Tentang Hapsari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tentang Hapsari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:10 Rating: 4,5

Tentang Hapsari

AKU sedang menunggui Kakekku yang telah terbaring di ranjang rumah sakit selama sepekan ini. Rumah sakit modern ini memiliki peralatan canggih, pelayanannya pun sangat baik, cukup tekan bel pemanggil jika perlu sesuatu –itulah yang membentuk anggapan bagi keluarga pasien untuk tidak perlu datang bergantian setiap saat. Sejak lama aku seperti ini: memendam ketakutan yang amat dalam andai aku akan hidup setua itu; hanya bisa menanti-nanti kematian yang bisa menyergap secara tiba-tiba tapi tak kunjung datang. Tubuhnya pun nyaris tinggal belulang saja, apalagi ditambah dengan menatap matanya –sepasang mata keruh kelabu. Ketakutan yang wajar saja, bukan? Belakangan Kakek sering pikun sehingga ia jarang sekali berbicara, ya memang seorang yang pendiam. Kuletakkan ponselku begitu saja di meja lalu menghampiri kakek untuk sekadar menyapanya. Aku berusaha menatap dan terus menatap matanya, berpura-pura bahwa mata itu tak pernah mengusikku. Ternyata dia begitu antusia atas kehadiranku, seolah ada udara segar yang dipompakan ke paru-parunya. Aku kira dia begitu kesepian setelah ditinggal Nenek yang telah mendahului hampir sepuluh tahun lalu dan ingin bernostalgia. Namun dia menyebut-nyebut satu nama yang asing.... Hapsari. Ah, siapa?

“Siapa Hapsari?” tanyaku seraya mendekatkan mulutku ke telinganya.

“Semua orang di Kampung Dameli tahu siapa Hapsari, tapi orang-orang di sana lebih suka tak mengungkitnya lagi.” Bicara Kakek terdengar fasih dan lantang.

Aku menjelajahi ingatan kanak-kanakku yang samar; seperti sedang memutar kaset rusak yang cepat berpindah dari satu adegan ke adegan lain; ada pohon bougenvil merah muda di halaman rumah, kadera tua, memanikan tustel rusak bak fotografer, kesenanganku memancing bersama temanteman dari siang hingga hari mulai gelap, serta pekikan nyaring Mama untuk menghentikanku bermain –semua adalah kenangan terbaikku kecuali yang terakhi kusebutkan. Kami sekeluarga tak pernah kembali atau berkunjung ke Kampung Dameli lagi. Mungkin sekarang sudah banyak perubahan di sana –menjadi bagian dari sebuah kota kecil padat yang kelilingi antara teluk dan perbukitan tinggi. Kakek bertutur bahwa tak ada seniman yang sempat memasukkan Hapsari ke dalam novel atau drama, sebuah inspirasi yang pasti mudah saja untuk dikaryakan. Kakek sungguh berharap malaikat pencabut nyawanya berasal dari satu keindahan yang sama dengan Hapsari, agar embusan napas terakhirnya benar-benar selembut dan seirngan helaian bulu yang menjelma kepakan sayap putih berkilauan kemudian terbang masuk bersama malam.

“Kalau kakek mau beristirahat, aku akan pergi,” saranku itu membuat kakek menatapku lamat-lamat. Seketika ada desiran ada desiran kencang memenuhi dadaku; sebelum akhirnya dia melanjutkan ceritanya tentang Hapsari.

Ilustrasi karya Aries Tanjung
Usia kesembilan belas tahun Hapsari menikah. Banyak pemuda patah hati atau lebih tepatnya menyesal karena keduluan Kasim. Kasim si pedagang kelontong; pemilik satu dari dua toko kelontong yang bisa dijumpai kala itu. Berbeda dengan Hapsari, Kasim tak pandai bergaul, jarang ikut dalam kegiatan kepemudaan, meski begitu; dia termasuk yang ulet dalam bekerja. Ketika kampung mulai ramai pendatang Kasim dan Hapsari memulai usaha rumah sewa/penginapan yang dibangun di atas tanah warisan untuk Kasim. Kemudian hari orang-orang biasa menyebutnya Rumah Ungu.

