak menulis pesan dari dalam tahanan, sebelum eksekusi dilaksanakan.

Aku sangat menyesal, kenapa dulu aku membiarkan ibu pergi. Jika aku bisa memutar waktu, aku tidak bakal membiarkan ibu melepas pelukanku. Aku akan melakukan segala macam cara untuk mencegah kepergiannya. Biar aku yang mencari uang untuk menghidupi keluarga, serta mengganti semua utang kakek dan nenekku yang setinggi gunung. Tidak apa-apa jika aku tidak sekolah. Yang penting keluargaku tenteram dan sejahtera serta lepas dari jeratan utang. Tapi, nasi sudah jadi bubur. Semua telah terjadi.

Entah, siapa yang pantas disalahkan dalam masalah ini. Jika para elite yang sedang duduk manis di istana itu tidak mengingkari janjinya pada saat kampanye dulu, yang katanya mau mensejahterakan dan akan memberi lapangan kerja sebanyak-banyaknya pada rakyatnya, tentu ibu dan warga yang lain tidak akan pergi ke negeri orang untuk emncari nafkah. Mereka akan lebih banyak menghabiskan hari-hari mereka bersama suami dan anak-anak mereka di rumah.

Namun semua itu hanya ilusi. Faktanya, pemerintah tidak berhasil mencegah warganya, termasuk ibu pergi merantau ke negeri orang untuk mencari sesuap nasi. Bahkan, mereka seperti membiarkan ibu dan ratusan warga yang lain mati dan dikubur di tanah asing.

Kini, sudah sepuluh tahun lebih peristiwa itu terjadi. Aku yakin, sekarang ibu bahagia di surga. Yang Maha Kuasa pasti menempatkan beliau di tempat paling indah di alam sana. Tapi, yang jelas, ibu bahagia bukan karena jadi pahlawan devisa. Tuhan sengaja memberi kebahagiaan dan kesejahteraan pada ibu sebagai ganjaran karena perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar sewaktu hidup di dunia. Beliau rela pergi ke tanah rantau, meninggalkan kampung halaman demi menafkahi kami sekeluarga.

Aku ebrharap, semoga tidak ada anak lain di belahan negeri ini yang bernasib sama seperti diriku. Semoga aku anak terakhir yang menerima pesan dari tiang gantungan. (k)

Yogyakarta, 2015; cerita buat seorang TKW


Fajri Andika: Lahir di Sumenep Madura 1 Juli 1989, sedang belajar di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fajri Andika
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Juli 2015


0 Response to "Pesan dari Tiang Gantungan"