Pulang Berpulang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pulang Berpulang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:00 Rating: 4,5

Pulang Berpulang

BAHKAN ayahnya pun telah berujar. 

“Sudahlah Sukab, pada Hari Raya nanti kamu tidak usah pulang. Kamu bisa pulang kampung kapan saja kamu mau, sebelum atau sesudah Hari Raya, terserah, tetapi jangan pada dan demi Hari Raya. Bapak bilang jangan, sekali lagi jangan, tiada lain selain jangan. Jangan, jangan, jangan. Pokoknya jangan!

Tolonglah orangtuamu yang sudah tua ini, Sukab, jangan pulang. Apakah kamu akan menambah lagi perasaan gundah dan gulana yang telah lama dan bertubi-tubi menghajar orangtuamu ini? Janganlah menambah lagi beban kami yang malang, menderita, dan setiap tahun dibebani perasaan bersalah. Tolonglah jangan pulang! Pokoknya jangan!

Setiap kali Hari Raya tiba, ketika orang-orang desa kita, tetangga-tetangga kita, semuanya dengan penuh gairah bersiap menyambut Hari Raya, menyambut anak-anak mereka tiba dari Jakarta, ibumu yang sudah tua, serba prihatin, dan sudah bertahun-tahun hidup dalam nestapa, semakinlah tambah berdarah-darah perasaannya.

Ilustrasi Aries Tanjung
Percayalah betapa kami sungguh mengerti bagaimana perasaanmu Sukab. Kamu ingin pulang, hanya pulang, dan tiada lain selain pulang. Kamu ingin berada di dekat kami di sini, di dekat bapak dan di dekat ibu, di dekat tiga adik perempuanmu. Jangan salah Sukab, kami semua bukan tidak merindukanmu. Kami semua sudah jelas, terang dan pasti, kangen padamu.

Tolong, jangan nekad Sukab, tolong! Kami tahu kamu tidak berbasa-basi. Tidak terpaksa, tidak sekadar pura-pura menunjukkan diri sebagai anak berbakti. Kamu niat pulang. Dari dalam hatimu amat sangat niat pulang ke rumah, ke kampung halaman, bertemu dan berangkulan dengan segenap handai taulan. Kamu percaya!

Namun, ingatlah perkara satu ini Sukab. Ingatlah! Dalam keluarga kita tinggal dirimu anak lak-laki yang tersisa. Kamu belum menikah, kamu masih muda, dan ketiga adikmu itu perempuan semua. Ini bukan soal laki-laki atau perempuan, meski orang kampung, kami tidaklah begitu kuno. Laki-laki atau perempuan bagi kami setara!

Masalahnya, Sukab, masalahnya, ketiga kakak laki-lakimu itu tewas satu persaty, ya, tiap tahun satu-satu, dalam perjalanan pulang demi Hari Raya. Satu persatu mereka meninggalkan dunia ini di atas sepeda motornya, langsung terbang menuju alam baka tanpa bisa ditunda. Kamu pun mengetahui itu Sukab! Mengerti dan ikut merasakannya.

Tentu kamu dapat membayangkan bagaimana rasanya kami sebagai orangtua. Dalam waktu tiga tahun, mulai dari kakakmu yang tertua, satu persatu kakakmu mengalami celaka yang merenggut nyawa. Kakakmu yang tertua ban sepedamotornya selip meskipun baru diganti, ketika meluncur di jalanan licin, dan tetap meluncur setelah jatuh, berputar seperti gasing ke jalur sebelah, langsung masuk ke kolong bis yang meluncur dari arah berlawanan.

Kakakmu yang kedua, menyadari nasib kakaknya, sudah mencoba bersikap sangat hati-hati, terutama pada titik tempat kakaknya mengalami celaka. Namun justru pada titik itulah sebuah mobil berisi 17 manusia yang dimampatkan, dengan rem blong, menyodoknya dari belakang. Di tempat yang sama ia melayang ke udara bersama sepedamotornya, untuk turun kembali sebagai tubuh yang tiada berjiwa.
Kakakmu yang ketiga sudah kami peirngatkan pula. ‘Janganlah pulang,” kata kami, tetapi ia tetap pulang juga. Dengan meninggalknya dua kakak di atasnya, sudah jelas bagaimana dia akan dan telah berhasil menghindari senggolan, serempetan, pemempetan, dan penabrakan kendaraan-kendaraan besar, meski kemudian tiada jelas kenapa ternyata ia tewas juga dalam lindasan sepedamotor yang membuat tubuhnya menjadi gepeng.

Nah, jadi tinggal dirimu Sukab, satu-satunya anak laki-laki kami. Tolong, tidak usah pulang.”

***
Di atas sepedamotornya menjelang Hari H, Sukan bukannya tidak teringat kata-kata ayahnya itu sama sekali. Ia teringat semuanya, kalimat demi kalimat, kata demi kata, bahkan aksara demi aksara! Namun Sukab teringat semua itu, berulang kali dan berkali-kali, dalam keadaan melaju di atas sepedamotornya, melaju dan menggebu, bersama puluhan ribu sepedamotor lainnya yang menggebu dari Jakarta.

