Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (28) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (28) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:42 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (28)

KANJENG Sunan Kalijaga lagi-lagi memahami perasaan Maria Zaitun.

"Semakin manusia mengatasnamakan tindakannya demi Tuhan, semakin banyak terjadi kehancuran. Tuhan tidak memerlukan suaka dari manusia yang hanya makhluk ciptaan-Nya," ujar wlai pungkasan dari Wali Sanga itu.

"Sendhika, Kanjeng Sunan. Saya akan terus mencari kekasih pujaan hati. Di mana pun. Sampai kapan pun. Dengan konsekuensi seberat apa pun. Mohon pangestu-nya Kanjeng Sunan, semoga kelak kami dipertemukan oleh waktu, dan bisa abadi," Zaitun mengangguk taklim.

"Keabadian adalah sejenis omong-kosong, Ngger. Yang tidak abadi itulah keabadian. Silakan berjuang, Ngger, selamat jalan, restuku menyertai langkahmu."

"Terimakasih, Kanjeng Sunan. Sekali lagi mohon doanya, mudah-mudahan ekspetasi saya menjadi kenyataan, dan membawa kebahagiaan."

Kanjneg Sunan Kalijaga tersenyum. Lalu terdengarlah lantunan tembang Asmaradana.

           Nora suwe wong urip ini
           lelana ing alam donya
           tan rinasa pira lawase
           weruh-weruh sugih uwan
           nora suwe mesti sirna
           cilik gedhe cendhek dhuwur
           wekasan mesthi palastra
           sugih mlarat kabeh sami
           menang kalah nora beda
           yen wis titi wancine
           kabeh bali marang asal
           mula yen isih doyan sega
           aja nuruti hawa nepsu
           urip pisan sing sempurna

(Tidak lama manusia berkelana di dunia; tidak terasa berapa lama, tahu-tahu menjadi tua; kecil besar pendek tinggi, akhirnya tentu mati. Kaya miskin sama, menang kala tiada berbeda; kalau sudah waktunya semua kembali ke asal. Maka kalau masih suka nasi, jangan menurutkan hawa nafsu, hidup sekali yang sempurna)

"Orang yang tidak memburu kebahagiaan itulah sejatinya bahagia." Zaitun mendengar suara Kanjeng Sunan Kalijaga pelan, tapi begitu jelas seolah dibisikkan di telinganya. "Dan orang paling miskin itu adalah orang yang memiliki banyak keinginan."

Ya, bisik Zaitun sembari memandang angkasa di mana awan bergerak lamban seperti biri-biri putih. Ada persamaan antara awan itu dengan yang dikatakan Kanjeng Sunan. Tidak membutuhkan apa-apa, tidak kekurangan sesuatu. Itulah bahagia. Karena tidak mencari maka tidak pernah terluput. Karena tidak pernah memerlukan maka tidak kekurangan. Yang mengejar-ngejar bahagia hanyalah orang pandir. Dan Zaitun ingin seperti Gandhi, yang melaksanakan 'hidup di tingkat bawah, tapi pikiran di tingkat tinggi.'

Zaitun melangkah dengan sarat tekat. Ia akan berjuang, ya, berjuang maksimal untuk bisa bertemu sang kekasih. Berhasil atau gagal bagi Zaitun tidak penting. Yang lebih penting dari itu adalah sikap pencariannya. Di sini Zaitun tampak sebagai seorang militan, yang tidak memiliki kalkulasi praktis. "Mungkin yang terlalu praktis itulah kegilaan," kata seorang penyair yang diam-diam menyelinap menjumpai subuh. Entah untuk apa.

Berjuang dengan istiqomah bagi mimpinya, meski terasa mustahil, adalah kegilaan yang memberi nilai pada manusia. Dan Zaitun melakukan itu. 


***
PURNAMApenuh. Langit resik. Bintang berkerdipan seolah saling bercanda. Sudah ebrhari-hari, minggu berganti minggu, bulan ditelan tahun, Zaitun berkelana. Beda dengan keadaannya saat tersaruk-saruk menyusuri kemarau dengan tubuh dirajam sipilis dan digerogoti penyakit jantung, Zaitun pada usia setengah baya justru  tampil sehat. Mungkin karena setiap hari makan daging dan empedu ular di pulau Majeti, ditambah jamur, daun, serta akar-akaran berkhasiat. Barangkali pula pertemuannya secara ajaib dengan Kanjeng Ratu Kidul, juga perjumpaannya dengan Panembahan Senapati, Mahapatih Gajahmada, dan Kanjeng Sunan Kalijaga di Pertapaan Sukma Menep, maka Zaitun sehat lahir dan afiat batin. Ia berkelana tanpa arah sambil emndekap cengkok Wijaya-kusuma. Zaitun berhenti sesaat hanya jika perutnya lapar, dan ketika matanya sudah benar-benar mengantuk. Ia bisa makan dan tidur di mana saja. Sampai kemudian seolah ada yang menuntunnya, Zaitun kembali ke pantai Widarapayung, tempat ia pertama kali bertemu dengan sang kekasih berambut ikal pirang itu. Di pantai yang ngelangut Zaitun membuat pondok darurat. Ia merasa begitu damai. Ia leluasa melakukan yoga, terpekur, bermeditasi sambil mengenang semua peristiwa batin yang dialaminya.

"Anugrah kadang hadir melewati rute terjal yang tidak kita inginkan. Barokah datang tidak selalu diantar oleh para malaikat berpakaian putih diiringi musik merdu dan aroma dedes yang harum. Sebaliknya, keberuntungan bisa mendadak muncul pada situasi muram. Kita memang tidak pernah paham rencana Tuhan," bisik Zaitun.

"Ini yang seringkali tidak kita sadari. Membuat kita diombang-ambingkan oleh fakta yang sesungguhnya artifisial. Maka aku tidak boleh jerih melangkah, tidak ngumpet dari realitas."

Dan di malam bulan purnama itu, saat Zaitun sedang emlakukan yoga di pondoknya, tiba-tiba angin bertiup amat kerasnya sehingga terdengar suaranya melengking bersiuran. Sleuruh pohon di pantai itu diamuk, daun-daun beterbangan, bahkan ada pohon yang tercerabut berikut akar-akarnya. Pondok kecil tempat tinggal Zaitun sudah diterbangkan oleh angin, dibawa ke laut dan diseret-seret gelombang deras. Dari kejauhan tampak ombak sebesar gunung bergerak cepat menuju pantai. Kepalanya putih, badannya panjang seperti naga hitam. Kilat yang menyambar-nyambar seperti keluar dari mulut naga. Angin datang membawa air hujan, Zaitun berdiri dengan tubuh basah kuyup dan rambut awut-awutan.

Tak sedikit pun rasa takut emlihat gelombang dahsyat menghampiri. Zaitun malah merasa dielu-elukan, seperti dibuai dan dicumbu. Wajahnya berseri, makin bersinar parasnya dan kini Zaitun berdiri tegak menanti datangnya lidah ombak dengan penuh penyerahan, seperti menunggu kekasih yang hendak menjemputnya.

"Tidak ada satu pun manusia yang tulus mencintaiku. Semua hanya mencintai tubuhku dengan nafsu, bukan dengan cinta. Yang terjadi selama ini adalah seonggok daging berkelindan dengan seonggok daging. Dunia adalah seonggok kotoran kerbau, dan aku belatung yang merayap di atasnya. Tapi badai Laut Selatan mencintaiku. Mengapa tidak? Marilah badai, majulah. Ayolah kekasihku, jemputlah aku."

bersambung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 Juli 2015






0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (28)"