Tenun Abu Haf | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tenun Abu Haf Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:19 Rating: 4,5

Tenun Abu Haf

SEORANG tukang tenun muncul di simpang jalan yang menghubungkan dua bangunan besar. Di pundaknya ada gendongan berisi lembaran kain dan benang. Matanya memerah dan ada perban di dahinya yang hitam. Tukang tenun itu bernama Abu Haf. Ia tiba di Pekanbaru setelah berjam-jam menyelundup di tumpukan kain yang dibawa lewat kapal di Pelabuhan Duku.

Sinar matahari yang garang menyuntik kakinya yang tidak bersepatu. Sandalnya tipis dan jempolnya kapalan. Beberapa kali ia menahan langkahnya agar sandal itu tidak putus. Ia merasa tersesat dan tidak tahu harus mencari alamat yang tertera dalam kertas lusuhnya. Seorang kenalan lama yang pernah ia temui saat di kepulauan yang barangkali bisa membantu dirinya.

Dengan wajah penuh keletihan, ia mencari tempat berteduh dengan bersandar di dinding bangunan besar. Keringatnya pelan-pelan melintas di pelipisnya hingga ia sadar ada seorang anak lelaki yang memperhatikan ia sejak tadi. Abu Haf menoleh.

“Bapak membawa apa?” tanya anak lelaki itu kepada Abu Haf. Gendongan di pundak Abu Haf berwarna sangat terang sehingga anak lelaki berumur tiga belas tahun itu tertarik melihatnya. Anak itu cukup pintar untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Kau tersesat, Pak?” Anak itu bertanya lagi dan memperhatikan kaki Abu Haf yang dihinggapi lalat kecil. Abu Haf tersenyum. Ia melihat bagaimana anak itu menatapnya, mereka saling memperhatikan hingga Abu Haf bertanya mengenai pertolongan yang bisa ia dapatkan dari anak lelaki itu.

Anak itu diam cukup lama. Lalu ia menjawab, “Aku tak bisa melakukan apa-apa. Apa yang kau butuhkan dariku, Pak? Kau tahu kalau manusia adalah makhluk yang lemah, lalu kenapa kau minta tolong padaku?”

“Karena kau yang ada di sini.”

“Yakin? Bapak yakin? Lihatlah sekeliling, orang-orang tengah bergegas, begitu ramai.”

“Kau jangan mengolok-olokku anak kecil. Aku sedang tidak ingin marah.” Abu Haf berjongkok dan menyandarkan punggungnya tetap di dinding. Ia melihat gendongannya dan merasa sangat lapar sekali. Ia melihat bungkusan kerupuk di tangan anak kecil itu.

“Bisakah kau memberiku makanan? Aku lapar,” Abu Haf memelas.

Anak kecil itu menghela napas dan ikut bersandar di dinding. Mata mereka sama-sama menghadap ke jalan. Di mana orang-orang tampak acuh meskipun matahari seakan membakar kulit-kulit mereka.

“Bagaimana kondisi Bapak sebelum ini? Aku masih kelas enam SD, aku juga tidak memiliki uang selain uang milik juragan. Dan aku ingin bertanya padamu, apa yang ada dalam bungkusan kain itu?”

Abu Haf tersenyum-senyum dan merasa senang saat ada yang bertanya tentang apa yang ia bawa. Ia merasa harus menceritakan segalanya, maka ia mulai bercerita.

***
“Aku seorang tukang tenun kain dari Kelantan. Dan aku membuka kios di kepulauan yang dekat sekali dengan arus balik perdagangan. Aku belajar tenun sedari kecil, pada keluarga yang telah mewarisi keberuntungan ini. Aku menenun saat orang-orang tertidur pulas.

Ibuku memang berasal dari Kelantan, sementara namaku diambil dari nama kakekku yang berasal dari daerah padang pasir. Aku tidak cepat puas sehingga ketika aku sudah menginjak remaja, aku berani meminjam modal dan membuka kios kecil-kecilan. Usaha itu berkembang beberapa tahun setelahnya. Aku sangat bahagia ketika itu.”