Matahari menjadi saksi dari persaingan perebutan ruang untuk melaju, mengebut, dan menyalip oleh puluhan ribu pengendara sepedamotor, pada lajur yang juga sudah diisi mobil-mobil bernasib malang, karena seberapapun mewah dan mahalnya harga mobil itu, hari itu mereka dikodratkan hanya mampu merayap.

Mobil-mobil boleh macet, tetapi sepedamotor tidak sudi perjalanannya terhambat. Bagaikan terdapat izin tidak tertulis bagi sepedamotor untuk melanggar peraturan. Membalap di bahu jalan, salip-menyalip sampai ada yang terpena dan tersebur ke sawah. Meluncur pada celah semput di antara dua mobil sambil menyerempet ke kiri dan ke kanan, menciptakan baret-baret yang panjang, begitu panjang, bagaikan tiada lagi yang lebih panjang.

Puluhan ribu helm berkilau-kilau memantulkan cahaya matahari, berkliat dan berkeredap menyilaukan, semakin menyembunyikan wajah-wajah tiada tampak di balik film hitam. Wajah-wajah tiada tampak para makhluk yang kini sahih disebut manusia sepedamotor. Jika manusia biasa adalah homo sapiens, maka manusia sepedamotor adalah homo motorensis; jika homo sapiens berjalan tegak dengan dua kaki, homo motorensis meluncur pada dua roa dengan tangan menempel pada setang. Artinya bagi homo motorensis sepedamotor adalah bagian organik dari tubuhnya, melebur dan bersenyawa, tiada terpisahkan sepeti kupu-kupu dan sayapnya.

Di antara puluhan ribu homo motorensis, yang meraung-raung meminta jalan tiada habisnya di jalanan yang setiap saat bertambah sempit, di dalam salah satu helm terdapatlah kepala Sukab. Dalam gerak maju gelombang lautan puluhan ribu homo motorensis, kepala Sukab itu bukan hanya berkeringat, tetapi juga memikirkan ujaran ayahnya.

“Aku bukan tidak tahu apakah kiranya dampak kematian ketiga kakaku kepada kedua orangtuaku. Setiap kali Hari Raya tiba, setiap orangtua mengharapkan –bahkan ada yang mewajibkan—kedatangan anak-anaknya, tetapi sebaliknya orangtuaku justru melarang anak-anaknya datang semenjak kecelakaan menimpa kakakku yang pertama.

“Setiap tahun larangannya semakin keras, tetapi kami tetap datang juga dengan sepedamotor kami masing-masing, berselancar di atas gelombang samudera sepedamotor, dan memang selama dua tahun berturut-turut, kakakku kedua dan ketiga menyusul kakak pertama, tewas sebagai pemudik bersepedamotor. Apakah itu harus berarti aku akan dan pasti mati jika melakukan pemudikan dengan mengendarai sepedamotor? Jika tidak pasti, mengapa kami harus bersiap seolah-olah hal itu pasti? Jika pasti, kematian macam apapun, bukankah mustahil dihindari?”

Demikianlah di atas sepedamotornya Sukab melesat dan meluncur, meluncur dan melaju, melaju dan menggebu sepanjang jalan di tepi pantai utara dengan bayangan kampung halaman yang indah permai di dalam kepalanya, meskipun kampungya itu tidak indah dan permai. Sebagai bagian dari gelombang samudera sepedamotor, nyaris dalam arti sesungguhnya, di depan belakang samping kiri kanan seluas mata memandang hanyalah homo motorensis melaju dan menggebu. Puluhan ribu helm berkilauan menyilaukan bagaikan pemrukaan laut dalam terpaan cahaya matahari, dengan anak-anak balita yang kadang-kadang tanpa helm menyembil di antaranya.

Melalui cahaya matahari itulah dari langit Malaikat Maut berselancar turun ke bumi. Apakah ia harus memilih di antara puluhan ribu homo motorensis itu? Tidak. Ia sudah punya daftar. Terdapat satu nama dalam daftar itu, yang orangnya berada di lautan sepedamotor di bawahnya.

***
Di kampung halaman, di rumah orangtua Sukab, salah seorang adik perempuan Sukab melihat foto Sukab pada dinding ruang tamunya nyengir.

“Bapak, Sukan di foto itu tadi nyengir.

Waktu ayahnya menengok foto Sukab berseragam SMU itu, Sukab masih seperti semula, berwajah kaku dan mengenakan toga.

“Tadi nyengir kamu bilang?”

“Iya, Bapak., nyengir lantas kembali semula lagi.”

Bapak terteguun dan terduduk di kursi. Tidak terlalu jelas apa yang dipikirkannya.

Namun Ibu yang mendengar percakapan itu dari tadi segera pergi ke dapur. Ibu menyiapkan hidangan buka puasa. Matanya basah.(*)

Kampung Utan, 6 Juli 2015. 15:30

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Teguh Afandi yang telah berkenan mengirimkan karya ini kepada klipingsastra. Salam

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seno Gumira Ajidarma
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 20-26 Juli 2015

0 Response to "Pulang Berpulang"