Purak Tompo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Purak Tompo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:41 Rating: 4,5

Purak Tompo

RAMADAN ini, masyarakat Dusun Wanasri tak begitu antusias emnyambut datangnya malam likuran [1]. Lantaran  Ki Mujib --sesepuh yang biasa mengatur jalannya purak tompo [2]-- telah tutup usia. Penyakit tua telah lama menggerogoti kesehatannya. Rebusan air daun sirsak, pepaya,d an ebberapa akar tumbuhan yang secara rutin diminum, tak membuatnya sembuh dari sakit. Hingga Yang Kuasa memegat rohnya.

Sepuluh hari emnjelang likuran, beberapa orang penting berkumpul di pelataran langgar, usai Tarawih. Melalui celah bambu yang rimbun, sinar purnama mengintai gerak mereka yang tengah silang pendapat. Topiknya cukup menarik karena menyangkut malam likuran.

Masyarakat Dusun Wanasri bias emngisi malam likuran dengan menggelar tradisi purak tompo. Tradisi makan bersama makanan yang telah didoakan modin[3] memang kerap kali dilaksanan tiap tahun.

Ada hal yang dirasa ganjal. Sesepuh sebenarnya tahu pada siapa Ki Mujib menurunkan ilmunya. Namun keyakinannya itu masih menggantung. Lantaran teringat mandat leluhur, pantang bila anak ketiga dinnobatkan  sebagai modin dusun.

"Kita harus cepat emnentukan siapa siapa pengganti Ki Mujib, Kang," tegas Ki Sudi pada Hasno yang tengah duduk di sampingnya.

"Kang, selama ini kita tahu, almarhum Ki Mujib hanya mewariskan ilmunya pada Karman. Sedangkan Karman itu ragil[4]  Ki Mujib. Bukankah larangan besar menobatkan anak terakhir menjadi modin?" Hasno menjelaskan pantanganleluhur. Ia tidak ingin kelak dusunnya harus menerima tulah karena tidak patuh pada leluhur.

Mayoritas masyarakat Dusun Wanasri memang memeluk sistem kepercayaan agami Jawi[5].  Sebagai kaum abangan, pola pikir mereka masih mengarah pada animisme dan dinamisme. Oleh sebab itu, dalam mengambil keputusan kerap kali disangkut-pautkan dengan leluhur.

Leluhur mereka telah emninggalkan tradisi yang mengakar selama bertahun-tahun. Meskipun masyarakat tidak tahu pasti kapan awal mula purak tompo diselenggarakan di dusunnya. yang mereka tahu, meneruskan ajaran leluhur pada anak cucu merupakan wujud bakti pada leluhur.

***
ATAS permintaan Ki Sudi, Karman bersedia mengemban amanat. Ia dipilih sebagai modin dusun. Ia bertirakat dan tidak keluar kamar sambil menelaah Bataldjemur[6] peninggalan Ki Mujib.

Sebenarnya, setengah dari hati Warno ingin melawan. Ia takut terkena tulah karena membangkang leluhur. Leluhur melarang seorang anak terakhir menjadi modin. Namun Karman satu-satunya anak lelaki Ki Mujib. Ia memilih pasrah.

"Man, aku sebenarnya berat memilihmu menjadi modin. Tapi, hanya kaulah yang tahu-menahu tentang ilmu primbon dan purak tompo. Bapakmu hanya mewariskan pada anak laki-lakinya," ungkap Ki Sudi dengan suara pelan dana berat.

"Ya sudahlah, Ki. Apa boleh buat. Meskipun melanggar aturan leluhur. Yang penting nawaitu-nya untuk orang banyak Ki. Menjaga kelestarian dan kerukunan dusun ini." Warno mencoba menenangkan hati Ki Sudi.

Untuk menghalau berbagai gangguan, warno emnjalani ritual selamatan. Masyarakat menyarankan Warno dan seluruh keluarganya melarung bunga tujuh rupa dan menabur garam di sekitar rumah. Mereka melangsungkan ritual tersebut, agar penobatan Warno sebagai modin diberkahi Hyang Cokronirmo, pendiri dusun Wanasri, sekaligus pencetus purak tompo. Lleuhur yang makamnya berada di utara bukit Wanasri.

