Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (29) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (29) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:26 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (29)

BAGAIKAN orang tidak waras, Zaitun menyambut ganasnya serbuan ombak buas. Kalau tadi ia duduk, lidah ombak menelannya dan kekuatan lidah ombak yang mencambuk itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi kini lidah ombak itu langsung menghantam tubuhnya yang berdiri. Terdengar suara lengking tawanya di antara gemuruh ombak. Bulan pun mendadak tertutup awanseperti ketakutan melihat brutalnya ombak. Suasana jadi remang menyeramkan, tapi tidak bagi Zaitun. Ia tetap berdiri, Tertawa-tawa. Menari-nari. Berguling-guling di pasir. Dan suatu ketika menungging, pantatnya menunjuk langit, hidungnya menyentuh pasir.

Anehknya, ketika gelombang laut surut Zaitun tidak hanyut. Ia duduk timpuh dengan mata terpejam. Mulutnya bergerak-gerak menyebut 10.000 nama sang kekasih dengan tiga suku kata. Apa yang nirmala, apalagi yang maha suci, tak dapat diringkas dengan satu sebutan karena tak termaknai, dan juga karena begitu karib, seperti rasa di hati yang tak bisa. diabstrakkan dengan sepatah kata. Kata adalah materi. Kata merupakan kombinasi suara dan fantasi, dan di dalamnya dibebani arti. Zaitun ingin membebaskan itu semua. Bagi Zaitun, tiga suku kata sudah mewakili ribuan kalimat dan memeiliki esensi kognitif.

"Engkaulah yang tak punya awal dan tak punya akhir. Engkaulah yang tak memiliki satu ambisi tapi bukan vanaprashta. Jalan dharma memang tidak mudah dipahami," bicik Zaitun.

"Di ragaku ini, di himpunan tulang, kulit otot, daging, darah lendir, air mata ini, adakah yang baik untuk menikmati hasrat? Dunia melapuk seperti tubuh ngengat. Pohon- pohon bertunas dan kemudian meranggas." Lalu Zaitun kembali menyebut nama kekasihnya. Tepat hitungan ke 10.000 Zaitun membuka mata, dan dadanya berdegup kencang. Malam telah bersalin pagi. Dan pagi sudah bersolek. Tampak tubuh membujur kaku persis di depannya. Tubuh  seorang lelaki berambut ikal pirang. Masih tampak bekas luka di telapak tangan, kaki, dan lambungnya. Tubuh seorang pesohor.

Tubuh kekasihnya.

Mungkin terbawa ombak semalam. Barangkali jatuh dari langit. Entahlah.

"Oh, kekasihku." Zaitun menubruk.

Menciumi wajah yang tampak begitu tennag. Wajah yang tanpa ekspresi. Wajah yang pias tapi membentuk senyum. Zaitun mendekatkan telinga ke dada yang bidang. Tidak terdengar detak. Lelaki pirang itu seperti dewa dari pualam, tidak bergeming.

Zaitun  teringat sesuatu. Wijaya Kusuma. Ya, bunga ajaib itu dipesankan oleh Kanjeng Ratu Kidul agar dioleskan ke tubuh sang kekasih, jika kelak ada jodoh untuk bertemu. Kembang yang semenjak dari Pulau Majeti tidak pernah terpisah dari tubuhnya. Kembang harapan.

"Kekasihku, oh kekasihku, bangunlah." Zaitun mengangkat cangkok Wijaya Kusuma itu tinggi-tinggi, kemudian mengoleskan ke tubuh kekasihnya dari atas ke bawah, tiga kali.

"Kekasihku!" Zaitun berteriak girang. Tubuh membeku kaku itu mulai bergerak. Sedikit demi sedikit. Dan, puji Tuhan, sang kekasih bangun dari rebahnya. Matanya menatap mesra. Mulutnya tersenyum lembut. Kedua tangannya dikembangkan.