Anak lelaki itu mendengarkan sambil memeluk lututnya. Matanya melihat senyum tipis di wajah Abu Haf yang dibayangi sinar matahari dari pantulan kanopi pertokoan. Abu Haf kembali melanjutkan cerita.

“Tidak semua bisa melakukan seperti yang aku lakukan. Tangan ini keajaiban. Aku memakai benang emas dan perak yang berkualitas tinggi sehingga seorang perempuan pemilik gudang benang jatuh hati kepadaku.”

“Siapa namanya?”

“Fatimah.”

“Hubungan kami baik-baik saja pada awalnya karena sebatas perdagangan, namun lama kelamaan aku terhanyut dan harus menikahinya karena sebuah kesalahan.”

“Aku tidak mengerti, Pak.”

Abu Haf terkikik. “Kau masih kecil. Lain kali saja aku ceritakan bagian itu. Sekarang aku butuh bantuanmu. Siapa namamu?”

“Malik. Aku hanya pedagang kerupuk. Dan kita senasib!”

Abu Haf menggeleng cepat dan mengelus dagunya. Ada ketidaksenangan dalam ucapannya bahwa ia tidak sama dengan anak lelaki itu. “Aku pedagang tenun. Kain-kain itu mahal, Malik. Dan itu beda dengan kerupukmu.” Jari-jemari Abu Haf menepuk-nepuk dadanya dari balik baju lusuh.

“Kalau kau punya kain, kau bisa jual benda itu dan tidak butuh bantuanku. Benar, kan?” Malik memandanginya.

Abu Haf terdiam. Rasa sadarnya muncul seketika. Ia menunjukkan raut wajah penuh iba. “Kau belum mendengarkan lanjutan kisahku. Aku mengalami masa-masa sulit ketika menikah dengan Fatimah. Aku lupa banyak hal dan kiosku terbakar dalam sekejap saja. Aku kehilangan mesin, benang, dan kain-kain. Hanya ini yang dapat kuselamatkan.”

“Innalillahi. Kasihan sekali engkau, Bapak.” Malik berdiri dan menunjuk ke seberang jalan. “Di sana ada masjid. Tadi pagi ada yang mengadakan acara dan banyak makanan. Bapak bisa minta jika lapar. Aku tidak bisa memberikan kerupuk ini, karena ini bukan hakku.”

“Benarkah? Ada makanan?”

“Tadi iya. Sekarang aku tidak yakin. Acaranya selesai satu setengah jam yang lalu. Bapak bisa salat di sana.”

“Tapi kakiku sakit. Lihatlah, sandalku tak bisa lagi dipakai. Aku ingin mencari pertolongan.”

“Pertolongan siapa?”

“Siapa saja. Aku ingin menemui sahabatku dan meminjam uang padanya.”

“Apa Bapak yakin ia akan meminjamkan?”

Abu Haf mendongak. Melihat Malik yang masih berdiri di bawah sinar matahari.

“Tidak akan ada yang menolongmu, Bapak. Tidak ada.”

Abu Haf mengabaikan perkataan Malik. Anak itu berlari-lari kecil ke seberang jalan dan menghilang saat Abu Haf berusaha mengejarnya.

***
Abu Haf sudah menjual semua kainnya pada seorang pedagang. Ia mendapat uang dua juta rupiah. Uang yang masih kurang untuk memulai usahanya yang baru. Kaki-kakinya masih dihinggapi lalat. Bekas luka itu menghitam dan Abu Haf berniat membeli sepatu untuk kakinya. Ia tertawa saat mengingat perkataan Malik. Baginya ia bisa melakukan apa saja. Ia bisa bekerja pada orang lain untuk sementara waktu dan mengumpulkan uang kembali untuk membeli alat penenun baru. Maka ia kembali menelusuri alamat yang tertera dalam kertas lusuhnya.