Safrin –pemuda dari kota itu adalah satu dari peuluhan penghuni di Rumah Ungu, seorang pegawai negeri yang bolak-balik meninjau proyek pembangunan jalan. Warga selalu menierima kedatangannya dengan baik. Safrin pun memilih tinggal sebulan penuh sampai proyek selesai. Tak ada yang mengira bagaimana knegerian bisa terjadi di sebuah tempat sunyi yang aman. Semua berawal dari hubungan baik antara Hapsari dan Safrin, bukan sekadar hubungan antara pemilik rumah dengan penyewa. Ada satu hal yang kemudian disadarai Kasim semenjak kedatangan Safrin: ada nyala gairah hidup yang terpercik dari kilau mata Hapsari. Kasim memang seharusnya cepat mengambil tindakan --mengusir Safrin lantas menceraikan Hapsari—begitulah diam-diam warga kampung kerap menyebutnya. Namun itu semua tidak pernah dilakukannya. Perceraian tak pernah sampai di mimpi buruk Kasim, perceraian masih terlalu tabu, apalagi untuk orang kampung seperti mereka.

Pada suatu pagi, saat matahari belum lahir sempurna dari rahim sang malam; Safrin ditemukan tewas. Suasana menjadi hiruk pikuk di luaran Rumah Ungu –bisik-bisik kerumunan mengatakan bahwa Safrin telah meregang nyawa sejak semalam; sepulang dari warung bakmi di dekat pasar bersama Hapsari. Saat polisi tiba keadaan kamar telak porak-poranda, dua buah jendela kamar terbuka, di tengahnya tergantung petromaks yang masih menyala. Semilir angin dingin langsung menyeruak menghunjam pori-pori. Safrin dari awal wajahnya tampak seolah seorang yang terlelap tidur di ranjang. Belum ada tanda-tanda kekerasan ditemukan selain luka goresan di pinggir dagunya yang berasal dari pecahan gelas yang berserakan di lantai. Barang-barang berharga miliknya masih lengkap. Sekelompok polisi sigap mengangkat jenazah safrin ke mobil patroli, ikut idbawa Hapsari yang tampak histeris, Kasim, serta beberapa orang tetangga. Ibu-ibu hamil mengelus perus mereka ketika melihat Hapsari lewat.

Hapsari tak dapat mengendalikan dirinya ketika diinterogasi, tiba-tiba napasnya ersnegal karena amarah, mata sembabnya memerah seperti bola api yang siap membakar apa saja lalu detik berikutnya dia bisa tersenyum manis seperti bocah, seolah sedang menunjukkan bahwa semua baik-baik saja.; bisa kembali melanjutkan hidup dengan tenang bersama suaminya yang penyabar. Baginya tak ada yang perlu dicemaskan, tapi justru yang terjadi malah sebaliknya; dirinya ditetapkan sebagai tersangka tunggal atas pembunuhan Safrin. Hanya beberapa hari setelah putusan itu si jelita bunuh diri.

“Bagaimana dia mati?”

Kakek membuang pandangan ke arah jendela. “Bantung diri, aku sempat melihat ruam bekas lilitan tali di lehernya,” ujar kakek dengan nada datar.

“Ooh,” hanya lenguhan pelan itu yang mampu keluar, banyak pertanyaan tercekat di mulutku.

“Hapsari bukan orang yang seperti itu, dia orang yang selalu berpikir banyak hal sebelum melakukan sesuatu.”

Berita kematian Hapsari cepat ke telinga seluruh warga kampung lewat mulut ke mulut. Pada akhirnya Rumah Ungu harus ditutup karena satu persatu memilih keluar dengan berbagai alasan. Kasim menduga salah seorang penghuni telah menyebarkan cerita horor yang telah tersebar –selembar kertas usang yang selama ini telah disembunyikan dari siapa pun. Sepucuk surat dari orang tua Safrin yang sudah sakit-sakitan meminta anak semata wayang mereka lekas pulang, mereka telah merencakan perjodohan untuknya. Hanya sepucuk surat singkat yang mampu memberi penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi pada tengah malam itu.

“Aah!” seruku tiba-tiba. “Aku tahu, ya tentu saja.”

Aku sedang membelku untuk beberapa saat.

“Lalu, apa lagi yang terjadi dengan Kasim? Aku harap dia bisa melepas beban jiwanya setelah melewati serangkaian neraka dalam hidupnya, semoga dia berbahagia.”

Kakek hanya diam, tergambar kelegaan di wajahnya, dan entah apa yang sekarang bergelayut di pikirannya.

Astaga! Aku baru ingat nama kakek adalah Rahmat Kasim.(*)



Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Teguh Afandi yang telah berkenan mengirimkan karya ini kepada klipingsastra. Salam

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jesita Moidady
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 13 - 19 Juli 2015

0 Response to "Tentang Hapsari"