Ramadan Sepuluh hari Pertama - Malam Takbiran - Malam Lebaran - Malam Syawalan - Musim Mudik - Malam Sebelum Tidur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ramadan Sepuluh hari Pertama - Malam Takbiran - Malam Lebaran - Malam Syawalan - Musim Mudik - Malam Sebelum Tidur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:37 Rating: 4,5

Ramadan Sepuluh hari Pertama - Malam Takbiran - Malam Lebaran - Malam Syawalan - Musim Mudik - Malam Sebelum Tidur

Ramadan Sepuluh hari Pertama

Menggembalakan zikir
di tanah lapang pada musim kemarau
agar jiwa belajar pada puasa rumputan yang
memaknai dahaga sebagai rahmat-Nya

Ramadan Sepuluh hari Kedua

Doa yang kau kirim tengah malam
menjadi pencuri kunci surga di istana Tuhan
seusai tertangkap di pintu gerbang, ia tak pulang
menunggu matahari terbenam di balik bentang bukit
Cilacap, 1 Juli 2015

Ramadan Sepuluh Hari Terakhir

Pendakian tinggal sejengkal, menuju
puncak Thursina yang bermahkotakan kabut
saat cahaya seribu bulan muncul dari celah tabir
kau senasib oencuri yang lupa jalna pulang

Malam Takbiran

Takbir yang membelah desa dan kota
segairah kembang api membakar langit malam
lantas siapa tamu yang menunggu di depan pintu
Wajahnya dingin. Ngingatkan aku pada Tuhan
Cilacap, 2 Juli 2015

Malam Lebaran
Mengubur bulan di pemakaman
Tanpa kafan tanpa pocong di kepala
Sebagaimana kau, saat memperabukan dosa
lewat api yang menyala dari jabat tangan telanjang
Cilacap, 3 Juli 2015

Malam Syawalan

Tangan-tangan dijabatkan
ampunan khusyuk dilafalkan
tapi pisau lipatmu masih terselip
: rapi tersembunyi di pinggang kanan
Cilacap, 4 Juli 2015

Musim Mudik
Serupa burung pulang ke sarang
kau singgahi rumah asal, buat
mengenang manisnya masa kanak
: terampok di tengah kota yang bengis
Cilacap, 5 Juli 2015

Malam Sebelum Tidur

"Zikir siapa berceceran di atas sajadah, hingga smeut-semut
mengerumuni karena manisnya?" tanya seorang bocah
pada ayahnya. "Zikir ibumu. Sesudah sesiang ia serupa 
lebah yang memaknai nektar persembahan bunga-bunga 
sebagai madu. Kasih yang dimatangkan ke dalam hakikat cinta."

"Doa siapa yang menyala di ruang tamu, hingga laron-laron 
mengerubungi karena terangnya?" tanya bocah itu lagi pada
ayahnya. "Doa ibumu. Sesudah sesiang ia serupa telaga 
yang memantulkan cahaya matahari ke dasarnya. Jalan 
terang bagi anak-anak dari negeri kegelapan."

"Puisi siapa yang dibacakan sebelum tidur, hingga aku 
terbuaki serupa anak kera di bawah tetek induknya?" tanya 
terakhir bocah itu pada ayahnya. "Puisi ibumu. Sesudah
sesiang ia serupa angin yang mengubah bara matahari
menjadi hijau lautan. Dari sanalah, kau akan tahu di mana
letak surga."


Cilacap, 6 Juli 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu pagi" 19 Juli 2015




0 Response to "Ramadan Sepuluh hari Pertama - Malam Takbiran - Malam Lebaran - Malam Syawalan - Musim Mudik - Malam Sebelum Tidur"