Ia menyewa tukang ojek yang akan membantunya mencari alamat. Dua jam mencari, ia belum juga mendapatkan hasil. Abu Haf malah mendapat kekesalan dari si tukang ojek dan ia ditinggal begitu saja di daerah yang sepi. Abu Haf marah dan mengumpat. Sepatu barunya terkena cipratan lumpur dan ia berusaha membersihkannya.

Saat ia terlihat begitu menyedihkan, ia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang ia cari. Sahabatnya itu kebetulan sekali lewat di sana dengan mobil dan Abu Haf beruntung dibawa ke rumah sahabatnya itu.

“Apa yang terjadi?” tanya sahabatnya.

“Aku bangkrut. Istriku meminta cerai. Bisakah aku meminta bantuanmu?”

Sahabatnya berpikir sejenak. “Jika kau pikir aku bisa membantumu, itu salah. Kau sudah salah menemui orang.”

“Salah? Kenapa? Apa yang terjadi padamu. Bukankah kau juga sukses dan kaya?”

“Tapi aku tidak mendapat tugas untuk membantumu,” jawab sahabatnya datar. Tentu saja penolakan ini membuat sekujur tubuh Abu Haf gemetar. Teringat ia akan kain-kain yang hangus terbakar, tangisan anak dan istrinya, sumpah serapah dari pembeli yang menuduhnya berbuat curang, lalu tentang kakinya yang sakit, tentang anak kecil bernama Malik dan tentang sahabatnya yang enggan sekali membantunya sedikit saja.

“Aku akan membuat kain-kain terbaik. Songket dan segalanya. Aku bisa. Aku bisa. Kau harus membantuku, teman,” melas Abu Haf.

“Aku buru-buru. Jika nanti kau berniat pergi, ada sedikit uang untuk menyewa tukang ojek,” jawab sahabatnya.

“Asu,” Abu Haf mengumpat. Tanpa pamit dan dengan perasaan terhina ia pergi dari rumah itu dan menuju tempat di mana ia harus menemukan Malik pertama kali.

“Tak akan ada yang menolongmu, Bapak. Juallah kain itu. Bapak jangan sombong. Bapak salah meminta. Jika Bapak punya uang kenapa butuh bantuanku?” kata-kata Malik terngiang dalam kepalanya. Ia tahu anak itu pasti berada di halaman masjid. Ia ingin menumpahkan kekesalannya saat itu juga. Ia terus mencari, hingga sadar sepatu barunya tertinggal di rumah sahabatnya tadi. Ia malah memakai sandal bututnya kembali dan uang yang ia pegang dalam saku bajunya raib. Entah dicuri oleh siapa.

“Bapak mencariku?” Malik muncul dengan tersenyum. Makin geramlah hati Abu Haf dan ia mengangkat tangannya ingin menempeleng. Seketika itu tangannya terasa kaku. Ia tertunduk lemas dan Abu Haf menangis sejadi-jadinya.

“Kau siapa, Nak?”

“Aku Malik. Penjual kerupuk keliling. Jika Bapak butuh sesuatu, salat saja dulu. Nanti kita cerita lagi. Jika Bapak perlu sesuatu, mintalah pada Allah terlebih dahulu.” Malik berkata dan kembali bercengkrama dengan teman sebayanya.

Terbayang oleh Abu Haf kain tenun yang ia jual dan tangannya yang terasa gatal. Abu Haf memandangi anak itu lagi sebelum ia berwudu dan masuk ke dalam masjid. Dan rasa-rasanya sudah berpuluh tahun ia tidak pernah meminta kepada Yang Maha Kuasa dan menuhankan kain tenunnya. ***

Pekanbaru, Juni 2015 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cikie Wahab
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" pada 19 Juli 2015

2 Responses to "Tenun Abu Haf "

Anonymous said...

Admin, sekarang Jawa Pos ada puisinya. Bakal tayang juga di sini, kah?

Kliping Sastra Nusantara said...

Akan kami usahakan.