"Ah. tidak. Jangan sentuh aku. Pangeranku. Akulah wanita paling hina," Zaitun mundur dengan wajah sedih. Air matanya bercucuran. Matanya merah sembab. Harapan telah berjabatan dengan kenyataan. Ia sudah bertemu dengan sang kekasih yang dirindukan siang malam. Namun, ia merasa rendah, kastanya jauh di titik nadir. Pengeran itu?!? Sang pesohor itu?!?

"Zaitun, engkau bukan wanita nista. Memang masa silammu kelam." Ketika jari-jari tangan lelaki berambut pirang keemasan itu dengan gerakan halus mesra menyentuh kedua pundaknya, Zaitun merasa seakan-akan ubun-ubun kepalanya disiram air embun. Menyusup masuk memenuhi hati dan perasaaan, meluap keluar melalui kedua matanya dan ia mengeluarkan suara setengan menjerit setengah merintih ketika memeluk pinggang sang kekasih dan membenamkan mukanya di dada pria yang selalu dicintanya dalam hati tanpa jeda.

"Tak sepantasnya engkau mengucap begitu, Zaitun." Lelaki itu memegang ujung dagu Zaitun dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mengangkat muka Zaitun sehingga menengadah. Mereka bertemu pandang, muka mereka saling mendekat sehingga napas hangat mereka terasa ke muka masing-masing. "Zaitun, bagiku engkau wanita santa. Bukan engkau yang meminta menjadi istriku, melainkan akulah kini yang meminangmu. Maria Zaitun, maukah engkau menjadi isteriku yang pertama dan terakhir?"

Wajah Zaitun yang tengadah itu pucat, dan rambutnya kusut, matanya dipejamkan akan tetapi air matanya terus berlinang keluar melalui sepasang pipi, bibirnya gemetar, menggigil setengah menangis, setengah tersenyum, hanya dapat tergerak perlahan mengangguk-angguk. Kedua tangan sang lelaki mendekap muka itu, pada leher di bawah telinga, memandang seperti orang memandang sebuah mustika yang amat berharga, kemudian seperti tanpa mereka sadari, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra, yang didorong oleh getaran dua buah hati yang saling berjumpa, setelah lama dan jauh berpisah. Ciuman ini membuat Zaitun seakan mendapatkan kembali sebuah keindahan yang sudah lama sirna sehingga keharuan memenuhi hatinya, menaikkan sedu sedan dari dalam dadake lehernya, menjadi satu dengan sedu sedan yang naik dari dalam dada kekasihnya.

Pagi yang sudah berdandan habis-habisan dengan pupur yang yanci tebal, mendadak tersaput mendung kelam. Paras riang pagi mendadak muram. Titik-titik air mulai menetes dari langit, menghapus lipstik pagi, membusak maskara pagi, memorakporandakan dandanannya. Dan laut yang tenang mulai bergelombang.

"Ah, pangeranku, betapa aku tidak pernah sedetik pun berhenti menyintaimu seperti detak jantungku. Tapi hubungan ini jangan berlanjut. Tetaplah berjarak, agar Kau tegak, dan aku nganga dalam rindu." Zaitun menyentak lepas dari dekapan kekasihnya. Kemudian tertatih-tatih menuju tepi laut, dan seketika itu tubuhnya ditelan ombak yang bergulung-gulung membawanya ke tengah samudra. Tubuh Zaitun timbul tenggelam, hanya kadang tampak tangannya melambai.

Bagaimana pun lelaki pesohor itu tetaplah manusia  dari darah dan daging. Ia tidak dapat membebaskan diri dari perasaan dan nafsu. Apalagi terjun dalam lautan asmara dengan wanita seperti Zaitun, yang begitu menggelora dan menyeretnya jauh ke dasar palung.

"Zaitun..." Lelaki berambut ikal pirang keemasan itu berlari menyusul. Tapi langkahnya terhenti, Di hadapannya gelombang putih kehitaman seolah menghadang, memamerkan wajah buasnya.

"Oh, Kyrie Eleison," serunya di tengah gemuruh ombak. 

TAMAT

❑ Paranggupita, 19 Januari 2015 (c)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 24 Juli 2015

0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (29) "