Makam yang tak pernah sepi, terutama di bulan Ruwah seperti ini. Ziarah, nyekar, atau sekadar berdoa dan memohon keberkahan hidup kerap kali dilakukan berbagai kalang.


***
MALAM yang  ditunggu masyarakat Dusun Wanasri tiba. Usai emlaksanakan salat Tarawih. Langgar beserta pelatarannya dipenuhi puluhan jemaah. Sementara ibu-ibu menghias tumpeng, urab, lauk-pauk, dan taburan kacang kedelai hitam. Anak-anak ebrlarian meletakkan kuel lapis, apem, dan berbagai jajanan pasar lainnya di loyang.

Pelataran depan diisi para pemuda yang asyik menata gamelan. Lelaki paruh baya berdandan mengenakan beskap dan blangkon bersiap macapatan. Dhurma, Pucung, hanyalah ebberapa tembang yang dilantunkan diiringi gamelan.

Tikar gelaran yang dipersiapkan untuk warga sudah terisi penuh. Para orang tua memilih duduk santai, mendengarkan klenengan[7] sambil menelaah isi tiap lirik tembangnya. Namun, beberapa ada yang tampak sayu. Tapi, hal itu tak berlaku bagi anak-anak. Pandangannya terus tertuju pada puluhan jejanan dan tumpeng dalam tampah[8] besar.  

Setelah segala sesuatunya siap. Warno merapal mantra dan emmbacakan doa pada makanan utama yang tersaji. Tabuhan gamelan pun berhenti sejenak. Orang-orang menyimak dan ikut mengamini doa yang diujarkan modin. Berbagai permohonan mulai dari mendapat keberkahan hidup, kesehatan, rezeki, serta kesejahteraan masyarakat ditujukan pada Yang Kuasa, dan Hyang Cokronirmo.

Pemotongan tumpeng menjadi simbol usainya upacara tersebut. Artinya, semua warga telah ebrhak mengambil makanan  dengan pincuk daun pisang yang telah disediakan.

Usai makan bersama, masyarakat emlakukan salat malam untuk bermuhasabah. Warno menjadi imam dalam salat tersebut. Di rakaat kedua saat sujud, warga dikejutkan karena imam terdiam  dalam posisi tersungkur.  Puluhan orang maju dan mengerumuni tempat imam berada. Kemudian Ki Sudi, mendekat.

"Man... Karman... Inalillahi wa'inaillahi roji'un."

Semua terdiam, dan terkejut. Mereka teringat dengan pantangan Hyang Cokronirmo yang melarang anak terakhir menjadi modin. (k)

Purwokerto, Juli 2015

Catatan:
[1] Likuran: Malam ke-21 di bulan Ramadan
[2] Purak Tompo: Tradisi di bulan Ramadan, yaitu makan makanan yang diletakkan dalam wadah etrbuat dari anyaman bambu.
[3] Modin: dukun atau orang pintar yang memimpin jalannya upacara purak tompo.
[4] Ragil: Sebutan anak terakhir dalam masyarakat Jawa.
[5] Agami Jawi: Konsep agama Islam yang telah tercampur  dengan ajaran agama Hindu-Budha
[6] Bataldjemur: Nama primbon masyarakat Jawa.
[7] Klenengan: Lagu-lagu Jawa yang diiringi tabuhan gamelan.
[8] Tampah: Tempat makanan yang terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk bulat.


Ayu Estetika, nama pena Puji Rahayu. Lahir di Kebumen, 5 Agustus 1993. Berdomisili di Desa Grenggeng RT 01 RW 07 Karanganyar Kebumen. Sedang menempuh kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prodi Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia. Bergiat di Komunitas Penyair Institute.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ayu Estetika
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Juli 2015




0 Response to "Purak Tompo"